NAGA SASRA DAN SABUK INTEN 380


ULING PUTIH menarik kaki kanannya, kemudian memutar tubuhnya dan menghantam lengan lawannya itu dengan kedua belah tangannya. Arya Salaka masih belum dapat menguasai geraknya sendiri sebaik-baiknya. Sebab sejak ia bertemu dengan laki-laki aneh yang berjubah abu-abu serta menidurkannya di dalam semak-semak, ia belum pernah mencoba tenaganya. Ini adalah yang pertama kalinya ia dapat melihat akibat dari kejadian malam yang mendebarkan itu. Karena itu ia tidak dapat menghindarkan diri dari benturan yang terjadi. Benturan antara lengannya dengan kedua tangan Uling Putih.

Akibatnya diluar dugaan Uling Putih dan Arya Salaka sendiri. Uling Putih yang pada dasarnya memandang rendah kepada lawannya, sengaja tidak mengerahkan segenap kekuatannya. Sebab ia mengira bahwa sebagian tenaganya saja ia akan mampu mematahkan lengan anak yang dianggapnya terlalu sombong itu.

Tetapi yang terjadi sama sekali tidaklah demikian. Tenaga tangan Arya ternyata besar sekali, sehingga Uling Putih terdorong surut beberapa langkah, sedang Arya sendiri tetap tidak bergeser dari tempatnya.

Mengalami peristiwa itu, dada Uling Putih seolah-olah menyala karena hatinya yang panas. Disamping perasaan heran yang tak habis-habisnya terhadap kekuatan tenaga anak yang dianggapnya tidak lebih dari seekor kelinci yang lemah itu, juga menggelora di dalam dadanya suatu perasaan malu, marah, dendam dan nafsu bercampur baur. Karena itu, maka segera ia mengerahkan segenap perhatiannya untuk satu tujuan, membunuh dan menyayat-nyayat putera kepala daerah Perdikan Banyubiru itu.

Demikianlah dengan garangnya ia menyerang kembali. Serangan yang datang menggelombang dengan dahsyatnya. Arya Salaka pun kemudian melayaninya dengan tangguhnya. Ia telah mewarisi hampir segenap jenis unsur-unsur gerak dari perguruan Pengging, ditambah dengan tata nadinya yang telah disempurnakan. Dengan demikian anak muda itu seolah-olah dapat bertempur seperti burung elang di udara, menyambar-nyambar dengan garangnya. Tetapi kemudian ia mampu pula bertempur laksana banteng yang tangguh kukuh, tenang dan meyakinkan.

Uling Kuning dan Endang Widuri berdiri terpaku menyaksikan pertempuran itu. Pertempuran yang berjalan dengan sengitnya. Yang sekali waktu berjalan cepat, tetapi kemudian menjadi lambat, namun penuh dengan ketegangan yang mendebarkan.

Uling Kuning, yang mula-mula menjadi sangat gembira ketika kakaknya bermaksud untuk membunuh Arya Salaka dengan tangannya sendiri, karena dengan demikian ia dapat berbuat leluasa atas gadis cantik itu, kemudian terpaksa mengikuti pertempuran itu dengan seksama. Bahkan kadang-kadang timbullah kecemasan di hatinya. Sebab kadang-kadang ia melihat serangan Arya Salaka seperti air yang mengalir dengan derasnya, melanda setiap usaha yang akan merintanginya.

Untunglah bahwa Uling Putih adalah seorang yang penuh dengan pengalaman bertempur. Dalam keadaan-keadaan yang sulit, ia masih mampu untuk membebaskan dirinya. Namun dengan demikian anggapannya terhadap Arya Salaka telah berubah. Ia kemudian menganggap anak muda itu seorang lawan yang berbahaya tak henti-hentinya, yang rasa-rasanya datang dari segenap penjuru.

Dalam keadaan yang demikian Uling Putih harus memeras keringatnya untuk dapat mencapai titik keseimbangan. Namun agaknya anak muda itu benar-benar luar biasa. Meskipun Uling Putih telah berusaha membentengi tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang cepat dan berubah-ubah, tetapi ia tidak bisa menutup mata, atas suatu kenyataan bahwa dadanya menjadi semakin sesak oleh pukulan-pukulan Arya Salaka, yang meluncur seperti tatit menyambar tanpa dapat dihindari. Bahkan beberapa kali, ia tidak dapat berhasil membebaskan diri seluruhnya atas serangan-serangan kaki lawannya yang masih sangat muda itu.

Meskipun Uling Kuning melihat kenyataan itu, namun ia terlalu mengagumi kakaknya, seperti ia mengagumi dirinya sendiri yang seolah-olah tak seorangpun dari angkatan sebayanya, apalagi anak-anak seperti Arya Salaka, akan mampu mengalahkannya. Karena itu, ia tidak mengalami sendiri tekanan-tekanan maut yang mendesing-desing di telinga, ia tidak sedemikian mencemaskan keadaan Uling Putih. Bahkan tiba-tiba ia teringat kepada kepentingannya sendiri. Kepada gadis yang berdiri tak seberapa jauh darinya.

Dengan sudut matanya sekali lagi ia memandang Endang Widuri yang masih asik melihat pertempuran antara Arya Salaka dan Uling Putih. Dan sekali lagi dada Uling Kuning itu bergetar. Kalau saja ia nanti berhasil membawa anak itu ke Rawa Pening, pasti akan merupakan barang yang sangat berharga di daerah yang tersekat dari pergaulan. Berbeda dengan daerah Nusakambangan, pusat kerajaan Ular Laut yang tampan, dimana terdapat berpuluh-puluh gadis korbannya yang disimpan di sana. Berbeda pula dengan cara hidup Sima Rodra muda dari Gunung Tidar. Yang seolah-olah telah kehilangan tingkat tata pergaulan hidup manusia yang wajar, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan mengalami suatu penghidupan yang buas dalam segala segi-seginya.

Karena itu maka kemudian perlahan-lahan perhatiannya berkisar dari titik pertempuran kepada Endang Widuri. Bahkan kemudian iapun menggeser kakinya setapak demi setapak ke arah gadis itu. Ia ingin menangkapnya di tempat itu pula. Dengan demikian, kecuali ia akan mendapat sesuatu yang dianggapnya permainan yang menyenangkan, sekaligus ia dapat mempengaruhi perhatian Arya Salaka.

Dengan demikian secara tidak langsung ia sudah membantu kakaknya. Sebab sedikit saja Arya Salaka lengah, maka kakaknya pasti akan dapat mempergunakan kesempatan itu sebaik – baiknya.

Ketika ia sudah mendapat keputusan bulat atas rencananya itu. Uling Kuning tersenyum-senyum sendiri. Ia memastikan bahwa rencana itu akan berhasil. Menangkap Endang Widuri dan sekaligus menyebabkan Arya Salaka binasa.

Sementara itu, pertempuran berjalan semakin sengit. Arya Salaka terpaksa mengakui ketangguhan lawannya. Tahulah ia sekarang, mengapa ayahnya dahulu tidak tergesa-gesa bertindak terhadap kedua orang yang berbahaya itu. Pada waktu itu pasti ayahnya sedang mempersiapkan segala kemungkinan serta perhitungan-perhitungan yang masak.

Iklan

NAGA SASRA DAN SABUK INTEN 379


ARYA SALAKA sama sekali tidak mempedulikan ancaman itu, jawabnya, “Sebaiknya kau kembali saja ke Rawa Pening. Lebih baik kau menghadap Paman Lembu Sora dan minta menjadi pekatiknya. Kau akan mendapat jaminan seumur hidupmu. Kau tidak akan kelaparan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Uling Kuning sambil melangkah maju. Ternyata darahnya agak lebih panas dari kakaknya. “Berlututlah dan minta ampun, supaya kau tidak mengalami siksaanku.”

Arya menatap mata Uling Kuning itu dengan penuh kebencian. Dengan dada menengadah ia menjawab, “Maaf Uling Kuning, aku tidak bisa berjongkok dan minta ampun. Kalau kau telah biasa melakukan itu kau sajalah yang berjongkok dan minta ampun.”

Darah Uling Kuning maupun Uling Putih menjadi mendidih karenanya. Tetapi pada saat Uling Kuning hampir saja lupa diri dan meloncat menyerang, tiba-tiba terpandanglah olehnya Endang Widuri. Karena itu tiba-tiba ia mengurungkan serangannya. Bahkan kemudian ia menoleh kepada Uling Putih sambil berkata, “Apakah yang harus kita lakukan terhadap anak yang telah menghina kebesaran nama Sepasang Uling dari Rawa Pening ini Kakang?”

Uling Putih yang telah marah itu menjawab, “Menyingkirlah, biar aku sayat kulit mukanya, dan akan aku biarkan ia hidup sampai matahari terbit esok.”

Ancaman itu sungguh mengerikan. Suatu siksaan yang tiada taranya. Namun Arya Salaka sama sekali tidak gentar. Ia masih berdiri dengan dada menengadah menghadapi setiap kemungkinan. Juga kemungkinan untuk disayat kulit wajahnya, dan dibiarkan hidup sampai besok. Dalam pada itu Uling Kuning tersenyum di dalam hati. Memang sebenarnya ia ingin menyerahkan Arya Salaka kepada kakaknya. Sebab ia lebih tertarik untuk menangkap gadis yang menjelang dewasa yang datang kepadanya seolah-olah hadiah dari langit. Meskipun demikian ia masih berpura-pura berkata, “Adakah Kakang perlu menanganinya sendiri?”

Uling Putih menjawab, “Biar puas hatiku, jangan kau ikut campur.”

Uling Kuning mundur selangkah. Matanya dengan liar merambat ke segenap bagian tubuh Endang Widuri. Tubuh yang tepat pada usia kemekaran menjelang masa remaja. Sementara itu Uling Putih telah siap. Dengan wajah yang mengerikan ia melangkah maju. Selangkah demi selangkah. Tangannya yang panjang telah siap sepenuhnya untuk merobek-robek kulit Arya Salaka.

Arya Salaka pun segera mempersiapkan dirinya. Ia harus melawan Uling itu mati-matian. Sebab ia tahu betul, bahwa sepasang Uling Rawa Pening adalah orang-orang yang hampir seluruh hidupnya diwarnai oleh noda-noda yang hitam kelam. Karena itu, Arya Salaka berpendapat bahwa ia harus mencoba untuk dapat memusnahkannya. Tetapi ia masih belum dapat mengukur, apakah ilmu yang selama ini dipelajarinya akan cukup mampu untuk melawan Uling Putih itu.

Namun dalam pada itu, yang tergores didalam hatinya, adalah perbuatan yang sebaik-baiknya sebagai suatu pernyataan kebaktian yang tulus kepada sesama. Tetapi yang masih sedikit mengganggu pikirannya adalah Endang Widuri. Ia melihat suatu tanda-tanda yang mencemaskan pada Uling Kuning. Ia melihat bagaimana cara Uling Kuning itu memandang Endang Widuri. Karena itu maka mau tidak mau ia merasa bertanggungjawab pula atas keselamatan gadis itu.

Uling Putih kini sudah dekat berdiri di depannya. Giginya gemeretak didalam mulutnya yang terkatub rapat. Tetapi sesaat kemudian terdengar ia menggeram, “Tidak sia-sia aku berdua tinggal untuk beberapa hari di sini. Sekarang aku akan puas menghisap darahmu.”

Arya Salaka tidak menjawab. Tetapi ia menarik kaki kirinya setengah langkah surut. Bersamaan dengan itu, Uling Putih meloncat dengan garangnya menyerang dada Arya Salaka. Cepat Arya Salaka menekuk lutut sambil membungkukkan tubuhnya. Sementara itu tangannya menyambar lambung lawannya dengan gerak yang mendatar.

Dalam pada itu Arya Salaka menjadi terkejut sendiri dengan gerakannya. Sebab tiba-tiba ia merasa seolah-olah ada tenaga kuat yang mendorong dari dalam. Tenaga yang selama ini seolah-olah tersembunyi. Bahkan dalam gerakannya itu, terasa benar bahwa segala sesuatu didalam tubuhnya telah berubah. Mungkin itulah yang dimaksud dengan penyempurnaan tata nadi yang dilakukan oleh orang berjubah abu-abu. Dan dengan demikian geraknya menjadi cepat dan kuat.

Uling Putih terkejut melihat kecepatan gerak anak itu. Bahkan ia terkejut pula ketika melihat tangan lawannya menyambar lambung. Karena ia sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka iapun kurang mempersiapkan dirinya. Ia mengira bahwa anak itu hanya dapat berloncat-loncatan sedikit.

Ia tidak tahu bahwa Arya Salaka dalam perkelahian seorang lawan seorang telah dapat mengalahkan Sawung Sariti. Sebab Sawung Sariti sendiri selalu mengatakan bahwa ia harus bertempur menghadapi beberapa orang yang datang membantu Arya Salaka. Dengan demikian Uling Putih itu tidak sempat berbuat lain daripada membentur tangan Arya Salaka.

NAGA SASRA DAN SABUK INTEN 378


ARYA SALAKA memandang kedua orang itu dengan seksama. Ia sudah pasti bahwa hal yang tak diinginkan akan terjadi. Maka dengan tidak melepaskan pandangannya kepada sepasang Uling itu ia menjawab, “Selamat bertemu sahabat. Adakah kau akan menyampaikan kabar tentang daerahku…?”

Terdengar Uling Putih tertawa berderai. “Ya… ya… Tuan muda. Aku membawa kabar untuk Tuan. Ketahuilah bahwa di daerah Tuan kini terjadi malapetaka yang hebat. Adik Tuan, Sawung Sariti dengan leluasa dapat membunuh setiap orang yang dikehendaki. Bahkan akhirnya Tuan sendiri. Sesudah itu, tahukah Tuan apa yang akan terjadi…? Banyubiru akan sepenuhnya jatuh ke tangan Sawung Sariti. Tetapi itu bukanlah peristiwa yang terakhir yang terjadi atas daerah Tuan itu. Sebab akhirnya Sawung Sariti, maupun ayahnya Ki Ageng Lembu Sora itu akan mati juga. Kau ingin tahu siapakah yang akan membunuhnya…?”

Uling Putih berhenti sejenak, seolah-olah ia menunggu kata-katanya itu meresap ke dalam dada Arya Salaka. Kemudian ia meneruskan, “Yang membunuh mereka beserta para pengikutnya adalah aku dan adikku. Uling Kuning.”

Seterusnya kembali terdengar suara tertawa sepasang Uling yang mengerikan itu.
Dada Arya Salaka terguncang oleh kata-kata itu. Namun ia tidak ingin segera bertindak, sebab ia tahu betapa perkasanya kedua Uling itu.
Sesaat kemudian terdengar Uling itu berkata lagi, “Tetapi Tuan muda, aku sudah terlalu lama menunggu. Sawung Sariti tidak juga berhasil membunuh Tuan. Nah sekarang aku akan menolong mempercepat rencana itu, supaya aku lebih cepat menguasai daerah Banyubiru itu sebagai kepala daerah perdikan yang dihormati, tidak sebagai sepasang perampok seperti sekarang itu.”

Jantung Arya Salaka terasa seperti diguncang-guncang mendengar kata-kata Uling Putih itu. Karena itu dengan suara gemetar karena marah ia menjawab, “Sepasang Uling yang perkasa… aku adalah ahli waris yang sah atas daerah itu. Dengan demikian aku tidak harus menuntut atas hak saja, tetapi aku harus bertanggungjawab pula atas daerah itu dengan menunaikan kewajiban-kewajibanku sebaik-baiknya. Salah satu dari kewajibanku adalah menyelamatkan daerah Banyubiru.”

Mendengar jawaban Arya Salaka, Uling Kuning tertawa keras-keras. Katanya, “Tuan adalah seorang yang mengagumkan. Seorang yang sudah terusir dari kedudukannya, namun masih merasa bertanggungjawab. Tetapi Tuan tidak usah menunggu lama. Sebab sebentar lagi Tuan harus sudah benar-benar melupakan impian Tuan untuk kembali ke Banyubiru. Sesudah itu, jalan yang akan kami lalui menjadi bertambah lapang. Apalagi sepeninggal Kakang Sima Rodra suami istri, maka jalan ke Pamingit telah terbuka pula.”

Kemudian terdengar Uling Putih menyambung, “Apalagi dengan kedua keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Jangankan Banyubiru dan Pamingit. Bahkan Demak pun akan dapat kami gulung.”

“Impian yang indah,” sahut Arya Salaka, “Tetapi kau lupa bahwa di Banyubiru ada Eyang Sora Dipayana. Seandainya kau dapat membunuh aku dan kemudian Adi Sawung Sariti, bahkan Paman Lembu Sora sekalipun, apa yang akan dapat kau lakukan atas Eyang Sora Dipayana itu?”

Kembali terdengar Uling Putih tertawa. Jawabnya, “Adakah kau mengira bahwa umur kakekmu itu akan dapat mencapai puluhan tahun lagi? Kalau semuanya sudah dapat aku bereskan, maka orang tua itu pasti akan mati kesedihan dan putus asa. Kalau tidak, seandainya orang tua itu tidak takut melihat kenyataan hari depannya yang patah, maka akupun dapat mempertemukannya dengan orang sebayanya, yang datang ke Rawa Pening, khusus untuk keperluan itu.”

“Gurumu…?” tanya Arya Salaka.

Kedua Uling itu mengangguk bersama-sama. Jawab Uling Putih, “Ya, guruku Sura Sarunggi.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Agaknya Uling Rawa Pening itu telah benar-benar menyusun kekuatan untuk dapat sampai kekedudukan yang diinginkan.

Dalam pada itu ia sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada menghadapi sepasang Uling itu dengan kekerasan. Seperti juga Widuri yang selama ini berdiam diri mendengarkan percakapannya dengan sepasang Uling itu, maka iapun harus memperhitungkan kekuatan diri. Untunglah bahwa Widuri telah memiliki bekal untuk membela dirinya sendiri.

Namun sekarang bagaimanakah imbangan kekuatan dari mereka berdua dengan kekuatan Uling itu sepasang…?

“Tuan muda…” tiba-tiba Uling Kuning masih meneruskan, “Sepeninggal Tuan jangan Tuan cemaskan gadis Tuan itu. Meskipun kami sudah tidak semuda Tuan, namun kami akan berusaha untuk memeliharanya baik-baik.”

Widuri menjadi muak mendengar perkataan itu. Apalagi ketika kemudian disusul dengan suara tertawa mereka yang mirip ringkik kuda yang sudah hampir gila. Namun Widuri masih dapat menahan dirinya ia menyerahkan segenap persoalan kepada Arya Salaka.

Namun Arya Salaka pun menjadi marah mendengar perkataan-perkataan yang menyakitkan hati itu. Maka dengan lantang iapun menjawab, “Sepasang Uling yang baik. Terima kasih atas berita yang telah kau sampaikan kepadaku. Dan terima kasih pula atas perhatianmu terhadap diriku sehingga untuk seorang anak-anak, kau berdua telah memberikan waktu yang cukup banyak serta tenaga yang besar sekali. Dengan demikian aku merasa mendapat kehormatan dari sepasang orang perkasa. Meskipun demikian sebaiknya kau mempertimbangkan sekali lagi, apakah kau ingin meneruskan rencanamu itu, ataukah lebih baik kau tetap menjadi perampok kecil-kecilan yang bersarang di Rawa Pening.”

Sepasang Uling itu terkejut mendengar jawaban Arya Salaka. Sindiran itu sudah jelas bagi mereka, bahwa Arya Salaka sama sekali tidak gentar menghadapinya. Meskipun mereka telah memperhitungkan bahwa anak itu pasti tidak akan menyerahkan lehernya begitu saja, namun mereka sama sekali tidak menduga bahwa anak itu berani merendahkannya. Karena itu dengan suara yang keras parau Uling Putih menjawab, “Hati-hatilah kau berbicara anak muda. Supaya aku tidak membiarkan kau menderita pada saat ajalmu datang.”