SAMBIL menundukkan kepala serta langkah yang lemah, penduduk Pangrantunan mulai satu demi satu bergerak meninggalkan halaman rumah petani tua yang sama sekali tak diketahuinya, bahwa beliaulah Ki Ageng Sora Dipayana.

 

 

Dalam kepala mereka berkecamuklah seribu macam masalah. Tetapi satu hal yang telah menyusup di dalam hati mereka tanpa mereka sadari. Sejak saat itu mereka bertekad untuk mempertahankan tanah tercinta ini dari segala macam penindasan dan pemerasan. Kalau perlu akan mereka pertaruhkan darah dan nyawa.

 

 

Ketika tidak ada lagi seorang pun di halaman petani miskin itu, segera Mahesa Jenar menundukkan kepalanya kepada Ki Ageng Sora Dipayana sambil berkata, “Tuan…, maafkanlah aku yang sama sekali tidak tahu bahwa Tuanlah yang terkenal dengan sebutan Ki Ageng Sora Dipayana.”

 

 

Orang tua itu tersenyum.

 

 

“Tak apalah. Kalau sampai engkau tidak mengenal, maka berbanggalah aku. Sebab dengan demikian aku merasa bahwa permainanku dapat berhasil,” jawab orang tua itu.

 

 

Kembali Mahesa Jenar menghormat.

 

 

“Dengan ini atas nama perguruanku aku menyampaikan hormat,” kata Mahesa Jenar.

 

 

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk lemah.

 

 

“Rupanya kau adalah satu-satunya waris dari gurumu,” kata Ki Ageng Sora Dipayana.

 

 

“Benar Tuan, aku tinggal satu-satunya waris yang harus menjunjung nama perguruanku. Tetapi kemampuanku sangatlah terbatas, sehingga aku sangat cemas bahwa tugas itu tak akan berhasil,” jawab Mahesa Jenar.

 

 

Ki Ageng Sora Dipayana tertawa lirih.

 

 

“Aku tadi ternyata salah tebak. Ketika aku melihat orang tua dari Gunung Kidul yang malahan terkenal dari Wanasaba tadi, aku mengira bahwa kau adalah muridnya. Tetapi ketika aku melihat kau melangkah, barulah aku tahu bahwa kau adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh,” sahut Sora Dipayana.

 

 

Benar Ki Ageng, aku adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh, jawab Mahesa Jenar lagi.

 

 

Siapakah namamu? tanya Ki Ageng kemudian.

 

 

Mahesa Jenar Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar.

 

 

Lalu adakah kau mendapat tugas dari perguruanmu sehingga kau sampai ke daerah Pangrantunan ini?

 

 

Mendengar pertanyaan Ki Ageng Sora Dipayana, Mahesa Jenar jadi bimbang. Haruskah ia menyatakan tujuan sebenarnya, ataukah tidak? Dalam kebimbangan hati, Mahesa Jenar tidak segera dapat menjawab sehingga dalam beberapa saat ia berdiri kebingungan. Ki Ageng Sora Dipayana ternyata memang orang yang bijaksana. Karena itu segera ia menyambung, Mungkin kau mendapat tugas rahasia dari seseorang. Nah, kalau begitu baiklah aku bertanya soal lain saja.

 

 

Tidak, Ki Ageng… tidak…, potong Mahesa Jenar tergagap.

 

 

Ki Ageng Sora Dipayana tertawa perlahan. Kemudian ia bertanya, Kaukah satu-satunya Ki Ageng Pengging, yang masih ada? Gurumu almarhum adalah sahabat dekatku. Jadi jangan kau menaruh prasangka apapun kepadaku. Nah, tinggallah untuk sementara bersama aku di Pangrantunan.

 

 

Terima kasih Ki Ageng, terpaksa aku dengan menyesal tak dapat memenuhi, sebab aku masih harus meneruskan perjalanan, jawab Mahesa Jenar.

Begitu tergesa-gesa? potong Ki Ageng.

Benar Ki Ageng.

 

 

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Keningnya tampak berkerut, dan tiba-tiba terloncat kata dari mulutnya, Ke Gunung Tidar?

 

 

Pertanyaan ini rupanya mengejutkan Mahesa Jenar, sehingga ia kebingungan, sampai Ki Ageng Sora Dipayana meneruskan, Bagus, pergilah ke sana. Barangkali ada perlunya. Aku menduga bahwa kau tidak akan menderita sesuatu kalau kau cukup hati-hati. Bukankah Ki Ageng Pengging Sepuh terkenal dengan Sasra Birawa-nya? Aku kira kau telah memiliki itu pula.

 

 

Mahesa Jenar tak dapat berbuat lain kecuali mengiakan semua kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana, meskipun ia sendiri tak habis heran, kenapa orang tua itu dapat menebak maksudnya dengan tepat.

 

 

Meskipun demikian…, sambung orang tua itu, kau harus tetap waspada. Sebab penghuni Gunung Tidar bukan pula orang yang patut direndahkan. Dan jagalah bahwa kau dapat langsung mendekati tempat tinggal Sima Rodra.

Usahakan untuk tidak diketahui oleh para penjaga-penjaganya. Sebab bagaimanapun, jumlah yang banyak akan turut serta menentukan keseimbangan pertempuran. Apalagi disamping Sima Rodra sendiri masih ada beberapa orang yang termasuk orang-orang yang berilmu.

 

 

Kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana itu bagi Mahesa Jenar merupakan petunjuk yang sangat berharga. Maka dengan perasaan yang gembira ia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

 

 

Kau pernah ke Gunung itu? tanya Ki Ageng Sora Dipayana kemudian.

Belum Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar. Tetapi aku pernah lewat desa Gelangan di dekat Gunung itu.

Desa yang berbentuk gelang serta di tengah-tengahnya ada danaunya? tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

 

 

Benar Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s