KI AGENG Sora Dipayana kemudian menyarankan Mahesa Jenar agar mengambil jalan ke arah desa itu. Sebab kau akan terlalu banyak membuang waktu. Sebaiknya kau mengambil jalan yang biasa dilalui oleh gerombolan itu, melewati hutan bagian selatan. Kau tidak perlu lagi mencari-cari jalan, sebab daerah itu sering dilewati oleh anak buah Sima Rodra sehingga seakan-akan telah menjadi sebuah jalan raya. Sedang kalau kau bertemu dengan satu-dua orang dari mereka maka hal itu bukanlah hal yang perlu diributkan. Kau dapat dengan mudah menyembunyikan diri, atau dengan semudah itu pula membinasakan mereka, kata Ki Ageng.

 

 

Mahesa Jenar mendengarkan semua nasihat itu dengan saksama. Memang pekerjaan yang akan dilakukan bukanlah pekerjaan yang gampang. Dengan petunjuk-petunjuk yang diterima dari Ki Ageng Sora Dipayana, semakin teranglah jalan yang akan ditempuhnya.

 

 

Nah Mahesa Jenar, kata Ki Ageng Sora Dipayana akhirnya, memang sebaiknya kau tidak banyak membuang waktu. Kau dapat segera berangkat sekarang juga. Kalau tidak ada halangan, besok malam kau sudah akan sampai ke pusar pulau Jawa itu. Ingatlah, hindari pertemuan dengan para pengawal gunung. Pergilah langsung ke lambung utara. Di sana terletak sebuah goa tempat tinggal suami-istri Sima Rodra itu. Sedang untuk mendekati bukit itu ambillah jalan sebelah selatan, ambillah waktu ketika matahari telah terbenam.

 

 

Sekali lagi Mahesa Jenar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Dan sesudah itu ia mohon diri untuk segera melanjutkan perjalanannya ke Gunung Tidar. Ia sudah memutuskan untuk mengikuti segala petunjuk yang diberikan oleh Ki Ageng Sora Dipayana.

 

 

Tetapi satu hal yang sama sekali tak diduganya, adalah bahwa dengan memberikan segala petunjuk itu, Ki Ageng Sora Dipayana telah membuat suatu rencana. Rencana yang hanya diketahui oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu sendiri. Karena itu ketika ia melihat Mahesa Jenar dengan langkah yang tetap berjalan menurut petunjuknya, tampaklah orang tua itu tersenyum sambil bergumam, Mudah-mudahan rencanaku berhasil. Bukankah dengan demikian aku telah membuat suatu jasa pada mereka…

 

 

Sementara itu Mahesa Jenar berjalan dengan langkah yang cepat. Ia mengharap bahwa besok malam ia sudah dapat sampai ke tempat tinggal Sima Rodra. Menilik rencana pertemuan dari golongan hitam, dimana Sima Rodra akan ikut serta, maka dapatlah dibayangkan bahwa setidak-tidaknya Sima Rodra sendiri atau berdua dengan istrinya, pasti mempunyai tingkat kepandaian sama dengan Lawa Ijo.

 

Ditambah lagi mereka ternyata memiliki pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Karena itu, ia harus berhati-hati dalam tiap tindakannya untuk mendapatkan kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

 

 

Ketika itu, ketika ia telah agak jauh meninggalkan desa Pangrantunan, matahari telah condong ke barat. Angin yang bertiup agak kencang dari hutan terasa betapa silirnya. Meskipun demikian panas yang dipantulkan oleh debu-debu di jalan terasa seperti menyengat-nyengat kaki. Karena itu Mahesa Jenar semakin mempercepat langkahnya. Sekali-kali ia meloncat-loncat di atas rumput yang tumbuh di tepi-tepi jalan.

 

 

Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah meninggalkan daerah-daerah persawahan Pangrantunan. Ia mulai memasuki daerah-daerah padang ilalang dan hutan-hutan kecil untuk segera sampai ke induk hutan yang memagari tanah perdikan Pangrantunan.

 

 

Tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berjalan cepat-cepat itu mendengar suara ringkik kuda. Segera ia menghentikan langkahnya serta bersiap-siap, kalau-kalau suara ringkik kuda itu berasal dari gerombolan Sima Rodra. Tetapi sampai beberapa saat ia sama sekali tidak mendengar langkahnya. Karena itu Mahesa Jenar menduga bahwa kuda itu pastilah berhenti.

 

 

Perlahan-lahan Mahesa Jenar menyusup batang-batang ilalang, mendekati arah suara ringkikan kuda itu. Setelah beberapa langkah, benar-benar Mahesa Jenar melihat kuda lengkap dengan pelananya, tetapi tidak ada penunggangnya. Maka timbullah kecurigaannya. Tiba-tiba ia menjadi sangat terkejut ketika dilihatnya di samping kuda itu, menggeletak sesosok tubuh yang rupa-rupanya sudah tidak bernyawa lagi.

 

 

Perlahan-lahan dan hati-hati ia merunduk mendekati mayat itu. Ternyata bahwa mayat itu adalah mayat seorang laki-laki yang gagah. Di tangannya masih tergenggam sebatang tombak pendek. Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati daerah di sekitar mayat itu, sama sekali tidak terdapat bekas-bekas telapak, baik telapak kuda maupun telapak kaki manusia yang lain kecuali telapak kuda yang seekor itu.

 

 

Ketika Mahesa Jenar sudah yakin bahwa di sekitar tempat itu sama sekali tidak ada bahaya, maka mulailah ia mengamat-amati mayat orang gagah itu dengan saksama.

 

Wajah mayat itu tampak biru kemerah-merahan, hampir di seluruh permukaan kulitnya tampak noda-noda biru kemerah-merahan. Melihat tanda-tanda itu segera Mahesa Jenar dapat menerka bahwa orang itu pasti meninggal karena racun.

 

 

Sampai beberapa lama Mahesa Jenar mencari, masih belum dapat ditemukan luka yang menyebabkan kematian orang itu. Baru ketika mayat itu ditelungkupkan, tampaklah sebuah jarum sumpit yang masih menancap di punggungnya. Maka tahulah Mahesa Jenar bahwa orang itu telah diserang dari belakang. Atau kemungkinan lain orang itu dikenai sumpit pada waktu ia sedang melarikan diri.

 

 

Lebih heran lagi Mahesa Jenar ketika melihat pada ikat pinggang orang itu, yang lebarnya hampir selebar telapak tangan, dan dibuat dari kulit kerbau, tampaklah sebuah pahatan yang mirip dengan dua ekor ular yang saling membelit. Mula-mula Mahesa Jenar agak bingung menafsirkan gambar itu, tetapi akhirnya berdesirlah jantungnya. Ini pastilah gambar dua ekor uling. Kalau demikian maka orang ini pasti termasuk salah seorang anggota gerombolan yang dikenal dengan nama pimpinannya, sepasang uling dari Rawa Pening.

 

 

Tetapi kenapa ia sampai kemari, juga siapa yang membunuhnya, merupakan suatu teka-teki bagi Mahesa Jenar. Yang terang baginya adalah, bahwa orang itu belum terlalu lama meninggal. Mungkin pagi tadi, atau malahan sesudah hampir tengah hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s