BELUM lagi Mahesa Jenar selesai meneliti tubuh mayat itu, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor kuda. Cepat-cepat Mahesa Jenar memperhatikan arahnya, lalu dengan cepat sekali ia meloncat ke gerumbul yang terdekat. Ia harus berusaha untuk bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah yang datang. Beberapa saat kemudian derap kuda itu sudah dekat benar, dan segera muncullah dari dalam hutan beberapa orang berkuda. Rupanya mereka sedang mencari sesuatu atau mencari jejak, sebab hampir semua dari mereka mengawasi jalan yang akan dilewatinya.

 

 

Melihat rombongan itu, sekali lagi Mahesa Jenar tersirap. Diantara orang-orang berkuda itu, Mahesa Jenar melihat, bahwa meskipun orang itu berpakaian laki-laki, tetapi jelas bahwa ia adalah seorang perempuan. Maka tanggapan Mahesa Jenar segera mengarah kepada istri Sima Rodra. Sedangkan apakah Sima Rodra sendiri ada diantara mereka, Mahesa Jenar masih belum tahu.

 

 

Rombongan itu ternyata benar-benar sedang mencari jejak kaki. Malahan jejak kaki orang yang meninggal itu. Karena itu, pada mayat orang gagah itulah rombongan berkuda itu mengarah. Dengan demikian Mahesa Jenar harus semakin rapat bersembunyi.

 

 

Ternyata setelah mereka dekat serta semakin jelas, jumlah mereka seluruhnya ada tujuh orang, satu diantaranya seorang perempuan yang sudah hampir setengah umur, tetapi menilik tubuh serta wajahnya ia masih tampak lincah dan cantik.

 

 

Ketika salah seorang dari mereka melihat mayat itu, ia segera berteriak, Itulah dia… Ki Lurah.

 

 

Mendengar teriakan itu, seorang yang bertubuh tegap, gagah, bahkan lebih agak gagah dari mayat itu, segera meloncat turun dari kudanya dan berjalan mendekati mayat itu, yang segera disusul oleh satu-satunya perempuan dalam rombongan itu.

 

Melihat mereka berdua, segera Mahesa Jenar menebak bahwa mereka berdualah yang terkenal dengan suami-istri Sima Rodra.

 

 

Setelah mereka sampai pada mayat itu, segera suami-istri itu berjongkok mengamat-amati. Kemudian segera tangannya meraih tombak pendek itu.Hem.., sayang adi Gemak Paron. Terpaksa aku membunuhnya. Kalau tidak, pastilah Kiai Kala Tadah ini jatuh ke tangan sepasang Uling Rawa Pening, gumamnya.

 

 

Mungkin tujuannya lebih dari itu, sahut istrinya, Mungkin Adi Gemak Paron mendapat tugas untuk mengambil kedua keris itu.

 

 

Mungkin juga, jawab si suami, sebab kalau tidak, tugas yang penting itu pastilah bukan Adi Gemak Paron yang harus melaksanakan.

Tetapi kejadian ini pasti ada akibatnya, sela istrinya, Apakah kakak-beradik dari Rawa Pening itu akan tinggal diam?

Pasti tidak, jawab si suami, Tetapi ia tidak pula akan bertindak gegabah. Sebab kalau tindakannya terdengar oleh golongan lain, pasti akan menimbulkan keributan pula. Pastilah Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya tidak pula akan tinggal diam.

 

 

Si istri tampak berpikir sejenak, lalu katanya, itu berarti akan mempercepat saat pertemuan akhir tahun ini di Rawa Pening. Mungkin mereka akan bersama-sama datang ke Gunung Tidar untuk memperebutkan pusaka-pusaka itu.

 

 

Mungkin, jawab suaminya. Itu berarti pekerjaan kita bertambah berat.

Lalu bagaimana dengan Adi Gemak Paron itu? potong istrinya. Sebab Adi Yuyu Rumpung yang lolos dari kejaran kami pasti segera akan melaporkan kejadian ini.

 

 

Belum lagi mereka menentukan sikap, tiba-tiba terdengarlah derap kuda dari arah lain. Tampaklah bahwa semua orang dalam gerombolan itu terkejut. Tidak terkecuali suami-istri Sima Rodra.

Rupa-rupanya Adi Gemak Paron tidak hanya berdua, desis si istri.

Kau benar, jawab suaminya. Bersiaplah kalian, perintahnya kepada anak buahnya.

 

 

Maka segera mereka pun bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Suara derap kuda itu semakin lama semakin jelas. Dan Mahesa Jenar pun tidak kalah cemasnya, sebab arah derap kuda itu menuju kepadanya. Karena itu, ia pun melipat dirinya lebih kecil lagi di bawah sebuah gerumbul yang berdaun rapat.

 

 

Sejenak kemudian kuda yang larinya seperti terbang meluncur hanya beberapa langkah di samping Mahesa Jenar. Melihat penunggang-penunggangnya, Mahesa Jenar agak keheran-heranan pula. Mungkinkah mereka dari gerombolan Uling Rawa Pening? Sebab tampaklah wajah mereka berbeda dengan wajah-wajah gerombolan Sima Rodra. Sedangkan pakaian mereka pun sama sekali tidak seperti pakaian orang yang mati itu.

 

 

Rombongan yang kedua ini terdiri dari orang yang jumlahnya lebih banyak. Semua kira-kira ada 15 orang. Ketika rombongan yang kedua ini melihat rombongan Sima Rodra, mereka pun tampak terkejut. Maka dengan segera mereka menarik tali kekang kuda mereka, sehingga kuda-kuda mereka berdiri dan berhenti seketika.

Melihat rombongan yang baru saja datang itu, ternyata Sima Rodra beserta anak buahnya bertambah terkejut lagi, sehingga ketika rombongan yang kedua itu telah berhenti. Sima Rodra segera berkata, Aku menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya kepada rombongan Ki Ageng Lembu Sora.

 

 

Mendengar sapa Sima Rodra itu, giliran Mahesa Jenar yang terkejut bukan kepalang. Inilah orangnya yang bernama Ki Ageng Lembu Sora, putra kedua dari Ki Ageng Sora Dipayana.

 

 

Ki Ageng Lembu Sora adalah seorang yang bertubuh sedang, berwajah keras. Matanya memancarkan sinar ketamakan dan pemujaan kepada nafsu-nafsu jasmaniah.

 

 

Sambil masih duduk di atas kudanya ia menjawab, Salamku kepada kalian.

Terima kasih Ki Ageng, jawab Sima Rodra.

 

 

Kenapa kalian berada di tempat ini? tanya Ki Ageng Lembu Sora.

Kami sedang mengejar orang ini, Ki Ageng, jawab Sima Rodra sambil menunjuk kepada mayat Gemak Paron.

Siapakah dia? tanya Lembu Sora kembali.

Ia berusaha untuk mencuri pusaka kami, Kiai Kala Tadah. Untunglah bahwa aku dapat mengenainya dengan sumpit, sehingga ia tidak dapat melarikan diri lebih jauh lagi, jawab Sima Rodra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s