JANGAN terlalu tergesa-gesa. Apa kau kira Ki Ageng Gajah Sora akan tinggal diam? potong istrinya.

 

 

Dengan kedua pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tangan kita, pastilah bahwa kita akan menguasai segenap aliran hitam di pulau Jawa, seperti apa yang pernah kita janjikan bersama. Sesudah itu apakah arti kekuasaan Gajah Sora. Sedangkan Demak sendiri lambat laun pasti akan dapat aku lenyapkan pula, kata Sima Rodra.

 

 

Istri Sima Rodra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, Mudah-mudahan semua itu tidak hanya merupakan sebuah impian yang akan lenyap bersama terbitnya matahari.

 

 

Si suami tertawa perlahan-lahan. Seperti kepada dirinya sendiri ia berkata, Aku harus bekerja lebih keras. Mungkin akan banyak hal yang harus aku hadapi dalam perjalanan ke istana Demak.

 

 

Lalu apa yang akan kita perbuat sekarang? Tiba-tiba istrinya bertanya.

 

 

Sima Rodra itu menjadi seperti orang yang tersadar dari lamunannya. Kembali ia mengamat-amati mayat Gemak Paron.

 

 

Sebentar kemudian ia berkata, Marilah Nyai, sebaiknya kita kembali. Mungkin sehari dua hari kakak-beradik Uling dari Rawa Pening akan berkunjung ke rumah kita. Baru sesudah itu kita pergi ke Pangrantunan untuk mencari pembunuh-pembunuh itu.

Tidakkah kita selesaikan sama sekali masalah Pangrantunan yang tinggal tidak seberapa jauh lagi?

 

 

Sima Rodra tampak agak berpikir, tetapi segera ia menjawab, Masalah Pangrantunan sama sekali bukan masalah yang perlu mendapat perhatian banyak. Tetapi sepasang Uling itu benar-benar memerlukan persiapan yang cukup untuk menyambutnya.

 

 

Setelah itu maka segera ia pun berdiri meninggalkan mayat Gemak Paron, langsung menuju ke kudanya. Dan sejenak kemudian rombongan itu pun pergi meninggalkan mayat itu tetap terkapar, sambil membawa kembali pusaka yang disebutnya Kiai Kala Tadah.

 

 

Setelah derap kuda mereka tak terdengar lagi, Mahesa Jenar perlahan-lahan keluar dari persembunyiannya. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya. Meskipun ia tidak tahu bunyi perjanjian antara Ki Ageng Lembu Sora dan Sima Rodra, tetapi bahwa Ki Ageng Lembu Sora bersedia menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk sumber perbekalan dari golongan hitam, adalah suatu tindakan yang tercela.

 

 

Apapun yang diterima Lembu Sora dari Sima Rodra sebagai gantinya, hal itu adalah suatu penghinaan atas kekuasaan yang dipegangnya, dengan membiarkan adanya kekuasaan asing turut serta mencampuri masalah di dalam rangkah. Apalagi ketika Mahesa Jenar teringat akan rencana Sima Rodra, tidak saja menguasai Perdikan ini, tetapi ia sudah mulai merintis jalan ke Demak.

 

 

Tetapi ketika ia teringat bahwa Ki Ageng Sora Dipayana dengan ujudnya yang baru telah kembali ke Pangrantunan, hatinya menjadi agak tenteram. Pasti orang tua itu tidak akan membiarkan pengkhianatan itu tetap berlangsung. Sebab kekuasaan yang selalu dibayangi oleh kekuasaan lain tidaklah lebih dari kekuasaan boneka.

 

 

Sebentar kemudian segera Mahesa Jenar sadar akan tugasnya. Ia harus cepat-cepat pergi ke Gunung Tidar. Kalau benar apa yang diperhitungkan oleh Sima Rodra, yaitu kemungkinan akan datangnya Uling dari Rawa Pening, maka ia harus berusaha untuk mendahuluinya. Sebab kalau tidak, dan sepasang Uling itu sampai berhasil merebut kedua keris pusaka itu, maka tugasnya akan bertambah sulit.

 

 

Karena itu Mahesa Jenar pun segera melanjutkan perjalanannya. Sejenak kemudian ia telah memasuki daerah hutan yang cukup lebat pula. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa di dalam hutan itu seolah-olah telah dibuat sebuah jalan, yang walaupun sempit tetapi cukup baik untuk lalu lintas kuda maupun orang berjalan. Maka tidaklah ada kesulitan apa-apa bagi Mahesa Jenar untuk langsung menuju ke Gunung Tidar.

 

 

Tetapi belum lama ia menyusur jalan rimba, tiba-tiba didengarnya telapak kuda yang lari sangat kencang dari arah depan.

 

 

Mula-mula Mahesa Jenar mengira orang-orang Sima Rodra. Tetapi ketika diketahuinya bahwa suara derap kuda itu tidak lebih dari seekor, maka maksudnya untuk menghindar itu diurungkan. Ia tetap saja berdiri menepi dengan maksud untuk mendapatkan suatu pengertian baru tentang Sima Rodra dari orang itu.

 

 

Sebentar kemudian tampaklah seekor kuda yang lari seperti terbang menuju ke arahnya. Penunggangnya adalah orang yang pendek kokoh dan berjambang tebal.

 

Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, ia pun tampak terkejut. Segera ia menarik kekang kudanya sehingga kuda itu berhenti beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar. Mula-mula wajah orang itu tampak tegang.

 

 

Tetapi ketika ia melihat ikat pinggang orang itu, yang lebarnya hampir selebar telapak tangan serta dibuat dari kulit kerbau, menjadi terkejut. Segera ia ingat kepada Gemak Paron yang mati kena sumpit punggungnya, juga memakai ikat pinggang yang serupa.

 

Maka kesimpulan bagi Mahesa Jenar, orang ini pasti juga salah seorang dari gerombolan Uling Rawa Pening. Mungkin orang inilah yang tadi disebut-sebut dengan nama Yuyu Rumpung, yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Sima Rodra.

 

 

Kalau demikian, kiranya Yuyu Rumpung tadi telah berhasil menyelinap ke dalam hutan, sementara gemak Paron berlari terus. Kemudian setelah diketahuinya bahwa Sima Rodra telah kembali ke sarangnya, ia segera berusaha untuk melarikan diri.

 

 

Orang berkuda itu, setelah memandangi Mahesa Jenar sejenak segera bertanya, Siapakah kau yang berani lewat di jalan yang khusus bagi gerombolan Sima Rodra?

 

 

Tiba-tiba timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menjajagi kekuatan gerombolan Uling ini, dengan mencoba kekuatan salah seorang anggotanya yang terkemuka. Dengan demikian ia akan dapat mengetahui kira-kira sampai dimana kekuatan anggota-anggota yang lain. Sedang pimpinan rombongannya sendiri pastilah tidak akan banyak terpaut dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan mungkin juga Sima Rodra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s