DALAM menghadapi segala hal, tampaknya suami-istri Sima Rodra selalu bertempur bersama, sehingga untuk melawan orang yang baru setingkat Pananggalan pun mereka bertempur bersama.

 

 

Kalau demikian halnya, maka bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi dalam pertemuan golongan hitam di Rawa Pening? Bolehkah mereka bertempur berpasang-pasang, ataukah hanya seorang-seorang?

 

 

Menilik gerak serta keperkasaannya, maka pastilah Sima Rodra sendiri memiliki kehebatan yang sama dengan Lawa Ijo, sedang istrinya ternyata sedikit di bawahnya.

 

Tetapi karena perempuan itu bersenjatakan kuku-kukunya sendiri maka ia pun nampak sangat berbahaya. Apalagi ketika sekali tampak di ujung kuku itu berkilat suatu cahaya, maka sudah pasti bahwa di ujung kuku-kuku itu ditaruh logam yang mungkin sekali beracun.

 

 

Tetapi lawan Sima Rodra itu pun ternyata orang luar biasa. Mahesa Jenar sendiri pernah bertempur berpuluh kali menghadapi orang-orang perkasa. Yang terakhir adalah Jaka Soka serta Lawa Ijo. Tetapi untuk menghadapi dua orang sekaligus baginya adalah pekerjaan yang berat sekali. Kalau ia terpaksa bertempur melawan keduanya, maka pastilah pagi-pagi ia sudah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa.

Sedang orang itu, yang bertempur dengan Sima Rodra, nampaknya tanpa mempergunakan lambaran ilmu apapun, kecuali ketangkasan serta kekuatan jasmaniah yang cukup terlatih.

 

 

Maka, Mahesa Jenar tak berhenti menebak. Siapakah gerangan dia. Kalau yang datang kakak-beradik Uling, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan bertempur berpasangan pula. Ataukah dia yang bernama Sri Gunting? Kalau orang ini Sri Gunting, maka Uling Rawa Pening itu seharusnya mempunyai kesaktian yang luar biasa.

 

 

Sambil berpikir berputar balik, Mahesa Jenar menyaksikan pertempuran yang berjalan seru itu. Berkali-kali suami-istri Sima Rodra itu mengaum dan memekik hebat dibarengi dengan serangan-serangan sangat berbahaya. Tetapi orang yang melawannya itu meskipun agak kerepotan selalu juga berhasil menghindar, bahkan beberapa kali ia dapat mengadakan pembalasan-pembalasan.

 

 

Gerak suami-istri Sima Rodra itu tampaknya memang serasi sekali dalam keganasannya. Mereka selalu berhasil saling mengisi dengan gerak-gerak membingungkan. Kadang-kadang mereka tidak menyerang, tetapi hanya berlari berputar mengelilingi lawannya, dan kadang-kadang mereka bersama-sama menerkam dari arah yang berlawanan.

 

 

Sebaliknya, lawannya pun memiliki ketangkasan yang luar biasa pula. Sekali-kali ia melesat jauh, tetapi sesaat kemudian ia sudah berdiri di satu sisi dari kedua-duanya dan menyerang dengan pukulan yang dahsyat. Beberapa kali ia melingkar, meloncat dan berputar selagi masih di udara. Tangannya bergerak menyambar-nyambar, seolah-olah berubah menjadi seorang raksasa jelmaan Harjuna Sasra Bahu yang mempunyai seribu tangan memegang seribu macam senjata, dalam ceritera pewayangan.

 

 

Demikianlah maka pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya. Tetapi karena Sima Rodra seolah-olah dapat mensenyawakan diri, serta kekuatannya, maka semakin lama tampaklah bahwa lawannya menjadi semakin terdesak.

 

 

Melihat keadaan itu, otak Mahesa Jenar bekerja keras. Bagaimanakah kalau ia mengambil keuntungan dari pertempuran itu? Ia masih belum tahu sama sekali, siapakah gerangan yang bertempur itu.

 

 

Tetapi menurut perhitungan Mahesa Jenar, ia lebih baik melawan yang seorang itu apabila terpaksa, daripada melawan Sima Rodra suami-istri. Karena itu ia memutuskan untuk menerjunkan diri dalam kancah pertarungan itu untuk membantu lawan Sima Rodra. Dan sesudah itu ia akan mengadakan perhitungan dengan lawannya. Mudah-mudahan lawan Sima Rodra itu tidak bersamaan maksud dengan kedatangannya, sehingga ia tidak perlu berhadap-hadapan sebagai lawan.

 

 

Setelah Mahesa Jenar mendapatkan ketetapan hati, maka segera ia mempersiapkan diri. Dibetulkannya ikat pinggangnya, kancing-kancing bajunya, dan ikat kepalanya, supaya nanti tidak mengganggunya.

 

 

Demikianlah dengan menggeram keras untuk menandai kehadiran, Mahesa Jenar langsung menyerang istri Sima Rodra, dengan suatu kepercayaan bahwa ia telah dibebaskan dari akibat racun karena jasa kawan sepermainannya, Anis dari Sela. Racun Lawa Ijo yang didapatkannya dari Pasingsingan pun tak berhasil membunuhnya, apalagi jenis racun yang lain, yang tidak berasal dari orang seperti Pasingsingan.

 

 

Kedatangan Mahesa Jenar sangat mengejutkan mereka yang sedang bertempur, sehingga suami-istri Sima Rodra berloncatan mundur. Lawannya pun sejenak berdiri termangu, sehingga untuk sesaat suasana jadi hening, sepi seperti daerah kematian yang mengerikan. Tetapi hal yang sedemikian itu tidak berlangsung lama, sebab terdengar suara parau Sima Rodra membentak Mahesa Jenar. Hei, siapakah kau yang ikut serta mengantarkan nyawa?

 

 

Mahesa Jenar tidak menyahut pertanyaan itu, tetapi ia berkata kepada lawan Mahesa Jenar, Aku belum mengenal Tuan, tetapi aku berdiri di pihak Tuan.

 

 

Sebelum orang itu menjawab, terdengar teriak istri Sima Rodra, Kita bunuh kalian berdua.

 

 

Istri Sima Rodra tidak menantikan lagi jawaban, tetapi dengan loncatan yang garang ia menyerang dengan kuku-kukunya yang diarahkan kepada Mahesa Jenar.

 

 

Segera pertempuran itu dimulai kembali. Tetapi sekarang Sima Rodra tidak dapat lagi mengurung lawannya, sebab sekarang mereka harus berhadapan satu lawan satu. Meskipun demikian, tidak segera dapat dilihat siapakah yang akan dapat memenangkan pertempuran itu.

 

 

Suami-istri Sima Rodra yang menjadi semakin marah itu bertempur semakin garang pula. Mereka segera mengerahkan tenaga serta kesaktian mereka untuk segera dapat membinasakan lawan-lawannya yang berani memasuki daerahnya, apalagi berani menantangnya.

 

 

Dalam keadaan demikian, lawan Sima Rodra itu sempat juga menyaksikan Mahesa Jenar bertempur. Menyaksikan kelincahannya, keperkasaannya, serta kepercayaannya kepada diri seperti lazimnya seorang perwira, ia pun menjadi berpikir tentang Mahesa Jenar. Sebab orang yang memiliki kehebatan yang sampai ke tingkat itu, pastilah bukan orang sembarangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s