PERTEMPURAN itu berlangsung terus. Tetapi dalam beberapa saat kemudian tampaklah bahwa Mahesa Jenar berhasil menguasai lawannya, sebaliknya orang yang telah bertempur itupun, setelah lawannya berkurang seorang, dapat pula sedikit demi sedikit mendesak musuhnya. Dengan demikian pertempuran itu ternyata sudah tidak seimbang lagi.

 

 

Dalam kemarahannya, suami-istri Sima Rodra itu bertempur semakin buas, liar dan kasar. Sedang lawannya, tampaknya tetap tenang dan yakin.

Sesaat kemudian terdengar suara yang aneh keluar dari mulut Sima Rodra. Suara jeritan yang mirip dengan aba-aba. Apalagi setelah itu, tampak pula gerak-gerak mereka yang mencurigakan.

 

 

Meskipun mereka bertempur terus, tampak bahwa mereka sedang berusaha untuk mendekati lobang goa. Mahesa Jenar maupun lawan yang seorang lagi, dapat segera menangkap maksud itu, karena itu mereka menjadi lebih waspada.

 

 

Dan apa yang dicurigakan itu memang ternyata benar. Untunglah bahwa kawan bertempur Mahesa Jenar memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Sehingga ketika pada suatu saat, dengan sekali gerakan suami-istri Sima Rodra itu meloncat akan memasuki goanya, secepat itu pula kawan bertempur Mahesa Jenar itu telah meloncat menghalang-halangi.

 

 

Kembali Sima Rodra mengaum hebat karena marahnya. Bersamaan dengan itu geraknya menjadi semakin liar. Tetapi keadaan itu tetap tidak menolong dirinya, sehingga mereka tetap terdesak terus. Dalam keadaan yang demikian sekali lagi terdengar suara aneh dari harimau liar itu. Tetapi kali ini ternyata mereka lebih berhati-hati.

 

 

Demikian teriakan itu berhenti demikian mereka meloncat cepat seperti didera halilintar ke balik sebuah batu besar di samping goanya. Segera Mahesa Jenar dan kawan bertempurnya itu memburu. Tetapi terlambat.

 

 

Sesaat kemudian terdengar deru yang hebat dibalik batu itu, dan berguguranlah tanah di sekitarnya menyeret batu besar itu seolah-olah terhisap kedalam sebuah lobang besar di bawah tanah. Agar tidak turut terseret ke dalamnya, maka Mahesa Jenar bersama dengan lawan Sima Rodra itu serentak meloncat mundur. Selanjutnya untuk beberapa lama mereka hanya merenungi onggokan tanah bekas guguran itu.

 

 

Sebuah pintu rahasia, desis orang itu.

 

 

Memang sejak semula Mahesa Jenar juga menduganya demikian, apabila yang berkepentingan sudah ada di dalamnya, dengan sedikit sentuhan pada alat yang diperlukan, gugurlah tanah di atas pintu itu, dan menutup lubangnya sehingga mereka tidak akan dapat dikejar, untuk selanjutnya keluar dari pintu rahasia yang lain.

 

 

Sebentar kemudian kembali orang itu berkata, Terimakasih atas pertolongan Tuan.

 

 

Aku hanya membantu mempercepat penyelesaian saja, sebab tanpa aku pun tampaknya Ki Sanak pasti dapat menyelesaikan seorang diri, jawab Mahesa jenar.

 

 

Orang itu tertawa lirih. Tuan terlalu menyanjung aku. Tetapi sebenarnya bahwa kedatangan tuan menyelamatkan nyawaku. Hanya sayanglah bahwa aku terpaksa tidak dapat terlalu lama menemui Tuan, sebab ada satu pekerjaan yang harus aku selesaikan, katanya kemudian.

 

 

Jantung Mahesa Jenar berdesir lembut. Apakah gerangan yang akan dilakukannya? Karena itu ia mencoba bertanya, Apakah yang memaksa Ki Sanak begitu tergesa-gesa?

 

 

Suatu pekerjaan yang tak berarti. Aku hanya ingin memeriksa keadaan di dalam goa, jawabnya.

 

 

Mahesa Jenar mulai melihat adanya sesuatu rahasia pada orang itu. Karenanya ia tidak bertanya tentang siapakah dia dan dari manakah datangnya, sebab pertanyaan yang demikian tentu tidak akan mendapat jawaban. Maka kemudian ia hanya berkata, Bolehkah aku turut serta masuk kedalam goa?

 

 

Orang itu tampak ragu-ragu sejenak, baru ia menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan, Tuan, apakah sebenarnya yang akan Tuan lakukan di atas bukit kecil ini?

 

 

Mendengar pertanyaan orang itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Tetapi pasti bahwa ia tidak akan menyebutkan keperluan yang sebenarnya. Maka dijawabnya dengan sekenanya saja, Aku datang untuk menuntut balas atas kematian kakakku di Pangrantunan.

 

 

Pangrantunan? sahut orang itu.

Ya, jawab Mahesa Jenar.

Tampaklah orang itu berpikir sejenak. Lalu katanya kemudian, Tuan… orang Pangrantunan?

Ya, jawab Mahesa Jenar pendek.

Sayanglah bahwa Mahesa Jenar tak dapat melihat sorot mata orang itu di dalam gelap. Kalau saja ia mengetahui, dapatlah ia mengerti bahwa orang itu curiga kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s