SEJENAK kemudian orang itu berkata, Apakah yang Tuan lakukan seterusnya? Tuan pasti tidak akan dapat menemukan Suami-Istri itu untuk beberapa lama.

 

 

Tak apalah. Tetapi aku hanya ingin melihat-lihat saja, jawab Mahesa Jenar.

 

 

Mudah-mudahan apa yang Tuan katakan benar. Silahkan Tuan melihat. Seterusnya aku berjanji untuk membalas budi Tuan membinasakan suami-istri Sima Rodra pada kesempatan lain. Semoga Tuan benar-benar tidak mempunyai kepentingan lain kecuali itu, gumam orang itu. Kemudian orang itu pergi bersama Mahesa Jenar, memasuki goa Sima Rodra dengan hati-hati. Mungkin terdapat berbagai rahasia di dalamnya. Goa itu sebenarnya tidaklah begitu dalam. Tetapi di dalamnya terdapat beberapa ruang yang dindingnya dilapisi papan, tak ubahnya seperti ruang-ruang rumah biasa. Ruang itu diterangi dengan oncor-oncor.

 

 

Dua ruang sudah mereka masuki, tetapi mereka tak menemukan sesuatu. Maka sampailah mereka pada ruang yang ketiga, yang tidak seperti ruang-ruang lain. Ruang ini mempergunakan pintu yang ditutup rapat. Ternyata pintu ini tidak hanya ditutup rapat, tetapi juga dikancing dengan kancing yang tak dapat diketahui oleh orang lain.

 

 

Ketika sudah beberapa lama mereka tak berhasil membukanya, mereka menjadi tidak sabar lagi. Mereka berdua sepakat untuk membuka pintu itu dengan paksa. Dengan demikian, mereka mempergunakan kaki mereka untuk bersama-sama menjebol pintu kayu yang terkancing itu.

 

 

Dengan satu tendangan yang hampir bersamaan mereka dapat memecahkan pintu itu, yang dengan suara gemeretak pecah berserakan. Tetapi meskipun pintu itu sudah menganga lebar, mereka tidak tergesa-gesa masuk. Sebab bukanlah mustahil bahwa ada apa-apa di dalamnya.

 

 

Setelah beberapa saat tak ditemukan apapun, maka dengan langkah yang sangat hati-hati mereka melangkah masuk. Tetapi demikian mereka melangkahkan kakinya melewati tlundak pintu, demikian serentak bulu roma mereka berdiri.

 

 

Di sudut ruangan itu mereka melihat sebuah nampan di atas sebuah meja yang dialasi dengan kain beludru buatan Tiongkok yang berwarna kuning keemasan. Dan yang mengejutkan mereka adalah cahaya yang biru kekuning-kuningan, yang memancar dari dua keris yang diletakkan di atas kain beludru itu. Karena itu, untuk sesaat mereka tegak berdiri seperti patung.

 

 

Mahesa Jenar, sebagai seorang perwira istana, sudah pasti bahwa apa yang dilihatnya itu sangat mengharukan hatinya. Ia yakin sekarang bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten itu adalah keris-keris yang asli.

 

 

Mahesa jenar memang pernah melihat keris itu beberapa kali, dahulu sebelum lenyap dari Istana Demak. Memang tidak semua prajurit bahkan perwira yang beruntung dapat menyaksikan keris itu. Karena Mahesa Jenar saat itu menjadi pengawal raja dan istana, maka ia diberi kesempatan untuk menyaksikan pada saat keris itu dimandikan pada hari pertama setiap tahun. Karena itu ia hampir tidak dapat lagi mengendalikan diri. Hampir saja ia meloncat mendekati keris-keris itu kalau saja orang yang berdiri di sampingnya itu tidak menggamitnya.

 

 

Apakah Tuan berkepentingan dengan keris-keris itu? kata orang itu.

 

 

Mahesa Jenar kini tak dapat mengelak lagi. Kedua keris yang dicarinya sudah ada di hadapannya. Maka apapun yang terjadi haruslah dihadapinya.

 

 

Benar Ki Sanak, aku datang untuk kedua keris ini. Aku harap Tuan mempunyai kepentingan yang tidak sama dengan kepentinganku, jawab Mahesa Jenar tegas.

 

 

Hem….! orang itu menggeram. Aku sudah menduga. Tetapi sayang bahwa kepentingan kita sama.

 

 

Mendengar kata-kata orang itu seharusnya Mahesa Jenar tidak lagi terkejut, namun demikian darahnya bergelora hebat. Ki Sanak, maafkanlah, aku tidak dapat melepaskannya lagi, kata Mahesa Jenar sambil menahan diri.

 

 

Orang itu merenung sejenak. Dalam keremangan cahaya oncor-oncor, Mahesa Jenar melihat betapa gelisah perasaannya, sehingga akhirnya keluarlah kata dari mulutnya, Tuan, aku telah berhutang budi kepada Tuan. Tetapi aku akan tetap pada pendirianku untuk mendapatkan benda-benda keramat dari Istana Demak itu.

 

 

Mahesa Jenar tidak tahu siapakah orang itu sebagaimana orang itu tidak mengenal Mahesa Jenar. Karena itu mereka saling berketetapan hati untuk dapat menguasai kedua pusaka itu.

 

 

Bagaimanapun Mahesa Jenar menyabarkan diri, namun akhirnya terloncat pula kata-katanya yang tajam, Ki Sanak, seharusnya tadi aku membiarkan Tuan bertempur seorang diri dan sekaligus dibinasakan oleh suami-istri Sima Rodra itu.

 

 

Kalau demikian… Tuan akan berbuat kesalahan. Bukankah lebih mudah untuk melawan aku seorang menurut pertimbangan Tuan daripada melawan mereka berdua? jawab orang itu, yang meskipun nampaknya masih setenang semula, tetapi isi kata-katanya tidak kalah runcingnya.

 

 

Sekali lagi darah Mahesa Jenar menggelegak. Ternyata orang itu dapat dengan cepat menebak perhitungannya.

 

Ki Sanak benar, memang demikianlah apa yang akan aku lakukan, jawab Mahesa Jenar tanpa tedeng aling-aling.

 

 

Baik Tuan. Tetapi sebaiknya Tuan mempertimbangkan sekali lagi, sahut orang itu.

Tidak ada pertimbangan lain, jawab Mahesa Jenar.

 

 

Mahesa Jenar sudah pasti sekarang, bahwa ia harus bertempur melawan orang itu.

Sebenarnya ia masih bimbang terhadap bakal lawannya. Menilik sikap serta kata-katanya, agak aneh kalau ia termasuk golongan hitam yang lain, yang menginginkan pusaka-pusaka itu. Sebentar kemudian Mahesa Jenar teringat pula keramahan Jaka Soka pada waktu ia akan menyertai rombongan orang-orang yang akan melintas hutan Tambakbaya, juga suami-istri Sima Rodra itu sendiri, yang dengan ramah minta menginap di Kademangan Prambanan. Karena itu ia tidak akan menilai orang itu dari sikap serta kata-katanya.

 

 

Sementara itu orang itu menjawab, Kalau demikian, marilah kita tentukan bersama, siapakah yang berhak untuk menguasai kedua keris itu.

 

 

Mahesa Jenar sudah yakin bahwa memang demikianlah yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang itu, mau tak mau ia terpaksa menaruh hormat kepadanya. Kata-kata Tuan adalah kata-kata jantan. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kejantanan Tuan, jawab Mahesa Jenar kemudian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s