UNTUK beberapa saat orang itu terpaksa berdiam diri, mengatur jalan pernafasannya serta berusaha untuk menguasai kembali pikirannya.

 

 

Angin masih berhembus perlahan-lahan. Dan ini telah menolong menyegarkan tubuh orang itu, sehingga beberapa saat kemudian ia berhasil dengan susah payah mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar pada kedua tangannya.

 

 

Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Keringat dingin masih saja mengalir membasahi seluruh pakaiannya. Baru setelah tubuhnya terasa bertambah segar ia perlahan-lahan bangkit berdiri.

 

 

Ketika ia memandang ke daerah sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada tubuh yang masih terbaring tak bergerak, beberapa langkah dari mulut goa. Sekali lagi ia menarik nafas. Ia tahu benar bahwa pukulan lawannya itu adalah pukulan yang tak ada taranya dahsyatnya.

 

 

Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar yang masih belum sadar. Dengan mata yang bercahaya orang itu memandangi tubuh Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.

 

Memandangi tubuh yang meskipun tidak setinggi dia, tetapi tampak kokoh kuat bagai seekor banteng.

 

 

Ketika orang itu melangkah selangkah lagi mendekati Mahesa Jenar, terasa bahwa tubuhnya semakin terasa sakit. Karena itu ia berhenti dan duduk di atas padas beberapa langkah dari tubuh Mahesa Jenar yang masih terbujur tak bergerak.

 

 

Ia terpaksa menahan diri, tidak segera mendekatinya sampai tubuhnya sendiri agak terasa kuat. Karena itu dibiarkannya Mahesa Jenar terbaring tak bergerak beberapa langkah di hadapannya.

 

 

Ketika sekali lagi angin malam membelai tubuh-tubuh yang sedang kesakitan itu, tampak bahwa Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Dan sesaat kemudian ia sudah dapat membuka matanya, meskipun masih samar-samar. Apalagi di dalam kegelapan malam.

 

 

Yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang bertaburan di langit, dan sesudah itu matanya tertumbuk pada tubuh tinggi tegap berdada lebar, duduk di atas padas di hadapannya, yang dengan tajam memandanginya seperti sebuah bayangan hantu hitam yang akan menerkamnya. Tetapi pada sat itu ia sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Sambungan-sambungan tulangnya terasa seperti lepas dan tak dapat dikuasainya. Karena itu kalau terjadi sesuatu ia sama sekali tak akan dapat membela diri.

 

 

Maka sekali lagi Mahesa Jenar memejamkan matanya untuk mengumpulkan ingatannya. Dan perlahan-lahan ketika tubuhnya terasa semakin segar karena angin malam yang lembut, ingatannya pun sedikit demi sedikit menjadi cerah kembali meskipun kepalanya masih saja pening dan seperti berputar-putar.

 

 

Apa yang baru saja dialami menjadi semakin jelas dalam kepalanya. Bagaimana ia mempergunakan ilmu kepercayaannya Sasra Birawa dan bagaimana orang yang dihantamnya itu merentangkan tangannya dan selanjutnya disilangkan di muka wajahnya.

 

 

Dan sekarang, orang yang dikenai ilmunya itu ternyata masih saja hidup dan duduk di dekatnya. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar tiba-tiba merasa gembira sekali. Dan kegembiraannya itu telah sangat mempengaruhi keadaannya, sehingga tiba-tiba ia dapat duduk, meskipun dengan susah payah untuk menegakkan tubuhnya yang duduk lemah seperti tak bertulang. Meskipun demikian, wajah Mahesa jenar tampak cerah dan matanya menyorotkan cahaya segar.

 

 

Demikian pula orang yang duduk di atas padas itu. Ketika ia menyaksikan Mahesa Jenar telah dapat duduk, ia pun menjadi gembira. Senyum yang tulus telah menggerakkan bibirnya. Perlahan-lahan dengan suara parau ia menyapa, Tidakkah tuan mengalami sesuatu?

 

 

Mahea Jenar tersenyum pula, meskipun agak kecut. Bagaimana aku mengatakan bahwa aku tidak mengalami sesuatu kalau bangun saja rasanya seperti tidak mungkin, jawab Mahesa Jenar.

 

 

Orang itu menundukkan kepalanya seperti menyesali dirinya. Maafkan aku, katanya kemudian.

 

 

Mendengar kata-kata itu segera Mahesa Jenar menyahut, Jangan Tuan menyalahkan diri sendiri. Akulah yang seharusnya minta maaf kepada Tuan, sebab akulah yang pertama-tama mulai. Berbahagialah aku bahwa Tuan ternyata sehat walafiat karena kesaktian Tuan.

 

 

Tuan salah duga. Aku pun mengalami keadaan seperti Tuan. Sampai sekarang aku masih belum berhasil untuk mencapai jarak ke dekat Tuan terbaring, karena seluruh sendi tulang-tulangku sakit bukan kepalang, karena di dalam tangan Tuan tersimpan aji Sasra Birawa, sahut orang itu sambil tertawa lirih.

 

 

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi, maafkan aku, katanya.

 

 

Tak apalah… malahan aku merasakan suatu keuntungan, mendapat kehormatan mencicipi ilmu Tuan yang maha dahsyat itu. Dan dengan demikian aku mengenal Tuan, yang pasti salah seorang murid dari Paman Pengging Sepuh, jawab orang itu.

Mahesa Jenar mengangguk perlahan. Benar Tuan, aku tinggal satu-satunya murid yang masih harus menjunjung tinggi nama kebesaran Ki Ageng Pengging Sepuh Almarhum. Untung jugalah bahwa aku tidak binasa kali ini. Kalau hal itu terjadi, berakhirlah nama perguruan Pengging. Bukankah Tuan telah mempergunakan aji Lebur Sekethi?

Terpaksa. Hanya sekadar supaya aku tidak lumat, gumam orang itu seperti kepada diri sendiri.

Benar Tuan…, Tuan sama sekali benar. Akulah yang terlalu lancang. Tetapi siapakah sebenarnya Tuan? Bukankah Lebur Sakethi itu menurut guruku Almarhum dan yang kukenal adalah milik Ki Ageng Dipayana? potong Mahesa Jenar.

 

 

Tuan menebak dengan tepat. Karena itu ketika Tuan mengatakan bahwa Tuan adalah orang Pangrantunan, segera aku menjadi curiga. Sebab Pangrantunan adalah daerah masa kanak-kanakku. Aku adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana, jawab orang itu.

 

 

Apakah Tuan yang disebut Ki Ageng Gajah Sora? tanya Mahesa Jenar.

Benar Tuan. Akulah yang bernama Gajah Sora, jawab orang itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s