MENDENGAR jawaban itu, Mahesa Jenar jadi merenung. Untunglah bahwa tak terjadi sesuatu dalam pertempuran tadi. Kalau saja ada salah langkah, maka akibatnya akan mengerikan. Salah satu diantaranya pasti binasa. Sebab ajian seperti Sasra Birawa dan Lebur Sakethi mempunyai daya yang dahsyatnya luar biasa. Tidak hanya sebagai ajian yang tidak saja dipergunakan menyerang, tetapi juga bertahan.

 

 

Sejenak kemudian terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora bertanya kepadanya, Tetapi sampai sekarang Tuan belum menyebut nama Tuan.

 

 

Mahesa Jenar seperti tersadar dari renungannya, maka jawabnya, Namaku adalah Mahesa Jenar.

 

 

Mahesa Jenar? ulang Gajah Sora. Aku belum pernah mendengar nama ini dari ayahku yang sering menyebut-nyebut nama sahabat-sahabatnya serta murid-muridnya. Bukankah seorang murid Ki Ageng Pengging itu terbunuh…?

 

 

Ya, jawab Mahesa Jenar, Bahkan tidak saja ia muridnya, tetapi juga putranya.

Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Kebo Kenanga…. Bukankah begitu? katanya.

 

 

Ya, jawab Mahesa Jenar pendek.

 

 

Kakaknya, Ki Kebo Kanigara, kabarnya lenyap tak meninggalkan bekas, sambung Gajah Sora . Dan Tuan? Adakah Tuan mempunyai sebutan yang lain?

Semua yang Tuan katakan adalah benar. Akulah yang sedikit sekali mengenal sahabat-sahabat guruku. Mungkin ini disebabkan Guru sudah lama melenyapkan diri, dan akhirnya diketahui bahwa beliau telah wafat, sehingga tidak banyak yang dapat diceritakan kepadaku.

Adapun mengenai aku sendiri, memang benarlah kata Tuan, sebab sejak aku menjadi prajurit, aku selalu dipanggil dengan nama Tohjaya.

 

 

Tohjaya…, ya Tohjaya, ulang Gajah Sora, Kalau nama ini memang pernah aku dengar. Tidak saja dari ayahku, tetapi hampir setiap orang menyebutnya sebagai pengawal raja. Tetapi kenapa Tuan sampai di sini?

 

 

Akhirnya dengan singkat Mahesa Jenar bercerita tentang segala-galanya yang pernah dialami. Juga tentang pertemuannya dengan Ki Ageng Sora Dipayana di Pangrantunan dan pertemuannya dengan Ki Ageng Lembu Sora.

 

 

Memang, anak itu agak bengal, sahut Gajah Sora kemudian. Biarlah lain kali aku mengurusnya. Juga tentang sepasang Uling, yang sampai sekarang masih aku biarkan saja sambil menunggu orang-orang golongan hitam itu berkumpul. Tetapi yang penting sekarang, apakah yang kita lakukan?

 

 

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepala sambil memandangi mulut goa yang masih saja ternganga seperti mulut seekor naga raksasa yang siap menelannya.

 

Beberapa saat ia agak kebingungan. Tetapi akhirnya ia berkata, Kalau saja tadi aku tahu bahwa Tuan adalah Ki Ageng Gajah Sora, maka aku kira aku tidak akan mengganggu Tuan. Nah Tuan, sekarang terserah kepada Tuan akan kedua keris itu.

Tidak, jawab Gajah Sora, Tuan lebih berhak untuk mengambilnya serta menyerahkan kembali ke Istana Demak.

 

 

Aku adalah seorang perantau, sahut Mahesa Jenar, Aku kira lebih aman kalau Tuan yang menyimpannya sampai datang waktunya untuk diserahkan kepada yang berhak nanti.

 

 

Tampaklah sejenak Gajah Sora merenung menimbang-nimbang. Akhirnya ia berkata, Baiklah, sekarang kedua pusaka itu kita ambil dan kita bawa pulang. Bukankah Tuan sudi singgah ke Banyu Biru sehari dua hari…? Atau sampai pada saat pertemuan kalangan hitam. Di sana dengan aman segala sesuatu dapat kita bicarakan.

 

 

Tentu saja Mahesa Jenar tidak dapat menolak ajakan itu. Karena itu ia pun segera mengiakan. Maka setelah itu, setelah mereka merasa bahwa tubuh mereka telah dapat dibawa berjalan, masuklah mereka dengan sangat hati-hati ke dalam goa itu dan langsung menuju ke ruang dimana kedua pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten disimpan.

 

 

Setelah menyembah beberapa kali, maka diambillah kedua pusaka itu dan dibawa keluar seorang satu, dengan tujuan untuk membawanya ke Banyu Biru, ke rumah Ki Ageng Gajah Sora yang untuk selanjutnya akan dibicarakan penyerahannya kepada yang berhak di Istana Demak.

 

 

Tetapi belum lagi mereka sempat meninggalkan daerah bukit Tidar, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kuda yang cukup banyak mendaki Gunung Tidar dari arah utara. Kedatangan mereka ini sudah pasti sangat mengejutkan Mahesa Jenar maupun Ki Ageng Gajah Sora.

 

 

Siapakah mereka? tanya Mahesa Jenar.

 

 

Entahlah, jawab Ki Ageng Gajah Sora sambil menggelengkan kepalanya. Derap kuda itu semakin lama semakin dekat, dan tampaknya mereka langsung menuju ke arah goa.

 

 

Mereka menuju kemari, desis Gajah Sora.

Ya, mereka menuju kemari, ulang Mahesa Jenar.

 

 

Lalu bagaimanakah sebaiknya sikap kita? Gajah Sora ingin mendapat pertimbangan.

 

 

Dalam kondisi tubuh mereka yang hampir remuk itu, sudah pasti bahwa mereka tak akan cepat berbuat apa-apa seandainya yang datang itu akan membahayakan. Karena itu yang sebaik-baiknya bagi mereka adalah menghindari orang-orang berkuda itu.

 

 

Dengan keadaan kita seperti ini, sebaiknyalah kalau kita menghindari mereka, kata Mahesa Jenar.

 

 

Baiklah. Marilah kita bersembunyi, jawab Gajah Sora.

Sementara itu, kuda-kuda itu semakin dekat. Segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar mencari tempat untuk berlindung, di bawah semak yang rimbun.

 

 

Belum lagi mereka selesai menempatkan diri, muncullah dari balik-balik padas beberapa orang berkuda. Meskipun gelap malam masih menyeluruh, tetapi remang-remang mereka dapat juga menyaksikan tubuh-tubuh orang-orang berkuda itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s