TEPAT di muka goa mereka menghentikan kuda mereka, dan langsung dengan suara lantang terdengar salah seorang dari mereka berteriak, Hei Sima Rodra, sudah gilakah engkau. Kau biarkan semua penjaga-penjagamu tidur?

 

 

Suara itu melontar memukul dinding-dinding padas dan dipantulkan kembali berturut-turut beberapa kali. Namun tak ada jawaban yang terdengar. Berkali-kali orang itu berteriak-teriak memanggil, tetapi juga tak pernah ada jawaban. Akhirnya mereka berhenti berteriak-teriak.

 

 

Ada sesuatu yang tidak beres. Hai salah seorang dari kamu, bangunkan semua orang yang tidur. Juga pengawal-pengawal gerbang, kata salah seorang diantara orang-orang itu kepada pengikutnya.

 

 

Baik Ki Lurah, jawab salah satu diantaranya. Dan sejenak kemudian terdengar langkah seekor kuda menjauh.

 

 

Sementara itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar beruntung dapat menyaksikan orang-orang berkuda itu dengan jelas. Yang berkuda paling depan adalah dua orang yang gagah tegap, meskipun badannya tidak begitu besar. Mukanya tampak panjang meruncing, dan masing-masing menggenggam sebuah cemeti panjang. Mereka tampaknya hampir seperti dua orang kembar.

 

 

Ketika Mahesa Jenar sedang menduga-duga, terdengarlah Gajah Sora berbisik, Itulah Sepasang Uling dari Rawa Pening. Yang di sebelah kanan itulah yang tua, yang disebut Uling Putih, sedang yang lain adalah Uling Kuning.

 

 

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Itulah mereka yang bernama Uling Putih dan Uling Kuning. Kedatangan mereka sudah pasti untuk menuntut dendam akibat terbunuhnya salah seorang kepercayaannya.

 

 

Sebentar kemudian datanglah beberapa orang berlari-lari ke arah goa itu pula.

 

Mereka adalah anak buah Sima Rodra yang tertidur karena kekuatan sirep Gajah Sora. Salah seorang diantaranya, yang gemuk agak pendek, bertubuh kuat seperti seekor orang hutan, maju mendekati sepasang Uling yang masih saja duduk di atas kudanya.

 

 

Salam kami untuk Sepasang Uling dari Rawa Pening, katanya.

 

 

Rupanya kakak-beradik Uling itu sama sekali tak memperhatikan sapa itu. Bahkan salah seorang dari mereka membentak, Hai, Sakayon, di manakah suami-istri macan liar itu?

Rupanya yang dipanggil Sakayon itu tersinggung juga hatinya. Buat apa kau cari mereka? jawabnya.

Jangan banyak cakap. Cari mereka, bentak Uling Kuning.

Terdengar Sakayon mendengus, Hemm…. Kau kira kau bisa memerintah aku…? Tanyakan dengan baik, aku akan menyuruh salah seorang untuk memanggilnya.

 

 

Sepasang Uling yang kasar itu menjadi marah. Kalau kau masih juga berlagak, aku patahkan lehermu, teriaknya.

 

 

Tetapi Sakayon sama sekali tidak takut. Malahan terdengar ia tertawa. Kau jangan main sekarat di sini. Katakan apa perlumu. Kalau suami-istri Sima Rodra tidak ada, akulah yang harus menyelesaikan semua soal.

 

 

Ternyata Uling Kuning hatinya lebih mudah terbakar daripada kakaknya. Hampir saja ia memutar cemetinya kalau Uling Putih tidak mencegahnya. Sedang Sakayon pun telah pula menarik pedang pendek tetapi besar seperti tubuhnya.

 

 

Jangan layani dia, Kuning, kata Uling Putih, sambil menarik kekang kudanya dan melangkah beberapa langkah maju.

 

 

Baiklah Sakayon… aku tunduk kepada peraturanmu. Tolong, katakan kepada Suami-Istri Sima Rodra bahwa aku ingin menemui mereka, kata Uling Kuning.

Sakayon yang merasa mendapat kemenangan, membusungkan dadanya sambil menjawab, Itulah namanya tamu yang tahu diri.

 

 

Lalu katanya kepada salah seorang anak buahnya, Panggilkan Ki Lurah. Katakan bahwa kakak-beradik dari Rawa Pening ingin menemuinya.

 

 

Orang yang disuruhnya itu segera berlari ke dalam goa. Tetapi sebentar kemudian ia telah muncul kembali dengan nafas yang terengah-engah. Kakang Sakayon…, Ki Lurah tidak ada di dalam goa. Bahkan ruang penyimpanan yang tidak pernah terbuka itu pun tampaknya telah dibuka dengan paksa, katanya gugup.

 

 

Hei…! teriak Sakayon terkejut. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi ia meloncat dengan tangkasnya masuk ke dalam goa. Menilik geraknya maka Sakayon pun pasti termasuk orang yang berilmu tinggi. Mungkin ia adalah kepercayaan Suami-Istri Sima Rodra. Sakayon telah keluar dari dalam goa. Gerak-geriknya menunjukkan kegelisahan hatinya. Sejenak kemudian tanpa berkata apapun ia berlari kesamping goa dimana Sima Rodra tadi lenyap.

Mereka telah mempergunakan pintu rahasia ini. Pasti terjadi sesuatu atas mereka, teriaknya.

Kemudian kembali ia berlari ke arah tamu-tamunya.

 

 

Mereka telah lenyap. Untuk tiga hari setidak-tidaknya kalian tak akan dapat menemui mereka. Sedangkan kedua pusaka yang disimpannya itu telah lenyap pula. Kalau yang mengambil Suami-Istri Sima Rodra, mereka tidak perlu memecahkan pintu, katanya dengan nafas yang memburu.

 

 

Keris itu lenyap…? tanya Uling Putih. Suaranya pun menunjukkan suatu kecemasan yang sangat. Kalau kata-katanya betul, pasti akan menimbulkan suasana yang panas dalam pertemuan kami nanti, katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s