TIBA-TIBA Mahesa Jenar mendengar derap kuda yang lari sangat kencang seperti dikejar hantu. Kuda itu tidak masuk halaman lewat gerbang depan, tetapi menyusup melalui pintu butulan di samping. Mahesa Jenar memalingkan mukanya dengan agak segan-segan.

”Anak itu lagi,” desis Mahesa Jenar. Dan muncullah dari pintu butulan pagar itu seorang anak laki-laki yang berwajah bulat dan agak gemuk menunggang kuda hitam mengkilat. Ketika anak itu melihat Mahesa Jenar, cepat-cepat ia menghentikan kudanya.

”Selamat pagi Paman,” sapanya sambil menyeringai.

”Dari mana kau Arya?” tanya Mahesa Jenar kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu.

Arya Salaka itu tidak segera menjawab, tetapi dijatuhkannya sebuah benda yang cukup berat dari punggung kuda itu. Melihat benda itu Mahesa Jenar terkejut. ”Uling…?” katanya.

”Ya, Paman, aku dari Rawa Pening menangkap uling itu,” jawabnya.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Kau memang nakal Arya. Bukankah ayahmu telah melarangmu pergi ke Rawa Pening? Besok, kalau kau sudah bertambah besar tentu kau boleh pergi ke sana. Tetapi sekarang belum waktunya kau pergi sendiri,” katanya.

Anak itu meloncat turun lalu mendekati Mahesa Jenar. ”Paman, jangan Paman katakan kepada ayah kalau aku pergi sendiri,” bisiknya.

”Lalu uling itu…?” tanya Mahesa Jenar.

Arya Salaka diam termangu. Kemudian jawabnya, ”Aku katakan bahwa Pamanlah yang menangkap.”

Mahesa Jenar tersenyum. ”Hampir semalam suntuk aku bersama ayahmu di pendapa itu. Bagaimana aku pergi menangkap uling?” katanya.

Kembali Arya Salaka kebingungan. Akhirnya ia mendapat jawaban. Dengan tertawa ia berkata, ”Gampang Paman, aku akan katakan bahwa seorang kawan memberi aku uling sebagai hadiah.”

”Hadiah apa?” tanya Mahesa Jenar.

”Aku tidak tahu, Paman.” Ia menjadi kebingungan lagi.

”Tetapi seharusnya kau tidak pergi ke sana, Arya. Banyak bahayanya. Bukan saja uling-uling macam itu, tetapi uling yang tinggal di sebelah rawa itu akan lebih berbahaya bagimu, kalau mereka tahu bahwa kau adalah putra Ki Ageng Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar menasehati.

Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. ”Uling Putih dan Uling Kuning, maksud Paman?”

Mahesa Jenar mengangguk.

”Baiklah Paman, tetapi pada suatu saat aku pasti akan dapat menangkapnya seperti menangkap uling itu.”

”Nah, pergilah, gantilah pakaianmu yang basah kuyup itu.”

Tanpa menjawab, anak itu memutar tubuhnya lalu melangkah pergi. Tetapi demikian Mahesa Jenar memandang punggung anak itu, ia menjadi terkejut, sebab punggung itu terluka dan darah cair mengalir dari luka itu.

”Arya…” panggil Mahesa Jenar, ”kenapa punggungmu luka?”

”Luka…?” tanya Arya keheranan. ”Ah tidak seberapa Paman.”

”Tetapi dari luka itu banyak mengalir darah.”

Arya Salaka menggosok punggungnya dengan tangannya, dan terasa sesuatu yang cair dan hangat.

”Uling itu mencoba melawan, Paman,” katanya kemudian, ”Kami berkelahi beberapa lama. Tetapi akhirnya aku dapat membunuhnya.”

”Untunglah uling itu tidak menyeretmu ke dalam rawa,” sahut Mahesa Jenar.

”Kakiku dibelitnya, Paman,” jawab Arya Salaka bangga. ”Dan memang ia mencoba menarik aku ke rawa. Tetapi tentu saja aku tidak mau. Rasa-rasanya tidak akan menarik berkunjung ke lubang uling. Karena itu aku berusaha membunuhnya dengan belati. Dan akhirnya sebagai Paman lihat sekarang, uling itu sudah mati. Kalau saja ibuku tidak tahu bahwa aku yang menangkapnya, pasti beliau senang untuk memasaknya.”

Setelah berkata demikian, segera Arya meloncat dengan lincahnya menangkap ekor uling itu lalu diseretnya ke dapur sambil berlari-lari.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. ”Luar biasa,” katanya kepada diri sendiri.

Memang, sejak ia melihat anak itu pertama kali, ia sudah merasa kagum. Arya Salaka merupakan seorang anak-anak laki-laki yang memiliki bakat yang baik. Badannya kukuh dan otaknya pun ternyata dapat bekerja dengan baik. Uling adalah sebangsa binatang air yang mirip dengan ular dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia adalah belut raksasa. Tetapi anak ini dapat menangkapnya.

Sebentar kemudian terdengar suara Nyai Ageng Gajah Sora nyaring. Rupanya Nyai Ageng sedang memarahi Arya Salaka. Kemudian terdengarlah langkah Arya berlari-lari keluar dan langsung meloncat memanjat sebatang pohon. Dari sana ia meloncat ke atas atap yang dibuat dari papan, untuk bersembunyi.

Setelah itu tampak Nyai Ageng menyusul di belakang, tetapi Arya Salaka telah lenyap. Mahesa Jenar segera memalingkan kepalanya, dan pura-pura tidak mengetahui.

Tetapi ketika Nyai Ageng melihatnya, segera ia mendekati Mahesa Jenar, ”Kami mendapat tamu dari Pamingit, Adik dari Ki Ageng. Barangkali Adi Lembu Sora dapat memperkenalkan diri dengan Adi Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar pura-pura terkejut lalu membalikkan dirinya. ”Baiklah Nyai Ageng, sebaiknya aku mandi dulu,” jawabnya.

”Silakanlah Adi,” katanya kemudian. Lalu ditinggalkannya Mahesa Jenar kembali seorng diri.

Dengan langkah-langkah segan Mahesa Jenar pergi menuruni tangga batu yang dibuat di lereng bukit di samping rumah Ki Ageng Gajah Sora, pergi ke mata air. Di sanalah biasanya ia mandi. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk bertemu dengan Lembu Sora. Tetapi sebagai seorang tamu maka tak baik kalau ia menolak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s