BAGAIMANAPUN kuatnya, Arya Salaka adalah seorang anak yang sama sekali tak seimbang dengan lawannya. Maka demikian tangannya yang disilangkan di muka kepalanya itu terbentur tangan lawannya, ia terpental jauh dan hampir saja kepalanya membentur dinding halaman. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dengan cepatnya meloncat dan menangkap Arya Salaka.

Arya Salaka berdesis menahan sakit. Tangannya terasa panas seperti terbakar. Tetapi meskipun demikian ia masih saja akan meloncat maju kalau tidak ditahan oleh Mahesa Jenar, sehingga ia meronta-ronta berusaha melepaskan pegangan itu.

“Lepaskan…, lepaskan aku Paman,” teriak Arya Salaka.

Orang yang diserangnya itu rupanya juga benar-benar marah. “Lepaskan anak kurangajar itu, biar aku pecahkan kepalanya,” katanya.

“Tunggu dulu Arya…. Apakah sebabnya kau menyerang orang itu?” tanya Mahesa Jenar perlahan-lahan.

“Ia berjalan hilir-mudik dan mengintai-intai rumah kami. Mungkin ia seorang penjahat yang akan memasuki rumah kami ini,” jawabnya.

“Tutup mulutmu!” hardik orang itu.

“Tutup sendiri mulutmu,” balas Arya Salaka. “Selama ini, di kota ini tidak ada orang yang bertingkah laku seperti kau. Tak pernah kota ini ada kejahatan seperti kota-kota lain. Dan kau aku kira bukan orang Banyubiru, yang datang untuk membuat onar di sini.”

Mendengar makian Arya Salaka, orang itu tak dapat menahan diri lagi. Karena itu ia melangkah maju dan dengan tangannya yang kuat ia menampar muka Arya Salaka. Tetapi Arya Salaka sudah berada di tangan Mahesa Jenar. Karena itu sudah pasti kalau Mahesa Jenar tidak akan membiarkan begitu saja hal itu terjadi. Maka ketika tangan itu sudah terayun, Mahesa Jenar memutar tubuhnya dan memasang sikunya, sehingga tangan orang itu mengenai siku Mahesa Jenar.

Mengalami perlakuan Mahesa Jenar, orang itu menjadi semakin marah.

“Apamukah anak ini…? Anakmu…? Kalau begitu kau tak pandai mengajar anakmu sehingga anakmu kurangajar,” bentaknya.

“Tunggu dulu…” jawab Mahesa Jenar, “Jangan berlaku kasar terhadap anak-anak. Memang barangkali anak ini terlalu nakal, tetapi biarlah orang tuanya yang mengajarnya. Seharusnya kau melaporkan saja kepada ayah bundanya. Sedang kau sendiri, memang dapat menimbulkan sangkaan yang bukan-bukan. Sikapmu agak mencurigakan.”

Wajah orang itu menjadi merah padam. Kata-kata Mahesa Jenar sangat menusuk perasaannya. Karena itu, hampir berteriak ia kembali membentak, “Apa hakmu berkata demikian. Adakah kau pengawal kota atau Kepala Daerah Perdikan ini?”

“Aku bukan apa-apanya,” jawab Mahesa Jenar, masih setenang tadi. “Tetapi tiap-tiap warga kota ini berhak turut serta menjaga keamanan kotanya. Dan bukankah kau bukan penduduk Banyubiru?”

Mata orang itu menjadi semakin berapi-api. Tetapi rupanya ada sesuatu pertimbangan yang menahannya untuk tidak berbuat sesuatu. Akhirnya ia berkata lantang, “Tak ada gunanya aku melayani orang-orang gila macam kau dan anak itu.”

Lalu ia memutar tubuhnya, dan melangkah pergi. Tetapi kali ini Mahesa Jenar yang kemudian tidak membiarkan orang itu pergi. Ia segera menahannya.

“Nanti dulu, bukankah kau bermaksud melaporkan anak ini kepada ayahnya. Nah, marilah aku antar kau kepadanya. Ayah anak ini adalah Ki Ageng Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, segera wajah orang itu berubah. Sebentar kemudian nampak ia menjadi pucat dan gemetar. Tetapi sebentar kemudian kembali wajahnya menyala-nyala. Kemudian kembali ia melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Melihat sikapnya, Mahesa Jenar bertambah curiga. Segera Arya Salaka dilepaskan dan didorongnya ke pinggir, sedangkan ia sendiri segera meloncat untuk menghadang orang yang dicurigainya itu. “Tunggu dulu… urusan kita belum selesai,” katanya.

Terdengar gigi orang itu gemeretak menahan marah. Sikap Mahesa Jenar dirasa sudah keterlaluan. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk menghindari bentrokan. “Tidak ada persoalan diantara kita, sebaiknya kau jangan memulainya,” kata orang itu.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu segera tertarik dan mengerumuninya. Mereka mengenal Mahesa Jenar sebagai sahabat Ki Ageng Gajah Sora. Beberapa orang diantara mereka bertanya-tanya, apakah yang terjadi…?

Belum lagi Mahesa Jenar sempat menjawab, Arya Salaka telah mendahului berceritera dengan suara yang mengalir seperti air terjun.

Orang itu menjadi semakin gelisah, wajahnya kembali menjadi pucat. “Jangan dengarkan omongan anak itu. Sekarang beri aku jalan,” katanya.

“Ki Sanak…” potong Mahesa Jenar, “kenapa kau begitu tergesa-gesa. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu kepada penduduk Banyubiru ini supaya mata mereka tidak menyorotkan pandangan kecurigaan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s