YA…, Ayah…, jawab Arya yang rupanya akan berceritera lebih banyak lagi, tetapi segera disahut oleh Mahesa Jenar, Jadi randu alas itu terkenal dengan tempat kediaman Kaki Klantung?

Begitulah kata orang, jawab Gajah Sora.

Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang pemburu. Yang pertama kami bertemu dengan 10 orang, lalu di sebelah randu alas itu kami temui telapak-telapak kaki kuda, kira-kira sebanyak lima ekor, sambung Mahesa Jenar.

 

 

Mendengar keterangan Mahesa Jenar, Ki Ageng Gajah Sora mengerutkan keningnya. Terbayang pada wajahnya, perasaan yang kurang wajar.

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan keheran-heranan. Mahesa Jenar tahu betul bahwa yang mereka jumpai bukanlah pemburu-pemburu. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu, apakah maksud Mahesa Jenar dengan berkata demikian.

 

 

Suatu kehormatan bagiku, tiba-tiba Ki Ageng Gajah Sora berkata, Sekian banyak pemburu-pemburu telah memerlukan datang berburu ke wilayah Banyu Biru. Memang sebelum ini, sering benar orang pergi berburu babi hutan. Tetapi sekian banyak orang sekaligus adalah suatu hal yang jarang-jarang sekali terjadi.

 

 

Sementara itu, Mahesa Jenar selalu berusaha untuk memperhatikan wajah Ki Ageng Lembu Sora. Tetapi ternyata wajah itu tidak menunjukkan perubahan. Ia mendengarkan saja percakapan Mahesa Jenar dengan Gajah Sora tanpa menaruh perhatian apa-apa.

 

 

Ketika udara menjadi semakin panas, maka Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya dipersilakan beristirahat di gandok kulon, sedang Mahesa Jenar dipersilakan untuk makan siang bersama Arya, sebab yang lain telah mendahuluinya.

 

 

Sementara Mahesa Jenar makan, ia sempat melihat kesibukan Gajah Sora. Rupanya laporannya menarik perhatiannya. Ia memerintahkan beberapa orang untuk melihat lihat keadaan kota di bagian timur, sedang beberapa orang lain diperintahkan untuk mengelilingi bagian kota yang lain.

 

 

Sesudah makan, Mahesa Jenarpun segera kembali ke ruangnya di gandok wetan. Tetapi baru saja ia membaringkan dirinya, didengarnya seseorang mendatanginya. Ternyata orang itu adalah Ki Ageng Gajah Sora.

 

 

Adi… kata Gajah Sora sambil duduk di atas bale-bale panjang di sisi tempat berbaring Mahesa Jenar.

 

Aku sangat tertarik kepada ceriteramu.

 

 

Mahesa Jenar pun segera bangkit. Memang, orang-orang yang aku jumpai itu menarik perhatian, Kakang, jawabnya.

 

 

Bagaimanakah pertimbanganmu tentang orang-orang itu, Adi? tanya Gajah Sora.

 

 

Kesannya kurang baik, jawab Mahesa Jenar. Dan rupa-rupanya Kakang telah mengambil tindakan yang benar. Memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga. Mereka, orang-orang berkuda itu, aku kira sedang berada di hutan-hutan, menanti saat untuk bertindak. Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan.

Limabelas orang adalah jumlah yang kecil, Adi, kata Gajah Sora. Tetapi mungkin tidak hanya itu. Dan apabila mereka dikendalikan oleh tangan yang baik, maka akibatnyapun besar pula.

Nah, baiklah kita tunggu laporan orang-orangku sambil berjaga-jaga. Sekarang aku persilakan Adi beristirahat.

 

 

Kembali Mahesa Jenar ditinggalkan seorang diri di dalam ruang itu. Ia mencoba membayangkan kembali wajah-wajah orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi.

 

 

Pastilah sesuatu akan terjadi di kota ini. Terbayanglah dalam angan-angannya beberapa puluh orang berkuda sedang merayap-rayap mendekati kota, yang selanjutnya pasti akan membuat keributan. Kalau mereka merasa cukup kuat, mungkin mereka akan menyerbu rumah ini untuk mengambil Keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

 

 

Sejenak kemudian Mahesa Jenar mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat, ia dapat melihat Wanamerta dengan beberapa orang pengiring memasuki halaman. Meskipun Wanamerta telah lanjut usia, tetapi nampaklah betapa tangkasnya ia meloncat turun dari kudanya.

 

 

Dengan langkah yang tergesa-gesa, Wanamerta naik ke pendapa untuk menemui Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi sejenak kemudian ia telah turun kembali. Dipanggilnya beberapa orang pengiringnya untuk diberi perintah-perintah. Setelah itu segera orang-orangnya meloncat ke atas kuda masing-masing dan sekejap kemudian mereka telah lenyap di balik regol halaman.

 

 

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia lega melihat kecepatan bertindak Gajah Sora. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampurinya apabila tidak diminta.

 

 

Ketika orang-orang itu telah pergi, Wanamerta kembali ke pendapa, untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Ki Ageng Gajah Sora.

 

 

Sementara itu wajah langit di sebelah barat mulai membayang cahaya kemerah-merahan. Dan sejalan dengan semakin rendahnya matahari, hati Mahesa Jenar menjadi semakin tegang pula. Teringat jelas kata-kata Sima Rodra tua bahwa ia sama sekali belum melepaskan keinginannya untuk memiliki kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

 

 

Mahesa Jenar mulai menghubung-hubungkan, apakah orang-orang berkuda itu mempunyai hubungan dengan kata-kata Sima Rodra itu.

Belum lagi ia mendapat suatu kesimpulan apapun, maka masuklah seseorang ke dalam ruangannya untuk meminta Mahesa Jenar naik ke pendapa.

 

 

Di dalam pendapa itu ternyata telah hadir pula kecuali Wanamerta, juga Ki Ageng Lembu Sora dan beberapa orang pengiringnya. Juga tampak beberapa orang pembantu Gajah Sora dalam melakukan tugasnya sebagai kepala daerah perdikan.

 

 

Menghadapi beberapa tokoh itu, Mahesa Jenar teringat pada masa-masa ia masih menjadi seorang prajurit. Sesudah itu, ia biasa menghadapi setiap masalah seorang diri. Dan sekarang ia akan menghadapi suatu masalah, dimana ia tidak berdiri sendiri. Karena itu disamping ketegangan yang ada di dalam hatinya, sedikit membersit kegembiraannya pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s