TERNYATA Ki Ageng Gajah Sora pada saat itu sedang membicarakan masalah orang-orang berkuda yang berada di sekitar kota. Orang-orang berkuda itu tidak saja datang dari arah timur seperti yang ditemui oleh Mahesa Jenar, tetapi menurut laporan, orang-orang berkuda semacam itu datang pula dari arah barat. Maka jelaslah sudah bahwa mereka mempunyai maksud yang jahat.

 

 

Pada pertemuan itu Mahesa Jenar mendengar pula kesediaan Ki Ageng Lembu Sora untuk tidak pulang pada hari itu. Ia bermaksud untuk turut serta berjaga-jaga apabila ada hal-hal yang tidak dikehendaki.

 

 

Adi Mahesa Jenar… sebenarnya aku tidak mau mengganggu kesenangan Adi di Banyu Biru ini sebagai seorang tamu. Tetapi tiba-tiba keadaan orang-orang itu mendatangi daerah yang tak berarti sama sekali ini. Kalau mereka bermaksud merampas harta benda, maka di daerah miskin ini sama sekali akan mengecewakan mereka. Tetapi bagaimanapun kami terpaksa mempertahankan diri terhadap apapun yang pernah kami miliki, kata Gajah Sora beberapa saat kemudian.

 

 

Kata-kata itu tegas bagi Mahesa Jenar. Meskipun Gajah Sora tidak menyebut-nyebut tentang kedua pusaka simpanannya, tetapi ia telah minta kepada Mahesa Jenar untuk bersama-sama mempertahankan pusaka-pusaka itu.

 

 

Sementara itu, terdengarlah derap kuda dengan kencangnya berlari memasuki halaman. Seorang pemuda yang tegap kuat segera menghentikan kuda itu dan langsung meloncat turun. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia naik ke pendapa menghadap Ki Ageng Gajah Sora.

 

 

Menilik wajahnya, pasti ia membawa sesuatu berita yang penting. Untuk beberapa lama ia tidak berkata apa-apa sambil memandangi orang-orang yang hadir. Tampaknya ia ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu.

Ki Ageng Gajah Sora melihat keragu-raguannya, maka katanya, Katakanlah apa yang telah kau lihat.

 

 

Ki Ageng… katanya di sela-sela nafasnya yang mengalir cepat, Pasukan Paman Sanepa telah terlibat dalam suatu pertempuran dengan kira-kira 30 orang berkuda yang datang dari arah barat.

Tigapuluh…? ulang Gajah Sora.

Ya, Ki Ageng, jawab pemuda itu.

Berapa orang yang dibawa oleh pamanmu? tanya Ki Ageng.

 

 

25 Orang, Ki Ageng, jawabnya.

 

 

Seimbang, kata Ki Ageng. Tetapi kau boleh membawa orang-orang Sanjaya bersamamu. Nah, pergilah. Di sana ada 10 orang.

 

 

Baik, Ki Ageng. Lalu dengan tangkasnya ia meloncat turun dan dengan kecepatan luar biasa, ia naik ke punggung kudanya. Sekejap kemudian derap kuda itu telah semakin jauh dan lenyap.

 

 

Kita sudah mulai, kata Gajah Sora yang tampaknya masih tenang saja.

 

 

Kakang Wanamerta, sambung Gajah Sora, Suruhlah membunyikan tanda bahaya, supaya orang-orang kita di segenap arah mempersiapkan diri dan mengerti bahwa di salah satu sudut kota ini telah terjadi bentrokan.

 

 

Wanamerta segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh kota Banyubiru, bunyi titir yang bersahut-sahutan.

 

 

Orang-orang yang duduk di pendapa itu wajahnya menjadi bertambah tegang. Mereka masih menanti perintah, apakah yang harus mereka kerjakan.

 

 

Tetapi Ki Ageng Gajah Sora sendiri dapat melakukan tugasnya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

 

 

Pada saat itu gelap malam telah mulai turun. Batang-batang pohon di halaman menjadi semakin kabur diselubungi oleh kehitaman malam yang bertambah pekat.

Tiba-tiba di daerah utara tampaklah langit berwarna darah. Disusul oleh bunyi kentongan tiga kali lima kali ganda, berturut-turut.

 

 

Kebakaran, kata Wanamerta.

 

 

Dengan mata yang memancarkan kemarahan Ki Ageng Gajah Sora memandang kearah langit yang membara diarah utara itu. Tetapi meskipun demikian ia masih bersikap tenang.

 

 

Siapakah yang berada di sana? tanya Gajah Sora kepada Wanamerta.

Adi Pandan Kuning, jawab Wanamerta singkat.

Pandan Kuning…? ulang Gajah Sora.

Ya.

 

 

Kalau begitu mereka pasti terdiri dari orang-orang pilihan pula, sehingga di hadapan Paman Pandan Kuning, mereka berhasil membakar rumah, kata Gajah Sora hampir bergumam.

 

 

Paman…, kata Gajah Sora kemudian, Suruh seseorang sediakan kuda-kuda kami.

Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan perlahan-lahan tetapi artinya adalah besar sekali. Gajah Sora sendiri telah merasa perlu untuk sewaktu-waktu bertindak. Menurut perhitungannya, orang-orang yang mendatangi Banyubiru itu pasti terdiri dari orang-orang yang tak dapat direndahkan.

 

 

Wanamerta tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Ki Ageng Lembu Sorapun telah memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s