PERTEMPURAN berlangsung terus dengan hebatnya. Laskar Banyu Biru telah berjuang mati-matian untuk mencoba mempertahankan tanah mereka serta seluruh isinya.

 

 

Dengan munculnya Lembu Sora, keadaan sudah mulai berubah. Lembu Sora ternyata juga merupakan seorang laki-laki yang luar biasa. Pedangnya yang terlalu besar menurut ukuran biasa itu berputar seperti baling-baling yang dengan dahsyatnya selalu melingkari lawannya dengan serangan-serangan maut.

 

 

Tetapi lawan Lembu Sora pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Sayang bahwa jarak mereka agak jauh dari Mahesa Jenar. Apalagi prajurit-prajurit yang sedang bertempur itu selalu bergerak-gerak membayangi pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas.

 

 

Karena tertarik kepada kedua orang pemimpin gerombolan yang perkasa itu, Mahesa Jenar ingin lebih mendekat lagi. Maka segera ia turun dari kudanya dan mengikatkan kuda itu pada sebatang pohon. Dengan perlahan-lahan, ia menerobos medan yang sedang ribut, ia berjalan mendekati Lembu Sora.

 

 

Beberapa kali Mahesa Jenar mendapat serangan dari laskar-laskar gerombolan itu, tetapi dengan satu-dua gerakan saja Mahesa Jenar telah dapat merobohkan mereka.

Di bagian lain, di tengah pertempuran itu tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh rendah. Rupanya Laskar Banyubiru ketika melihat kepala daerah mereka yang perkasa terjun ke arena, mereka menjadi gembira sekali.

 

 

Tiba-tiba, seolah-olah tubuh mereka masing-masing mendapat tambahan kekuatan yang hebat. Karena itu mereka bersorak-sorak gemuruh. Dan bersamaan dengan itu gerak mereka menjadi lebih dahsyat.

 

 

Sorak sorai itu segera disambut oleh hampir seluruh Laskar Banyubiru yang berada di arena itu.

 

 

Dengan kehadiran Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera keadaan medan menjadi berubah. Laskar dari kedua gerombolan yang semula bertempur satu sama lain, memusatkan kekuatan mereka untuk menggempur Laskar Banyubiru.

 

Meskipun demikian, Laskar Banyubiru kini kekuatannya sudah jauh bertambah.

 

 

Sejalan dengan itu, lawan Pandan Kuning yang semula bertempur berpasangan, dan kemudian harus melawan seorang diri, merasakan juga tekanan yang semakin berat. Karena itu ia bertempur semakin seru serta mengerahkan seluruh tenaganya. Apalagi ketika didengarnya Laskar Banyubiru bersorak-sorak.

 

 

Tiba-tiba dari arah lain terdengarlah sebuah suitan nyaring. Disusul dengan bunyi suitan pula dari orang yang sedang bertempur melawan Pandan Kuning.

 

 

Rupanya suitan-suitan itu merupakan tanda-tanda dan perintah. Segera tampaklah beberapa laskar gerombolan berlontaran menyerbu Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Mereka mencoba untuk mengganti kedudukan pemimpinnya yang dengan satu gerakan dahsyat memecahkan kepungan Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Ia melepaskan diri dari pertempuran itu untuk dapat langsung menghadapi Gajah Sora.

 

 

Maka ketika orang itu telah berdiri di luar lingkaran, Mahesa Jenar segera dapat melihatnya dengan jelas. Dan pada saat itu pula rasanya jantung Mahesa Jenar menggelegak hebat.

 

 

Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya, adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.

 

 

Lawa Ijo…. geram Mahesa Jenar diantara suara gemeretak giginya yang beradu dengan kerasnya.

 

 

Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama dengan Lawa Ijo.

 

 

Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai, sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur.

 

 

Sebuah permainan gila-gilaan, desis Mahesa Jenar. Tubuhnya menjadi gemetar menahan deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah.

Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari Mahesa Jenar.

 

 

Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah segar bugar kembali.

 

 

Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s