SEGERA Mahesa Jenar tertarik pada bayangan itu. Dan untuk sementara ia lupa bahwa ia sedang menonton pertempuran antara dua orang tokoh hitam yang gagah itu.

 

 

Oleh karena itu ia segera meloncat memburu ke arah bayangan yang tampaknya hanya samar-samar, dan selalu bergerak-gerak itu. Ketika sudah dekat, barulah ia dapat melihat agak jelas bahwa dalam kepekatan malam yang hanya dapat dicapai samar-samar oleh sinar-sinar api yang masih berkobar-kobar itu, ada dua orang yang sedang bertempur pula.

 

 

Tetapi pertempuran ini sangat mengejutkan hati Mahesa Jenar. Kedua orang yang sedang bertempur itu ternyata memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Mereka bergerak-gerak, berputar-putar dan meloncat-loncat seperti tubuhnya tidak memiliki berat. Bahkan kadang-kadang kedua orang itu meloncat tinggi berputar di udara, dan kadang-kadang hampir seperti terapung-apung untuk beberapa saat. Tetapi kadang-kadang mereka berubah menjadi dua orang yang seolah-olah bertubuh besi yang saling membentur, menghantam dengan kuatnya, seakan-akan mereka bukan manusia-manusia yang tubuhnya terdiri dari daging dan tulang-tulang yang dapat patah.

 

 

Melihat bayangan yang bertempur dengan hebatnya itu Mahesa Jenar tertegun heran.

 

Pastilah kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi.

 

 

Sementara itu, rupanya Gajah Sora melihat pula dua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata seperti juga Mahesa Jenar, ia pun berusaha untuk mendekat.

 

 

Siapakah mereka? tanya Gajah Sora.

 

 

Mahesa Jenar menggelengkan kepala. Entahlah, jawabnya.

Marilah dengan hati-hati kita dekati, mereka pasti tergolong dalam angkatan yang jauh di atas kita, sambung Gajah Sora.

 

 

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi apa yang dikatakan oleh Gajah Sora itu memang sudah terpikir olehnya. Karena itu segera ia pun menyusup ke sebuah halaman dan dengan mengendap-endap bersama Gajah Sora, berusaha untuk mendekati dua orang yang sedang bertempur dengan hebatnya itu.

 

 

Untuk mendekati tempat pertarungan itu tidaklah sulit bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora, sebab mereka bertempur di satu tempat yang sempit tanpa berkisar dari satu titik, yaitu di tengah jalan dusun di ujung desa.

 

 

Semakin dekat mereka dengan titik pertarungan itu, menjadi semakin jelas pula ketinggian ilmu kedua orang yang bertanding itu. Mereka saling menghantam, menangkap dan membanting lawannya. Tetapi demikian salah seorang terlempar ke atas tanah, demikian ia melenting dan tegak kembali untuk dalam sekejap telah dapat membalas menyerang pula.

 

 

Gajah Sora dan Mahesa Jenar tergolong orang-orang yang memiliki kesaktian yang tidak kecil artinya di kalangan orang-orang perkasa. Tetapi melihat cara kedua orang itu bertempur terasalah bahwa ilmu mereka itu baru merupakan ilmu yang permulaan saja.

 

 

Ketika mereka berdua, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, sedang terikat oleh pertempuran itu, tiba-tiba terdengarlah salah seorang diantara mereka berkata, Hei, apa kerjamu di sini?

 

 

Gajah Sora dan Mahesa Jenar terkejut bukan main. Mereka berdua berada di tempat yang terlindung dan gelap. Sedangkan mereka berdua saja masih belum sempat menyaksikan kedua orang yang berdiri di tengah jalan itu dengan baik, tetapi justru salah seorang diantaranya sudah dapat melihat mereka yang berlindung.

 

 

Untuk sementara Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih berdiam diri. Mungkin bukan mereka yang disapa.

 

 

Rupa-rupanya kau sengaja memanggilnya supaya membantumu, jawab yang lain masih sambil bertempur.

 

 

Tutup mulutmu, bentak yang lain pula. Jangan terlalu sombong. Kau kira bahwa aku tak mampu melawanmu.

 

 

Yang lain diam tak menjawab, tetapi rasanya mereka bertempur semakin seru.

Ketika sesaat kemudian Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih belum menjawab, kembali terdengar suara orang yang pertama.

 

 

Hai Gajah Sora dan Mahesa Jenar, kenapa kau berdiri seperti patung di situ?

 

 

Mendengar nama mereka disebut, baru Gajah Sora dan Mahesa Jenar yakin bahwa benar-benar mereka berdualah yang disapa oleh orang itu. Tetapi belum lagi salah seorang menjawab, terdengar suara orang kedua, Hei, kenapa kalian tak membantu bapakmu yang sudah hampir kehabisan napas?

 

 

Mendengar kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tersentak. Mereka tidak perlu lagi bersembunyi-sembunyi. Karena itu mereka berdua meloncat mendekat.

 

Ketika mereka sudah demikian dekat, barulah mereka tahu bahwa benar-benar Ki Ageng Sora Dipayana yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu melawan seorang bertubuh raksasa yang mempunyai kesaktian sejajar pula. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum mengenal orang itu.

 

 

Gajah Sora… kata Ki Ageng Sora Dipayana tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari lawan-lawannya. Kenapa kau begitu bodoh meninggalkan rumahmu tak terjaga?

 

 

Paman Wanamerta, Sawungrana dan Panjawi dengan pasukannya berjaga-jaga di sana, Ayah, jawabnya.

 

 

Apa arti dari mereka bertiga. Pulanglah. Ajak Mahesa Jenar. Tinggalkan Lembu Sora bersamaku di sini, perintahnya. Bukankah laskarmu di sini tidak banyak menderita kekalahan?

 

 

Mereka memberikan tanda kekalahan itu, Ayah, jawab Gajah Sora.

 

 

Akh… kau memang terlalu muda digugah kemarahan Gajah Sora. Prajurit Banyubiru meskipun terpaksa menarik pasukannya beberapa kali tetapi masih belum memberi tanda kekalahan. Paling-paling mereka akan minta bantuan laskar cadangan.

 

 

Tetapi tanda itu telah dibunyikan, Ayah…. Gajah Sora mencoba menjelaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s