TERNYATA mereka adalah dua orang yang sedang bertempur pula.

 

Gerakan-gerakan mereka tampak aneh dan cepat seperti dua ekor burung yang sedang berlaga, sambar menyambar. Sebentar mereka berloncatan dan berkelahi diatas dinding pohon beringin yang hanya secengkal tebalnya. Tetapi seolah-olah kaki mereka memiliki alat perekat, sehingga mereka tidak dapat jatuh. Yang mengagumkan kadang-kadang mereka berloncatan dan berkejaran diantara ranting-ranting dan sulur beringin tua itu, dengan gerakan yang seolah-olah mereka berada diatas tanah saja.

 

 

Melihat mereka yang bertempur itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar menarik kekang kudanya, dan berhenti beberapa langkah dari pohon beringin itu. Didalam gelap malam serta gerak-gerak yang melontar kesana kemari, agak sulitlah bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora untuk segera mengenal orang yang sedang berkelahi itu. Tetapi menilik gerak serta cara mereka, pastilah mereka tergolong dalam tataran yang sama tinggi dengan Ki Ageng Sora Dipayana.

 

 

Beberapa kali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melarikan kudanya melingkari pohon beringin itu. Tetapi setiap kali mereka hanya melihat bayangan yang berloncatan dan lenyap di balik pohon beringin itu.

 

 

Namun bagaimanapun, Gajah Sora dan Mahesa Jenar telah memiliki dasar-dasar ilmu kepandaian yang cukup, sehingga meskipun agak lama akhirnya dengan terperanjat sekali mereka melihat salah seorang diantaranya mengenakan jubah abu-abu dan bertopeng kayu yang kasar buatannya, sehingga mirip dengan wajah hantu.

 

 

Pasingsingan, desis Mahesa Jenar.

Ya, Pasingsingan, ulang Gajah Sora.

 

 

Belum lagi mereka dapat mengenal dengan baik yang satu lagi, terdengarlah lawan Pasingsingan itu berkata, Hai anak-anak bodoh, jangan menonton seperti menonton adu jago. Lebih baik kau pulang dan lihat barang-barangmu.

 

 

Mendengar suara orang itu, darah Mahesa Jenar tersirap. Ia pernah mendengar suara itu dan bahkan ia pernah menerima perintahnya untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

 

 

Maka dengan tak disengaja ia berteriak, Bukankah tuan Ki Ageng Pandan Alas

 

 

Maka jawab orang itu, Ingatanmu baik sekali Mahesa Jenar, tetapi lekaslah pergi.

 

 

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dua tokoh sakti telah memperingatkan mereka mengenai pusaka-pusaka itu. Maka segera mereka memutar kuda mereka dan dilarikan menuju ke halaman rumah Gajah Sora. Dalam waktu yang pendek itu Gajah Sora sempat bertanya, Beliaukah Ki Ageng Pandan Alas?

 

 

Ya, beliaulah. Apakah Kakang Gajah Sora belum pernah mengenalnya? kata Mahesa Jenar.

 

 

Pernah, tetapi sudah lama sekali, jawab Gajah Sora.

 

 

Sementara itu kuda mereka telah sampai di muka pintu gerbang halaman rumah Gajah Sora. Dua orang penjaga gerbang masih berdiri dengan tegapnya. Ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar datang, segera kedua penjaga itu membungkuk hormat.

 

 

Gajah Sora tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menanyakan tentang keamanan rumahnya, maka kepada dua orang penjaga itu ia bertanya, Apakah yang sudah terjadi?

 

 

Tidak ada apa-apa yang terjadi, Ki Ageng, jawabnya.

 

 

Mendengar jawaban itu perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar agak lega sedikit, tetapi dalam lubuk hati mereka yang paling dalam tersembunyi suatu kebimbangan atas kebenaran keterangan penjaga itu.

 

 

Mereka berdua seolah-olah mendapat suatu firasat yang kurang menenteramkan hati mereka. Maka mereka berdua segera memasuki halaman dan langsung menuju ke pendapa.

 

 

Di pendapa itu tampak Wanamerta dan Sawungrana masih duduk dengan tenangnya. Ketika mereka melihat Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera mereka berdua pun berdiri menyambutnya.

Paman Wanamerta… tidak adakah sesuatu yang terjadi di sini? tanya Gajah Sora tidak sabar.

 

 

Pangestu Anakmas tak ada sesuatu yang terjadi, jawab Wanamerta.

 

 

Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tambah lega mendengar jawaban itu. Sebab Wanamerta dan Sawungrana bukanlah anak kecil yang dapat dipermainkan.

 

 

Di halaman rumah itu masih nampak beberapa orang laskar yang berjaga-jaga berjalan hilir mudik dengan senjata siap di tangan, sedangkan di gandok kulon, tempat pondokan Ki Ageng Lembu Sora pun masih nampak beberapa orangnya ikut berjaga-jaga.

 

 

Bagaimanakah dengan Panjawi? tanya Gajah Sora pula.

Agaknya juga tidak mengalami sesuatu, Anakmas. Baru saja Adi Sawungrana nganglang ke belakang rumah, dan di sana Panjawi tampak selalu bersiaga, jawab Wanamerta,

Syukurlah, desis Gajah Sora.

 

 

Mendengar semua keterangan itu, gelora perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar terasa agak mengendor sedikit, setelah mereka mengalami ketegangan perasaan beberapa saat lamanya. Memang sulit untuk dapat memasuki halaman itu tanpa dilihat oleh salah seorang pengawal. Sebab dinding halaman Gajah Sora cukup tinggi dan gerbangnya pun terjaga rapat.

 

 

Beberapa orang pengawal berjaga-jaga di sekeliling halaman, di setiap tujuh delapan langkah seorang dan melekat dinding halaman. Kalau demikian, maka agaknya peringatan-peringatan yang diberikan oleh Ki Ageng Sora Dipayana maupun Ki Ageng Pandan Alas hanyalah sikap hati-hati dari orang-orang tua saja.

 

 

Tetapi belum lagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar puas menarik nafas lega, tiba-tiba dikejutkan oleh jerit Arya Salaka dari dalam rumah. Serentak mereka berdiri dan dengan kecepatan yang luar biasa mereka meloncat ke arah suara Arya. Wanamerta dan dua tiga orang yang berdiri paling dekat dengan pintu segera mendorongnya dan meloncat masuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s