PASINGSINGAN tidak menunggu jawaban lagi. Dalam waktu sekejap ia telah hilang dari pandangan mereka.

 

 

Maka tinggallah kini Ki Ageng Pandan Alas, Gajah Sora dan Mahesa Jenar yang telah maju pula mendekati Gajah Sora, serta kemudian bersama-sama meloncat dari punggung kuda masing-masing.

 

 

Mahesa Jenar…, kata Ki Ageng Pandan Alas, aku berharap sekali bahwa aku atau kau berdua dapat menyerahkan kembali pusaka-pusaka itu ke Istana Demak. Tetapi rupa-rupanya keadaan belum mengizinkan.

 

 

Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak menjawab sepatah kata pun. Mereka berdua merasa bahwa mereka ternyata tak dapat memenuhi keinginan orang-orang tua.

 

Tampaklah bahwa Ki Ageng Pandan Alas terguncang pula hatinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam serta beberapa kali ia menghela nafas panjang. Sementara itu dari arah utara tampaklah sebuah bayangan yang seolah-olah melayang di udara mendekati mereka bertiga yang berdiri terpaku diantara kedua batang ringin kurung yang masih saja acuh tak acuh pada keadaan di sekitarnya.

 

 

Ternyata bahwa yang datang itu adalah Ki Ageng Sora Dipayana. Ketika dilihatnya bahwa Ki Ageng Pandan Alas berada di situ pula, maka segera ia menyapanya, Selamat malam Adi Pandan Alas, apakah yang telah terjadi di sini?

 

 

Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. Namun dalam dada mereka terasa bahwa jantung mereka berdenyut semakin cepat.

 

 

Selamat malam, Kakang, jawab Pandan Alas. Aku baru saja bermain-main di sini bersama Pasingsingan.

 

 

Pasingsingan…? ulang Sora Dipayana sambil mengerutkan keningnya. Rupa-rupanya ia datang bersama muridnya Lawa Ijo.

Rupa-rupanya orang itu benar-benar menginginkan kedua pusaka Demak yang disimpan oleh putramu, jawab Ki Ageng Pandan Alas.

 

 

Tidak hanya Pasingsingan, jawab Sora Dipayana. Untunglah bahwa Adi berada pula di sini, sebab aku tadi sedang sibuk melayani tamu dari Lodaya.

Sima Rodra? potong Pandan Alas.

Ya, ia datang bersama menantunya, dengan maksud yang sama.

Hebat…, hebat sekali, desis Pandan Alas. Setan dari Lodaya itu memerlukan datang pula.

Tetapi… sambung Pandan Alas setengah berbisik, tanyakanlah kepada putramu apa yang telah terjadi.

 

 

Tampaklah Ki Ageng Sora Dipayana menarik alisnya sehingga hampir bertemu.

 

 

Ada apa Gajah Sora…? Agaknya telah terjadi sesuatu? tanya Ki Ageng Sora Dipayana kepada Gajah Sora.

 

 

Maka segera Gajah Sora menceriterakan tentang apa yang telah dilihatnya pada saat lenyapnya Nagasasra dan Sabuk Inten dari rumahnya.

 

 

Mendengar keterangan Gajah Sora, hati Ki Ageng Sora Dipayana terguncang hebat, sampai tubuhnya menggigil. Wajahnya yang bening itu segera menjadi seolah-olah diaduk oleh kemarahannya.

 

 

Setan manakah yang telah mengganggu kami itu? geramnya.

 

 

Adi Pandan Alas… katanya kemudian, bukankah kau tidak melepaskan Pasingsingan itu barang sekejap?

 

 

Tidak, Kakang, jawab Pandan Alas. Ia tetap dalam pengawasanku.

 

 

Kembali keadaan menjadi sunyi. Kesunyian yang tegang. Masing-masing dikuasai oleh perasaan yang bercampur baur diantara marah, kesal dan kecewa.

 

 

Akhirnya berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, Gajah Sora dan Mahesa Jenar… memang apa yang terjadi adalah diluar kemampuanmu berdua. Apalagi kalian, kami yang tua-tua inipun menjadi pusing karenanya. Mungkin ada sesuatu yang tak beres pada Pasingsingan itu. Bukankah begitu Adi Pandan Alas?

 

Pandan Alas mengangguk mengiyakan. Lalu ia berkata, Aku menjadi sulit untuk mengatakan tentang Pasingsingan. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang tidak wajar. Meskipun demikian aku masih belum berani meyakinkan bahwa ada lebih dari satu Pasingsingan.

 

 

Kalau begitu marilah kita lihat rumah itu, ajak Sora Dipayana. Barangkali ada sesuatu yang dapat menunjukkan tanda-tanda siapakah yang telah mengambil kedua keris itu.

 

 

Maka segera berangkatlah mereka menuju ke rumah Gajah Sora, setelah Gajah Sora memungut kembali pusakanya. Mereka menjadi terkejut ketika mereka melihat kesibukan yang luar biasa. Segera mereka meloncat lebih cepat untuk segera dapat mengetahui apakah yang telah terjadi. Ternyata di Pringgitan, mereka melihat Wanamerta dan Sawungrana menggeletak tak sadarkan diri, sedang di sudut yang lain Panjawi yang luka parah menggeletak tak berdaya. Ketika mereka melangkah memasuki bagian dalam rumah Gajah Sora, mereka melihat Nyai Ageng Gajah Sora duduk bersimpuh, sedang di pangkuannya terletak kepala Arya yang masih pingsan.

 

 

Melihat kejadian itu semua, kembali Gajah Sora tergugah kemarahannya. Tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga karena itu giginya terdengar gemeretak dan nafasnya berjalan semakin cepat.

 

 

Sebenarnya ketika Sora Dipayana menyaksikan kejadian itu, hatinya tergetar pula.

 

Tetapi wajahnya nampak tenang-tenang saja. Perlahan-lahan Sora Dipayana membungkuk, meraba dada Arya dan meneliti bagian-bagian tubuhnya yang lain. Dari ceritera Gajah Sora, ia sudah tahu apakah yang menyebabkan Arya luka-luka. Tetapi tentang Wanamerta, Sawungrana, Panjawi serta beberapa orang pengawal yang lain, belumlah diketahuinya.

 

 

Di depan ruang tidur Gajah Sora masih menggeletak sesosok tubuh yang masih belum dikenal. Apakah yang sudah terjadi dengan Paman Wanamerta dan yang lain-lain?

Tiba-tiba terdengar suara Gajah Sora gemetar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s