TIBA-TIBA tanpa disengaja, pandangan mata Gajah Sora terlempar ke arah sesosok tubuh yang masih belum ada seorang pun yang berani mengubah letaknya, yang menggeletak di muka ruang tidur Gajah Sora. Seketika itu dadanya menggelora kembali, tetapi dicobanya untuk menenangkan dirinya. Perlahan-lahan ia berdiri dan memeriksa mayat yang masih belum berkisar sama sekali itu. Tetapi pada mayat itu sama sekali tak dijumpainya tanda-tanda apapun yang dapat memberi petunjuk tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Karena itu ia pun segera duduk kembali.

Suasana di dalam rumah itu kembali dikuasai oleh kesepian yang menekan, tetapi didalam setiap dada orang-orang yang berada di dalam rumah itu bergulatlah perasaan-perasaan yang simpang siur.

 

 

Dalam kesepian malam, di sela-sela gonggong anjing-anjing liar dan pekik burung-burung malam, lamat-lamat terdengarlah derap kaki kuda yang menderu-deru, semakin lama semakin dekat. Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mengangkat kepalanya untuk mengetahui dari manakah datangnya suara-suara itu.

 

 

Suara itu ternyata adalah suara derap dari berpuluh-puluh ekor kuda. Tetapi karena sampai beberapa lama masih tidak terdengar tanda apapun, maka tahulah mereka bahwa rombongan itu pasti bukanlah rombongan dari orang-orang yang menyerang Banyubiru.

 

 

Dan apa yang diduganya adalah benar. Rombongan itu adalah rombongan dari Laskar Banyubiru yang telah berhasil mengusir laskar-laskar yang menyerbu daerah mereka. Diantara mereka adalah Ki Ageng Lembu Sora, Pandan Kuning, dan tokoh-tokoh lainnya.

 

 

Sampai di halaman rumah Gajah Sora, segera mereka turun dari kuda masing-masing. Dengan wajah berseri-seri mereka segera masuk. Tetapi demikian mereka melangkah masuk, segera mereka menjadi terkejut dan bertanya-tanya. Di hadapan mereka terkapar sesosok mayat, sedang di bale-bale di sisi-sisi ruangan itu terbaring pula Wanamerta, Sawungrana, Panjawi dan beberapa orang lagi.

 

 

Apakah yang terjadi di rumah ini, Anakmas? tanya Pandan Kuning gugup.

Beberapa orang telah datang ke rumah ini dan mengaduk segala isinya, jawab Gajah Sora.

 

 

Lembu Sora ketika melihat orang yang terbaring di depan ruang tidur Gajah Sora itu, menjadi terkejut. Wajahnya segera berubah. Tetapi sebentar kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali. Meskipun demikian segera ia melangkah masuk, langsung menuju ke arah mayat yang masih terkapar itu. Dengan kakinya ia menggerak-gerakkan tubuh itu dan membalikkannya sehingga mayat itu terlentang.

 

 

Bagaimanapun Lembu Sora mencoba menahan hatinya, Mahesa Jenar dapat menangkap suatu kesan yang aneh pada wajah Lembu Sora itu.

 

 

Siapakah orang ini, Kakang? tanya Lembu Sora kepada Gajah Sora.

 

 

Gajah Sora sama sekali tidak memperhatikan wajah adiknya sehingga tak suatu pun dapat ditangkap dari kelakuan Lembu Sora, yang menurut tangkapan Mahesa Jenar agak kurang wajar.

 

 

Entahlah, Adik, jawab Gajah Sora. Ia termasuk salah seorang dari tiga orang yang telah memasuki rumah ini.

 

 

Tiga orang? ulang Lembu Sora terkejut.

 

 

Ya, tiga orang. Dan satu dapat dibinasakan. Dialah orangnya yang tak beruntung, dapat dibunuh oleh Arya dengan tombak pusaka Kiai Banyak, sambung Gajah Sora.

 

 

Arya dapat membunuh orang ini?

 

 

Agaknya, bagi Lembu Sora sangatlah mustahil bahwa Arya dapat berbuat demikian.

 

 

Gajah Sora mengangguk mengiyakan.

 

 

Siapakah yang dua lagi? tanya Lembu Sora lebih lanjut.

 

 

Yang kedua, aku tidak tahu, jawab Gajah Sora. Sedang yang ketiga adalah Bugel Kaliki.

 

 

Bugel Kaliki…? Siapakah orang itu? tanya Lembu Sora.

 

 

Akhirnya Gajah Sora dengan agak segan-segan terpaksa menceriterakan tentang kedatangan tokoh-tokoh sakti ke dalam rumah ini.

 

 

Adakah salah seorang dari mereka berhasil mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten? tanya Lembu Sora lebih lanjut.

 

 

Orang kedua yang tak kukenal itulah yang membawanya, jawab Gajah Sora.

 

 

Mendengar jawaban itu, wajah Lembu Sora berubah menjadi merah membara. Tubuhnya gemetar serta giginya gemeretak. Rupa-rupanya ia pun marah sekali akan hilangnya kedua pusaka simpanan kakaknya itu.

 

 

Tetapi dalam tanggapan Mahesa Jenar, sama sekali bukanlah demikian. Bagaimanapun ia sudah mempunyai prasangka yang tidak baik terhadap Lembu Sora.

Tidakkah Kakang dapat mencurigai seseorang? kata Lembu Sora tiba-tiba.

 

 

Mendengar kata-kata adiknya itu Gajah Sora terkejut. Ia tidak tahu maksud kata-kata itu. Melihat kesan itu, Lembu Sora menyambung, Kakang.., aku percaya akan kesetiaan rakyat Banyubiru terhadap Kakang, sehingga tidaklah mungkin mereka mau mengkhianati Kakang. Tetapi ternyata keris itu lenyap juga, meskipun menilik cara penjagaan halaman ini adalah tidak mungkin sama sekali, kecuali orang macam Bugel Kaliki. Tetapi barangkali Kakang lupa, bahwa diantara rakyat Banyubiru yang setia ini, di dalam rumah ini terdapat orang lain.

 

 

Kata-kata yang diucapkan dengan tegas itu terdengar di telinga Mahesa Jenar seperti petir yang meledak di tengkuknya.

 

 

Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit yang berwatak ksatria serta benar-benar seorang laki-laki jantan. Ia sendiri sangat membenci sifat-sifat licik dan curang.

 

 

Sekarang didengarnya lewat telinganya sendiri, seseorang memfitnahnya, menuduhnya berbuat curang dan pengkhianatan terhadap Gajah Sora, yang meskipun belum begitu lama dikenalnya, tetapi karena sifat-sifatnya serta persamaan tujuan, maka orang itu sudah dianggapnya lebih dari seorang sahabat biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s