BELUM lagi habis kata-kata Mahesa Jenar, sayup-sayup menyusur lereng perbukitan terdengarlah suara sangkakala bergema. Mahesa Jenar terkejut mendengar suara itu. Maka tanpa sesadarnya ia berkata – Itulah pasukan dari Demak.-

 

 

Dari Demak? ulang Arya.

 

 

Mahesa Jenar memandang wajah Arya yang masih memancarkan kebeningan hatinya itu dengan saksama. Meskipun anak itu nakalnya bukan main, tetapi hatinya bersih, sebersih hati ayahnya.

 

 

Marilah kita lihat, ajaknya.

 

 

Kemudian mereka berdua melarikan kuda mereka naik ke lereng yang lebih tinggi lagi. Dari sana dapatlah mereka melihat sebuah iring-iringan besar berjalan perlahan-lahan seperti semut yang merayapi dinding-dinding batu.

 

 

Mahesa Jenar menjadi terkejut bukan kepalang, ketika ia melihat pasukan Demak itu berjalan sudah dengan gelar perang. Bukan lagi merupakan barisan yang akan mengunjungi sebuah wilayah kerajaannya. Gelar itu merupakan gelar yang langsung akan dapat menghantam pertahanan lawan. Yaitu gelar Cakra Byuha.

 

 

Hati Mahesa Jenar berdebar sangat kerasnya. Mungkin beberapa penyelidik dari Demak telah menangkap tanda bahwa yang sudah dibunyikan oleh Gajah Sora, serta mereka mungkin salah terima terhadap nyala yang tidak boleh tidak pasti mereka saksikan. Nyala api yang ditimbulkan oleh kelakuan gerombolang Uling dari Rawapening, yang merasa sangat berkepentingan apabila di Banyubiru timbul keributan-keributan.

 

 

Segera Mahesa Jenar pun teringat bahwa Gajah Sora telah pula menyiapkan pasukannya. Maka apabila tidak ada pencegahan, pertempuran yang dahsyat pasti akan terjadi. Karena itu dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mengajak Arya Salaka untuk segera kembali menemui Ki Ageng Gajah Sora.

 

 

Dengan kecepatan penuh, Mahesa Jenar dan Arya Salaka melarikan kuda masing-masing langsung menuju ke alun-alun Banyubiru.

 

 

Ketika mereka sudah memasuki kota, kembali dada Mahesa Jenar terpukul oleh suatu kenyataan bahwa Gajah Sora telah membawa pasukannya untuk menyongsong pasukan Demak itu dengan gelar yang seimbang. Yaitu gelar Gajah Meta.

 

 

Gajah Sora tampak garang di atas kuda putihnya. Di tangannya tergenggam erat pusaka Banyubiru yang sakti, Kyai Bancak. Disampingnya dengan kepala menengadah tampak orang yang telah agak lanjut usianya, tetapi ialah satu-satunya kepercayaan yang tak pernah berkisar dari samping Gajah Sora, yaitu Wanamerta.

 

 

Di sisi yang lain dengan kepala tegak dan dada yang terbuka, seorang pemuda yang kelak akan terkenal namanya sebagai seorang perwira, yaitu Penjawi. Di belakangnya berturut-turut berjalan beberapa perwira pilihan.

 

 

Di belakangnya lagi berkibarlah dengan megahnya bendera-bendera lambang kebesaran tanah perdikan Banyubiru. Panji-panji di atas dasar merah terlukis gambar seekor gajah berwarna kuning keemasan. Di samping bendera itu berkibar pula beberapa panji-panji kemegahan serta umbul-umbul beraneka warna, yang bertangkaikan tombak-tombak yang sudah tak bersarung.

 

 

Melihat pasukan itu, sejenak Mahesa Jenar tertegun. Ia adalah bekas seorang prajurit yang tidak saja satu dua kali mengalami pertempuran-pertempuran hebat. Tetapi ketika ia melihat tata barisan Gajah Sora dan gelar Gajah Meta, hatinya kagum juga. Ia jadi percaya bahwa Laskar Banyubiru merupakan laskar yang sudah masak di bawah pimpinan seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup.

 

 

Tetapi ketika ia teringat akan kemungkinan yang terjadi apabila pasukan ini bertemu dengan pasukan Demak, darahnya menjadi berdesir cepat. Maka segera ia melarikan kudanya, langsung menuju ke arah Gajah Sora.

 

 

Gajah Sora melihat kedatangan Mahesa Jenar, tetapi sikapnya menjadi agak lain dari biasanya. Dengan pandangan kosong, Gajah Sora menghentikan kudanya dan bertanya hambar, Apakah maksud Adi Mahesa Jenar menemui aku?

 

 

Mahesa Jenar merasakan perbedaan sikap ini, tetapi ia tidak peduli. Dengan suara yang perlahan-lahan tetapi jelas ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Orang-orang yang menyaru sebagai prajurit-prajurit Demak telah membakari rumah-rumah penduduk. Dengan demikian maka laporan yang sampai kepada Gajah Sora pasti prajurit-prajurit Demak yang melakukan pembakaran itu.

 

 

Gajah Sora mendengar dengan baik kata-kata Mahesa Jenar, tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah. Meskipun demikian ia bertanya, Lalu apa kata Adi Mahesa Jenar terhadap gelar Cakra Byuha itu?

 

 

Mendengar pertanyaan itu terasa sesuatu berdesir di dada Mahesa Jenar. Rupa-rupanya Gajah Sora telah mengetahui bahwa prajurit Demak mendekati Banyubiru dalam gelar perang yang berbahaya. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Baru kemudian Mahesa Jenar berkata, Kakang Gajah Sora, ini adalah suatu kesalahpahaman yang berbahaya.

 

 

Sudahlah Adi, potong Gajah Sora. Aku sudah mengatakan bahwa aku menyadari kesulitan Adi sekarang ini. Karena itu aku persilahkan Adi kembali saja.

 

 

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak senang mendengar kata-kata Gajah Sora itu, tetapi ketika ia akan menjawab, dilihatnya Gajah Sora melambaikan tangannya, dan iring-iringan itu mulai bergerak kembali. Iring-iringan raksasa yang terdiri ribuan prajurit yang terpecah-pecah menjadi bagian-bagian dalam gelar yang lengkap, Gajah Meta.

 

 

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia merasa bahwa agak terlambat untuk menahan Gajah Sora, namun ia tidak putus asa. Tanpa mengingat kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya apabila ia bertemu dengan prajurit-prajurit Demak, Mahesa Jenar mengikuti perjalanan pasukan Banyubiru, untuk menyongsong kedatangan pasukan-pasukan dari Demak.

 

 

Setelah itu tak sepatah katapun yang terdengar. Masing-masing berjalan tanpa bersuara. Di kepala masing-masing berputarlah berbagai masalah yang berbeda-beda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s