GAJAH SORA tersenyum pahit. Lalu jawabnya, “Aku bukanlah tawanan prajurit yang kalah perang, Panjawi. Hal ini pasti disadari pula oleh orang-orang Demak itu, bahwa aku masih tegak di hadapan pasukanku yang belum pasti dapat mereka kalahkan.”

 

 

“Karena itu berikanlah kepada kami perintah, Ki Ageng,” sahut Panjawi yang agaknya masih berdarah panas.

 

 

“Panjawi…” jawab Gajah Sora, “Memang di dalam tubuhmu mengalir darah jantan sejati. Tetapi dengarlah perintahku baik-baik. Kau dan Wanamerta tetap berada di tempatmu. Jagalah bahwa tak seorang pun dalam pasukan ini yang berkisar dari tempatnya.”

 

 

Mendengar perintah itu, dada Panjawi serasa menerima pukulan yang maha dahsyat, sampai ia memejamkan mata beberapa saat untuk dapat menenangkan perasaannya kembali.

 

 

Adi Mahesa Jenar… kata Gajah Sora kepada Mahesa Jenar yang selama itu dengan penuh pergolakan di dalam dadanya memperhatikan setiap kata-kata Gajah Sora. Wanamerta dan Panjawi, Di manakah Arya?

 

 

Pertanyaan ini mengejutkan benar, sebab untuk beberapa saat Mahesa Jenar telah melupakan anak ini.

 

 

Bukankah tadi anak itu datang di belakang Adi? sambung Gajah Sora.

Benar, Kakang, jawab Mahesa Jenar agak gugup sambil melayangkan pandangannya berkeliling, sampai akhirnya tertumbuk pada seekor kuda hitam dengan seorang anak di punggungnya dan tampaknya dengan enaknya melihat dua pasukan yang hampir bertempur itu seperti melihat rombongan pawai prajurit. Melihat hal itu jantung Mahesa Jenar berdesir. Apakah yang terjadi andaikata kedua pasukan itu benar-benar bertempur, sedangkan Arya berada diatas sebuah gundukan tanah dalam garis serangan sayap kanan pasukan Demak. Andaikata sampai terjadi sesuatu atasnya pastilah ia harus mempertanggungjawabkannya.

 

 

Maka dengan isyarat Arya dipanggil untuk mendekati ayahnya. Tetapi rupa-rupanya anak itu agak takut, sehingga isyarat itu sampai harus diulangi dua kali.

 

 

Ketika Arya telah berada disampingnya, dengan pandangan yang semakin sayu dan kata-kata yang gemetar, Ki Ageng Gajah Sora berkata kepada Arya, Arya…, kau telah pernah mempergunakan tombakku yang sakti ini. Karena itu, pada hari ini tombak ini aku hadiahkan kepadamu.

 

 

Arya yang tidak tahu masalahnya, mendengar kata-kata ayahnya itu menjadi terkejut dan menduga-duga, tetapi sekejap kemudian ia menjadi kegirangan. Wajahnya berseri-seri dan dengan segera ia maju mendekat.

 

 

Sebaliknya adalah Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar. Ketika mereka mendengar kata Gajah Sora itu dada mereka bergoncang hebat. Sebab mereka sadar akan arti kata-kata itu. Dengan demikian maka Ki Ageng Gajah Sora telah menyerahkan pemerintahan Banyubiru kepada putra satu-satunya yang belum dewasa.

 

 

Apakah artinya ini Ki Ageng? tanya Panjawi dengan suara bergetar.

Ayah akan menghadiahkan tombak itu kepadaku, sahut Arya dengan riangnya. Dan bukankah ayah bermaksud mengijinkan aku untuk turut bertempur sekarang ini?

Semua yang mendengar kata-kata Arya itu menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih Gajah Sora sendiri.

 

Arya, aku tidak bermaksud demikian. Sebab hari ini aku akan bepergian jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali. Kaulah yang berhak untuk memiliki pusaka itu, tetapi sementara biarlah pusaka itu kau titipkan kepada eyangmu Wanamerta, kata Gajah Sora dengan suara lembut.

Wajah Arya yang riang itu segera berubah menjadi kecewa dan bertanya-tanya. Pandangannya beredar diantara orang-orang yang berada di sekitarnya seperti minta penjelasan. Akhirnya ia bertanya, Ayah akan pergi jauh sekali?

 

 

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk. Selama ayah pergi, kau tidak boleh nakal Arya. Kau harus menurut segala petunjuk eyangmu Wanamerta. Dan yang akan melanjutkan pelajaranmu dan olah kanuragan adalah pamanmu Mahesa Jenar. Bukankah begitu Adi…?

 

 

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan, tetapi ia tidak dapat berkata lain daripada mengiyakan.

 

 

Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada Meta.

 

 

Tiba-tiba Gajah Sora mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

 

 

Pemimpin pasukan Demak yang rupa-rupanya cukup bijaksana dan tidak berbuat sesuatu, ketika ia menyaksikan Gajah Sora sedang berunding dengan bawahannya, juga mengangkat tangan kanannya untuk menjawab isyarat Gajah Sora.

 

 

Sekali lagi Gajah Sora memandang kepala barisannya. Kemudian ia berkata kepada Wanamerta, Sepeninggalku perintahkan pasukan ini mengundurkan diri, Paman. Aku percayakan Banyubiru dalam kebijaksanaan paman selama aku pergi.

Aku juga minta agar Adi Mahesa Jenar sudi menjadi pelindung daerah yang tak berarti ini. Aku titipkan Arya kepadamu, lanjut Gajah Sora kepada Mahesa Jenar.

 

 

Kemudian, sehabis mengucapkan kata-kata itu, Gajah Sora menarik kekang kudanya yang kemudian berlari dengan kencangnya menuju ke arah pasukan dari Demak.

 

 

Melihat Gajah Sora telah datang seorang diri, pemimpin pasukan dari Demak itupun segera menyongsongnya bersama dua orang pengawalnya.

 

 

Melihat Ki Ageng Gajah Sora pergi seorang diri ke arah pasukan-pasukan dari Demak itu, Arya terkejut. Untuk beberapa saat ia diam kebingungan. Tetapi setelah ingatannya berjalan kembali, ia berteriak memanggil. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat bertindak, menangkap kendali kuda Arya yang hampir berlari memburu.

 

 

Sambil memanggil-manggil ayahnya, Arya meronta-ronta memukul-mukul tangan Mahesa Jenar yang memegang kendali kudanya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s