WANAMERTA memandangi Arya dengan dada yang sesak. Perlahan-lahan ia mendekati anak itu dan menghibur sebisa-bisanya. Namun untuk beberapa saat Arya masih saja berusaha untuk melepaskan tangan Mahesa Jenar dan berteriak-teriak sejadi-jadinya.

 

 

Sebenarnya bukan saja Arya yang menjadi bingung dan meronta-ronta, tetapi segenap hati laskar Banyubiru menjadi bingung, dan meronta-ronta pula. Bahkan kemudian terdengarlah suara bergumam yang semakin lama semakin keras. Bantaran dan Sawungrana tampak menjadi gelisah. Sedang Pandan Kuning yang tak dapat menahan diri lagi berteriak nyaring, Apakah artinya ini semua Kakang Wanamerta…?

 

 

Wanamerta dapat mengerti semuanya itu, dapat mengerti kenapa seluruh laskar Banyubiru menjadi gelisah dan bingung. Karena itu segera ia mengangkat tangannya untuk menenangkan keadaan, sedang tangannya yang lain mengacungkan pusaka Kyai Bancak tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia telah mendapatkan wewenang atas nama Arya Salaka untuk memimpin daerah perdikan Banyubiru.

 

 

Sementara itu keributan agak dapat ditenangkan, tetapi hati laskar Banyubiru itu sama sekali tak dapat ditenangkan. Mereka, dengan darah yang bergelora melihat Ki Ageng Gajah Sora berlari di atas kudanya menemui pemimpin pasukan dari Demak yang datang menyongsongnya. Apalagi beberapa saat kemudian seluruh laskar Banyubiru yang berada di lereng bukit Telamaya itu menyaksikan dengan jelas bahwa pemimpin mereka Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan mereka bersama-sama dengan pemimpin pasukan dari Demak itu, yang sebentar kemudian memberi aba-aba kepada seluruh prajurit Demak untuk menarik gelar Garuda Nglayang itu menjadi suatu barisan tidak dalam gelar perang.

 

 

Rasa-rasanya laskar Banyubiru itu hampir meledak ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka telah pergi menyertai pasukan dari Demak, yang menurut anggapan mereka tidak lebih dari seorang tawanan.

 

 

Dalam keadaan yang demikian, segera Wanamerta membalikkan kudanya dan merasa perlu untuk memberi penjelasan. Segera dengan isyarat tangan ia memanggil segenap pimpinan kelompok dalam kesatuan laskar Banyubiru. Anak-anakku Laskar Banyubiru yang setia kepada pemimpinnya. Atas nama kekuasaan yang telah diserahkan kepada Arya Salaka, aku perintahkan kepadamu untuk tetap tenang, dan setelah ini menarik kembali seluruh laskar kita. Penjelasan mengenai hal ini akan aku berikan kemudian, kata Wanamerta.

 

 

Mendengar keterangan singkat dari seorang kepercayaan Gajah Sora itu beberapa orang menjadi ribut, sedang beberapa orang lagi menjadi kebingungan. Tetapi bagaimanapun laskar Banyubiru adalah laskar yang patuh dan setia sehingga bagaimanapun terjadi pergolakan di dalam dada namun mereka harus mentaati perintah pemimpin mereka atau yang dikuasakan. Dan sekarang, ternyata Wanamerta yang memegang pusaka Kyai Bancak itu berbicara atas nama Pemimpin tanah perdikan Banyubiru.

 

 

Karena itu tak seorangpun yang berani melanggar perintahnya. Panjawi yang sebenarnya sama sekali tidak rela melepaskan Gajah Sora, menjadi gemetar tubuhnya. Wajahnya jadi sebentar merah dan sebentar kemudian memutih pucat hampir seperti mayat. Giginya terdengar gemeretak dan pengertian perasaan yang bercampur aduk antara marah, kecewa, dan bingung, tetapi juga kesadaran dan pengertian bahwa apa yang dikatakan Gajah Sora adalah benar.

 

 

Sementara itu iring-iringan pasukan Demak itu berjalan terus semakin jauh, meninggalkan kepulan debu putih yang segera lenyap disapu angin pegunungan. Sebentar kemudian pasukan yang membawa Ki Ageng Gajah Sora itu lenyap sedikit demi sedikit di tikungan, seperti ditelan oleh anak pegunungan yang menonjol di hadapan laskar Banyubiru itu.

 

 

Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan.

Arya…, marilah kita pulang, kata Wanamerta lembut.

Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.

Pulanglah, Arya… sambung Mahesa Jenar, Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?

 

 

Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.

 

Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru? tanya Arya di sela-sela isaknya.

Pasti, Arya, jawab Mahesa Jenar. Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul.

 

 

Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.

 

 

Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s