TIBA-TIBA tangan Ki Paniling terjulur untuk menangkap baju Mahesa Jenar. Cepat ia mengelak, dan dengan gerakan kuat ia menerkam Paniling. Mahesa Jenar tidak mau didahului oleh orangtua yang masih belum diketahui siapakah dia dan sampai dimanakah kekuatannya.

Dengan menangkap orangtua itu, Mahesa Jenar bermaksud memaksanya untuk menjelaskan siapakah sebenarnya dirinya itu.

Tetapi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang ketika ia sama sekali tak berhasil menyentuh Ki Paniling dalam tempat yang demikian sempitnya. Bahkan tiba-tiba terasa tangannya terpilin dan lenyaplah segenap kekuatannya yang memang belum pulih seluruhnya. Tetapi bagaimanapun ia merasa bahwa Paniling mempunyai kekuatan yang jauh di atas kemampuannya. Bahkan andaikata kekuatannya samasekali tak terganggu sekalipun. Namun orangtua itu akan dapat dengan mudah menangkapnya.

Mengalami peristiwa itu, Mahesa Jenar segera teringat kepada pertemuan-pertemuannya dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana yang juga sama sekali tak diduganya. Dengan demikian ia dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa orang ini pun pasti tergolong angkatan itu pula. Kalau saja orang ini Pasingsingan, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya.

Tetapi tiba-tiba terasa tangkapan pada tangannya itu semakin kendor, semakin kendor, bahkan akhirnya dilepaskan. Dan dengan keheran-keheranan Mahesa Jenar melihat Ki Paniling itu membanting diri diatas bale-bale, yang kemudian dengan kedua telapak tangannya menutupi mukanya.

Mahesa Jenar jadi ragu dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tetapi suatu kelegaan telah membersit di hatinya. Sebab jelas orangtua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya.

Setelah beberapa saat suasana ruangan sempit itu dicengkam oleh kesepian yang tegang, maka perlahan-lahan Ki Paniling mengangkat mukanya. Muka yang tadi tampak merah membara, kini menjadi pucat keputih-putihan. Bahkan dari matanya memancar sinar duka.

Mahesa Jenar jadi merasa bahwa ia telah berbuat sesuatu yang menyebabkan orangtua itu susah. Maka katanya, “Maafkan aku, Bapak, barangkali aku telah berbuat suatu kesalahan.”

Tiba-tiba Ki Paniling tersenyum lebar, namun senyumnya adalah senyum yang pahit. “Tidak, Angger…, Angger tidak berbuat suatu kesalahan. Tetapi akulah yang bodoh. Sebagai orangtua aku telah berbuat sesuatu yang memalukan. Tetapi itu ada sebabnya.”

Mata orangtua itu semakin membayangkan kedukaan yang dalam. Hanya kadang kadang saja ia memandang kepada Mahesa Jenar, tetapi kemudian kembali matanya menatap ke titik-titik, jauh tak terhingga.

Lewat pintu rumah kecil yang belum ditutup itu, terasa angin malam menghembus halus, menggoyang-goyang nyala pelita jarak yang melemparkan cahaya suram ke segenap arah.

Untuk beberapa lama mereka berdua masih berdiam diri. Perlahan-lahan Mahesa Jenar pun kemudian duduk kembali di samping Ki Paniling.

“Angger…” kata Ki Paniling kemudian memecah sepi, “Maksudku hanya ingin mengatakan bahwa ceritera yang Angger dengar itu sama sekali tidak benar. Atau barangkali lebih baik aku katakan bahwa ceritera itu tidak sama dengan ceritera di dalam kitab-kitabku. Mungkin benar kata Angger bahwa kedua ceritera itu ditulis oleh orang yang tidak sama, hanya kebetulan nama tokoh-tokohnya sajalah yang bersamaan.”

“Demikianlah Bapak, ceritera itu bukanlah tidak mungkin bersamaan nama, ” jawab Mahesa Jenar.

“Ceritera yang aku baca, Angger…” kata Paniling, “Pasingsingan adalah orang yang baik hati. Menjunjung tinggi keluhuran budi, serta pasrah diri kepada Yang Maha Agung.”
“Dapatkah aku mendengar ceritera itu, Bapak? ” tanya Mahesa Jenar.
Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. “Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau,” sahut Paniling.
Mahesa Jenar kurang mengerti kepada kata-kata Paniling itu. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sampai akhirnya Paniling berkata kembali, “Baiklah Angger…, aku tidak tahu apakah ada gunanya kalau aku berceritera.
Sebab kau bukanlah anak-anak yang mudah tertidur karena dongeng-dongeng yang menyenangkan serta mengasyikkan.”
Mahesa Jenar menundukkan kepala mendengar kata-kata Ki Paniling yang rupa-rupanya sudah mengetahui maksudnya, memancing-mancing keterangan tentang dirinya.
“Angger Mahesa Jenar…,”kata Ki Paniling lebih lanjut, “Bagian kedua dari ceritera itu mengatakan bahwa setelah kedua murid Pasingsingan itu menjadi dua orang yang hampir mumpuni, maka Pasingsingan ingin menyerahkan jabatannya, meskipun jabatan itu disandangnya atas kemauan sendiri, kepada muridnya yang tua.
Tetapi pada saat itu datanglah seorang yang mengaku murid Pasingsingan yang tertua, yang merasa berhak untuk mengenakan tanda-tanda kebesaran gurunya, yaitu jubah abu-abu, topeng yang kasar dan yang terutama adalah sebuah belati panjang berwarna kuning emas berkilau-kilauan, yang disebut Kyai Suluh, serta cincin bermata batu akik merah menyala yang dinamai Akik Klabang Sayuta. Hampir tak ada orang yang dapat melawan kesaktian belati panjang serta akik Klabang Sayuta itu.”

Sampai sekian terasa punggung Mahesa Jenar meremang. Ia kenal semua benda-benda yang disebutkan itu.

Ia pernah melihat Pasingsingan memegang sebuah pisau belati yang berwarna kuning gemerlapan pada saat orang itu hendak bertempur melawan Ki Ageng Pandan Alas, yang juga terpaksa menarik pusakanya Sigar Penjalin.Sedang akik Klabang Sayuta yang beracun itu, tidak saja ia pernah melihat, tetapi ia pernah merasakan betapa dahsyatnya. Kalau saja di dalam darahnya tidak mengalir bisa Ular Candrasa, entahlah apa yang terjadi atasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s