KI PANILING kemudian melanjutkan ceritanya, Tetapi agaknya Pasingsingan tidak begitu terkena hatinya kepada bekas muridnya yang telah lama meninggalkannya. Karena itu ia tetap pada pendiriannya, menyerahkan semua tanda-tanda jabatannya kepada Radite. Maka pada suatu hari, dengan tidak diketahui oleh siapapun, Pasingsingan telah lenyap. Tetapi jubah abu-abu serta semua miliknya itu ditinggalkannya di dalam ruang tidur Radite. Dan sejak itulah Radite kemudian mengembara dengan nama Pasingsingan untuk mengamalkan kebajikan demi kesejahteraan hidup umat manusia. Dalam pengembaraan itu pula ia berkenalan dengan tokoh-tokoh sakti yang lain, yang juga berusaha untuk menegakkan kebajikan bagi kesejahteraan umat mahusia. Diantara sahabatnya terdapat seorang yang bernama Kiai Ageng Pengging Sepuh, yang kemudian mempunyai seorang murid yang menjadi Prajurit Pengawal Raja bernama Rangga Tohjaya.

Kembali punggung Mahesa Jenar meremang. Bahkan kali ini keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia jadi agak bingung. Ternyata Paniling telah hampir mengetahui keseluruhan dari perjalanan hidupnya. Ia akhirnya malu sendiri, ketika ia merasa bahwa pancingan-pancingannya terasa berhasil untuk memaksa Paniling berceritera. Tetapi agaknya orangtua itu telah dapat menebak seluruh isi hatinya.
Adapun Anggara… Ki Paniling meneruskan, Telah diserahi tugas untuk menunggui tempat pertapaan Pasingsingan. Dan orang itupun dengan setia melakukan kewajibannya.

Tetapi… sambung Ki Paniling dengan nada yang merendah, Peredaran roda tidak selamanya menempuh jalan datar. Radite akhirnya bertemu dengan murid tertua dari Pasingsingan, yang menamakan dirinya Umbaran. Dari segi keperwiraan jasmaniah, maka Umbaran ada di bawah kepandaian Radite.

Ki Paniling berhenti sebentar. Terasa bahwa nafasnya berangsur cepat. Wajahnya tampak semakin pucat sedang matanya semakin sayu. Kemudian ia kembali melanjutkan ceritanya, Karena itu Umbaran tidak dapat memaksa Radite untuk menyerahkan tanda-tanda kebesaran gurunya. Namun demikian ada saja jalan yang dapat ditempuhnya. Dan ini termuat pada bagian ketiga dari kitab ini. Bagian yang paling menyedihkan.

Kembali Ki Paniling berhenti sejenak, kemudian meneruskan ceritanya lagi, Bagaimanapun juga Radite adalah manusia biasa. Meskipun ia telah mengenakan jubah abu-abu, topeng dan pusaka-pusaka lainnya, namun ia tidak dapat melapisi hatinya dengan baja. Hatinya masih saja hati manusia yang lunak dan lemah. Itulah sebabnya ia pada suatu saat jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan inilah sumber dari segala malapetaka. Ketika Umbaran mengetahui, maka segera ia berusaha memikat hati gadis itu. Memang Umbaran memiliki wajah yang tampan, sehingga akhirnya dengan tidak banyak kesulitan ia berhasil menguasai hati gadis itu sepenuhnya. Sedang di lain pihak, hati Radite telah bulat-bulat berada di dalam genggaman gadis itu.

Akhirnya… lanjut Ki Paniling, Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi.

Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir berteriak ia berkata, Itu sudah terjadi, dan tak dapat dicabut kembali.

Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan, Radite dan Umbaran mengadakan perjanjian. Radite mendapat gadis itu, sedang Umbaran mendapat tanda-tanda kebesaran dari Pasingsingan. Maka berlangsunglah tukar-menukar itu tanpa saksi, selain Anggara yang dengan sedih berusaha mencegahnya. Tetapi tukar-menukar itu tetap berlangsung, dengan hati jantan dan tanggung jawab bagi Radite. Itulah sebabnya maka ia akan mentaati perjanjian itu untuk seterusnya.

Tetapi kemudian… lanjut Ki Paniling, Menyusullah kejadian yang semakin menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi.

Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.

Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat. Jadi tuanlah sebenarnya yang berhak menyebut diri Pasingsingan.

Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya. Dengan terputus-putus ia menjawab, Tak usah kau sebut itu. Bukankah hal itu yang kau ingin ketahui?

Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat? kata Mahesa Jenar kemudian, Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang kemudian bernama Pasingsingan itu?

Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. Tidak dapat. Sebab pada suatu kali, datanglah Guru kepadaku. Meskipun aku sama sekali tidak dapat melihatnya, tetapi aku kenal suaranya. Ia berkata kepadaku, Radite…, nama Pasingsingan telah kau korbankan. Kau tak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya kembali. Sebab sekali nama itu ternoda, buat selamanya tak akan dapat menjadi bersih, sebersih semula. Karena itu biarkanlah nama itu bernoda untuk seterusnya. Sebab setiap kali nama itu disebutkan, setiap kali kau akan teringat kepada kesalahanmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s