ARYA SALAKA mengangguk-angguk, tetapi jawabannya sangat memusingkan Mahesa Jenar. Aku tidak perlu takut, Paman, sebab sebentar lagi Paman Lembu Sora pasti akan datang. Dengan adanya Paman Lembu Sora beserta laskarnya serta hadirnya Paman Mahesa Jenar di Banyubiru, maka aku kira tak akan ada seorangpun lagi yang berani mengganggu tanah kami.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia mendapat kesulitan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Justru adanya Lembu Sora di Banyubiru itulah maka bahaya dapat datang setiap saat bagi Arya Salaka.

Setelah berpikir beberapa saat berkatalah Mahesa Jenar, Arya, kalau mereka menyerang dengan terang-terangan maka laskar Banyubiru dan Pamingit pasti akan dapat menghalaunya, tetapi untuk menangkap atau berbuat hal-hal jahat lainnya terhadapmu, adalah seribu satu cara yang dapat ditempuh. Karena itu menurut pertimbanganku, sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara. Selama itu, selama keadaan belum memungkinkan, kau tidak perlu menampakkan diri terhadap siapapun. Aku akan berusaha untuk menghubungi pemimpin-pemimpin Banyubiru, selama kau di dalam persembunyian. Selama itu, kau sempat belajar beberapa hal yang perlu bagi keselamatanmu. Bukankah ayahmu minta kepadaku untuk melatihmu dalam olah kanuragan?

Mendengar kata-kata- Mahesa Jenar itu, serta kesempatan baginya untuk memperdalam pengetahuannya dalam berbagai ilmu, Arya menjadi gembira. Maka jawabnya, Baiklah Paman…, kalau Paman mempertimbangkan demikian. Tetapi Ibu pasti akan selalu mencari aku dan mencemaskan keselamatanku.

Bagus Arya, pada suatu saat kau akan kembali ke tanah ini, dan kau akan memelihara tanah ini sebagai tanah pusaka. Kau harus menjadikan tanah ini tanah harapan bagi masa depan. Bukankah ayahmu selalu mengharap kau menjadi seorang pahlawan?

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya menjadi cerah seperti bintang pagi yang berkilau-kilau, karena kebesaran hatinya.

Kepada ibumu, aku akan selalu berusaha menyampaikan setiap berita tentang dirimu, lanjut Mahesa Jenar.

Sekali lagi Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sesaat kemudian keadaan menjadi sepi. Dengan pancainderanya yang tajam, Mahesa Jenar sedang mengamati keadaan.

Maka setelah menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sudah tidak ada lagi bahaya yang mengancam, serta hiruk-pikuk pertempuran sudah tidak terdengar lagi, berkatalah ia kepada Arya, Arya…, agaknya keadaan telah bertambah baik. Meskipun demikian, kau harus berusaha untuk tidak menampakkan diri. Baik kepada para pemimpin Banyubiru maupun kepada ibu serta rakyatmu. Siapa tahu bahwa masih ada musuh-musuh yang bersembunyi, yang akan dapat menjebak atau menyerang kau dari jarak jauh. Karena itu marilah untuk sementara kita tinggalkan tanah ini dengan suatu keyakinan bahwa kau pasti akan kembali dalam keadaan aman dan sentosa.

Arya Salaka tidak menjawab kata-kata Mahesa Jenar. Wajahnya jadi tampak suram. Bagaimanapun juga, untuk meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman, dimana setiap hari ia bermain-main, dimana setiap hari ia meneguk airnya, serta segala-galanya yang ia cintai, adalah berat sekali bagi seorang anak seumur Arya Salaka.

Agaknya Mahesa Jenar dapat menebak perasaan Arya, maka sambungnya, Lupakanlah semuanya, Arya. Kau hanya pergi untuk sementara, dengan suatu kepastian bahwa kau akan kembali.

Kembali Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya menjadi bertambah suram. Mudah-mudahan Ibu selamat. Serta mudah-mudahan Ibu segera mengetahui bahwa akupun selamat.

Aku akan segera berusaha untuk memberitahukan itu, Arya, potong Mahesa Jenar.
Tetapi pohon jeruk yang aku pelihara dan aku siram setiap hari itu kini sudah mulai berbunga, jawab Arya.

Mahesa Jenar menjadi terharu mendengar kata-kata Arya yang memancar dari hatinya yang tulus. Tetapi yang lebih merisaukan hati Mahesa Jenar adalah, bahwa besok Lembu Sora akan datang untuk melindungi Banyubiru serta berusaha menelan tanah serta segala isinya.

Tetapi bagaimanapun, menyelamatkan Arya adalah tugas yang pertama-tama harus dilakukan. Sebab Arya adalah satu-satunya pewaris tanah perdikan Banyubiru, yang justru karena itulah maka jiwanya selalu terancam. Karena itu, Mahesa Jenar menganggap perlu untuk segera meninggalkan daerah ini sebelum Lembu Sora datang dan memerintahkan untuk mengaduk seluruh sudut Banyubiru. Pasti Lembu Sora akan berbuat demikian, dengan alasan untuk keselamatan Arya Salaka. Tetapi tidak mustahil bahwa kepada laskar Pamingit ia memerintahkan untuk menemukan Arya dalam keadaan mati.

Bukankah dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora bebas dari segala prasangka? Sedang apabila yang menemukan laskar Banyubiru serta membawa Arya kembali, umurnya pasti tidak akan panjang pula.

Mendapat pertimbangan itu maka segera Mahesa Jenar mengajak Arya untuk berangkat. Arya, kita jangan menunggu terlampau lama. Marilah kita berangkat selagi kesempatan ada. Siapa tahu bahwa keadaan akan berkembang ke arah yang tidak kita harapkan.

Marilah Paman, jawab Arya dengan wajah sayu.

Mahesa Jenar menjadi tambah terharu ketika didengarnya Arya mengatupkan giginya rapat-rapat. Ternyata anak itu sedang berusaha untuk membendung perasaan harunya meninggalkan kampung halaman. Namun bagaimanapun juga tampaklah bahwa matanya menjadi basah oleh air mata. Mata seorang anak yang masih seharusnya mendapat kasih sayang ayah-ibunya. Tetapi karena keadaan, ia harus berpisah dengan ayah-ibu yang ia cintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s