MAHESA JENAR menjadi agak keheran-heranan. Apakah kerja Gajah Alit di sini? Melihat cara Mantingan berkelahi, Mahesa Jenar menjadi kagum. Alangkah cepatnya ia mendapat kemajuan. Langkahnya jauh lebih lincah dari beberapa saat yang lalu, ketika ia harus menghadapinya sebagai lawan, serta unsur-unsur geraknya menjadi banyak dan berbahaya. Tetapi yang lebih mengagumkan Mahesa Jenar adalah cara Mantingan mempergunakan trisulanya. Ketiga ujung trisula itu seolah-olah berubah menjadi tangan-tangan besi yang siap menangkap dan membunuh setiap tubuh apapun yang tersinggung olehnya.

Mahesa Jenar melihat bahwa sebenarnya Mantingan, pasti sudah menerima ilmu-ilmu baru dari gurunya. Tangannya yang satu lagi selalu bergerak, menjulur, dan trisulanya mendesing-desing menimbulkan sambaran-sambaran angin yang menakutkan. Karena itu, sekarang Mahesa Jenar tidak berwas-was lagi terhadap Mantingan. Dengan ilmunya itu Mantingan sudah dapat disejajarkan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka, Sima Rodra dan sepasang Uling dari Rawa Pening. Seandainya dirinya tidak memiliki pengalaman yang lebih banyak, serta mendapat kesempatan untuk memiliki Aji Sasra Birawa, maka untuk dapat mengalahkan Mantingan dengan trisulanya adalah terlalu sulit.

Tetapi lawan Mantingan itu bukan orang kebanyakan pula. Ia adalah setingkat pula dengan Mahesa Jenar tanpa aji Sasra Birawa. Bahkan mungkin sepeninggal Mahesa Jenar, Gajah Alit yang dipercaya untuk mengisi kedudukannya.

Ketika trisula Mantingan dengan dahsyat mematuk-matuk hampir mencapai tingkat tertinggi, maka pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Mahesa Jenar kemudian menjadi cemas ketika dilihatnya bahwa agaknya pertempuran itu telah mencapai puncaknya. Masing-masing telah mengeluarkan segala kemampuan yang ada untuk membinasakan lawannya.

Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi ragu. Kalau ia melerai mereka, maka Gajah Alit pasti akan mengenalnya. Tetapi bila dibiarkan, pertempuran itu pasti akan membawa korban.

Selagi Mahesa Jenar termangu-mangu, pertempuran itu menjadi semakin sengit. Trisula Mantingan bergerak dengan cepatnya seperti petir menyambar-nyambar, sedang senjata Gajah Alit berputar semakin cepat pula sehingga yang tampak hanyalah bayangan hitam yang bergulung-gulung mengerikan, seperti awan gelap yang hendak melanda dengan dahsyatnya.

Beberapa kali rantai berkepala bola besi Gajah Alit berhasil melilit senjata lawannya, tetapi ia sama sekali tak berhasil merampasnya. Bahkan kadang-kadang mereka sampai lama berputar-putar, tarik-menarik senjata masing-masing, sehingga akhirnya terpaksa mereka berusaha untuk mengurai lilitan rantai itu.

Demikian senjata mereka terurai, demikian senjata-senjata itu kembali berputar, menyambar dan menusuk-nusuk dengan dahsyatnya. Melihat semuanya itu akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk melerai mereka. Karena itu segera ia meloncat maju mendekati arena pertempuran itu sambil berteriak nyaring, Tahan dirimu masing-masing. Hentikan pertempuran ini.

Tetapi agaknya mereka yang bertempur itu sama sekali tak mendengarnya, sebab pendengaran mereka dikacaukan oleh bunyi senjata mereka yang berdesing-desing dan berdentangan saling beradu. Sedang perhatian mereka seluruhnya tertumpah pada upaya mempertahankan jiwa masing-masing. Karena itu sekali lagi Mahesa Jenar berteriak, lebih keras dari semula sambil meloncat lebih dekat lagi, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit, hentikan pertempuran.

Baru ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebut, mereka menjadi terkejut. Apalagi, ketika mereka lihat seseorang mendekat, Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng meloncat surut, dan dengan herannya memandang kepada Mahesa Jenar yang kemudian meloncat diantara mereka. Tetapi untuk sesaat mereka tidak segera mengenal siapakah yang telah melerai mereka itu, sampai Mahesa Jenar berkata, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit…. Adakah sesuatu yang tidak wajar, sehingga kalian terpaksa bertempur?

Mantingan dan Gajah Alit, segera mengenal suara itu. Karena itu hampir berbareng mereka menyebut nama Mahesa Jenar.

Ya, inilah aku, jawab Mahesa Jenar.

Mendengar jawaban itu, segera mereka berloncatan maju sambil berebutan memberi salam.

Kemanakah kau selama ini, Kakang? tanya Gajah Alit, Kau begitu saja menghilang seperti hantu.

Mahesa Jenar tidak segera menjawab pertanyaan ini, tetapi malahan ia bertanya, Kenapa kalian bertempur?

Mantingan dan Gajah Alit kemudian saling berpandangan. Memang sebenarnya mereka tidak mempunyai suatu alasan yang kuat, kecuali mereka sebenarnya hanya saling curiga.

Aku tidak tahu sekarang, jawab Gajah Alit sambil tersenyum-senyum. Wajahnya yang bulat itu masih saja memancarkan kejenakaannya.

Kami sebenarnya tidak mempunyai urusan, jawab Mantingan.

Lalu apakah sebabnya? tanya Mahesa Jenar heran.
Sebenarnya kami belum saling mengenal, jelas Mantingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s