MAHESA JENAR dan Gajah Alit berbareng mengangguk-angguk. Terlintaslah dalam angan- angan mereka, bahwa kakak seperguruan Mantingan setidak-tidaknya adalah setingkat dengan Mantingan.

Dan memang sebenarnyalah demikian. Kakak seperguruannya itu pun baru saja menerima ilmu Pacar Wutah berbareng dengan Mantingan, menjelang keberangkatan mereka.

Meskipun Wiraraga lebih lama menekuni pelajaran gurunya, tetapi karena sifatnya yang pendiam dan jarang-jarang keluar dari padepokan seperti gurunya, maka Mantingan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Karena itu, keperkasaan Mantingan tidaklah kalah dengan kakak seperguruannya itu.

Dalam perjalanannya yang berbahaya itu, Ki Ageng Supit tidak sampai hati melepaskan Mantingan pergi sendiri, sebab ia pernah mendengar siapa saja yang tergolong dalam lingkaran hitam. Karena itu ia minta Wiraraga menyertainya.

Di manakah kakak seperguruan Kakang itu? tanya Mahesa Jenar kemudian.
Seperti juga Adi Gajah Alit, Kakang Wiraraga memisahkan diri sejak kemarin. Malam ini kami berjanji akan bertemu. Meskipun tempat yang kita cari itu masih belum dapat kami temukan.
Mudah-mudahan Kakang Paningron tidak bertemu dan bertempur dengan kakak seperguruan Kakang Mantingan, sela Gajah Alit sambil tertawa lucu.

Mudah-mudahan, jawab Mahesa Jenar.
Kalau demikian… lanjut Mahesa Jenar, Aku tunggu di sini. Kalian cari kawan-kawan kalian itu, dan bawalah mereka kemari. Tempat pertemuan itu tak usah kalian cari-cari lagi.
Kenapa? tanya Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng.

Carilah kawan-kawan kalian, desak Mahesa Jenar, dan cegahlah kalau mereka benar-benar bertemu dan bertempur seperti kalian tadi. Aku menunggu kalian di sini.

Kemudian terdengar Gajah Alit tertawa riuh. Untunglah aku bertemu Kakang di sini. Melihat gelagatnya pasti Kakang Mahesa Jenar telah menemukan tempat itu.

Tepat! sambung Mantingan, Aku juga menduga demikian.

Mahesa Jenar pun kemudian tertawa. Mungkin kalian benar, karena itu kalian harus cepat-cepat menemukan kawan-kawan kalian.

Baiklah, jawab mereka berbareng.

Ketika mereka telah tidak tampak lagi, segera Mahesa Jenar mencari tempat untuk beristirahat. Direbahkannya dirinya di atas sebuah batu besar, sambil memandang bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit.

Untuk beberapa lama pikirannya sempat melayang mondar-mandir dari waktu ke waktu, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.

Menjelang tengah malam, Mahesa Jenar mendengar langkah orang mendekati tempatnya berbaring. Cepat ia bangkit dan memandang ke arah suara itu. Tetapi kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat bayangan dua orang mendekatinya, serta keduanya membawa senjata ciri perguruan Ki Ageng Supit, yaitu trisula. Jelaslah bagi Mahesa Jenar bahwa kedua orang itu pasti Mantingan dan Wiraraga.

Maka demikian kedua orang itu sampai di hadapan Mahesa Jenar, demikian Mantingan memperkenalkan kakak seperguruannya kepada Mahesa Jenar dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Mendengar nama itu segera Wiraraga membungkuk hormat sambil berkata, Berbesarlah hatiku dapat berkenalan dengan seseorang yang pernah menggemparkan istana, karena berhasil menggagalkan pencurian pusaka di gedung perbendaharaan. Juga yang telah banyak menyelamatkan rakyat dari gangguan kejahatan.

Mendengar pujian itu Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula. Terimakasih Kakang, tetapi perguruan Kakang adalah perguruan yang terkenal pula. Karena itu seharusnya akulah yang merasa beruntung berkenalan dengan Kakang.

Kembali Wiraraga mengangguk. Wajahnya yang ketua-tuaan itu tampak tersenyum-senyum. Meskipun umurnya tidak terpaut banyak dari Mantingan, tetapi nampaknya Wiraraga telah jauh lebih tua. Rambutnya telah mulai ditumbuhi uban. Matanya memancar lembut, tetapi dalam.

Tubuhnya kekar meskipun tidak begitu tinggi. Wiraraga memang benar-benar seorang pendiam. Tidak banyak ia berkata-kata. Ia lebih senang mendengarkan Mantingan berbicara daripada ia sendiri yang berbicara. Maka karena sifat-sifatnya itulah maka Wiraraga nampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah Gajah Alit datang pula bersama-sama dengan Paningron. Bagi Paningron, kehadiran Mahesa Jenar di situ sangat mengejutkan. Agaknya Gajah Alit belum memberitahukan lebih dahulu, sehingga suasana kemudian menjadi riuh.

Setelah pertemuan itu menjadi lebih tenang, barulah mereka berbicara tentang tokoh-tokoh hitam yang akan mengadakan pertemuan pada purnama penuh yang akan datang, serta tempat pertemuan mereka.

Dengan teliti Mahesa Jenar memberikan gambaran tentang lapangan yang akan dipergunakan, serta memberitahukan bahwa dalam pertemuan itu akan hadir Pasingsingan dan Sima Rodra. Dua orang angkatan tua yang setingkat dengan guru-guru mereka. Karena itu mereka harus sangat berhati-hati.

Dalam pertemuan itu mereka memutuskan untuk pada saat itu juga pergi ke tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu serta seterusnya mengatur agar setiap saat tempat itu dapat diawasi bergiliran.

Demikianlah maka segera mereka berlima pergi bersama untuk melihat keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan.

Sejak saat itu, mulailah rombongan Mahesa Jenar itu mengadakan pengawasan dengan teliti berganti-ganti. Mereka telah berhasil menemukan tempat yang sangat baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s