DENGAN munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.

Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut. Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.

Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora. Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya yang dipergunakannya sebagai perisai.

Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka. Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang lambung Lembu Sora dengan pedangnya.

Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.
Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi, sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar menyertai putaran pedangnya.
Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya menjadi semakin berbahaya pula.
Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka menjadi sadar atas apa yang terjadi.

Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka, hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka, kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.

Biarkanlah mereka, kata Uling Putih. Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa.

Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan, Aku setuju dengan pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan. Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang? Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak sendiri binasa.

Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.
Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.

Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang-orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s