SUASANA kemudian menjadi hening sepi. Tetapi dalam pada itu degup jantung Mahesa Jenar serta kawan-kawannya bertambah cepat. Apalagi Mahesa Jenar, Gajah Alit dan Paningron yang datang sebagai prajurit-prajurit Demak. Tetapi bagaimanapun mereka harus menahan diri, sebab di hadapan mereka berkumpul tokoh-tokoh hitam yang kuat, ditambah lagi dengan Pasingsingan dan Sima Rodra yang pernah mereka dengar namanya.

Tetapi lebih terkejut lagi mereka berlima ketika Pasingsingan kemudian melanjutkan, Sedangkan sekarang kalian mempunyai pekerjaan yang lebih penting. Pertemuan ini dapat kalian lanjutkan nanti setelah pekerjaan kita selesai. Nanti kita dapat mengatur siasat, menentukan sikap dan sebagainya, setelah orang-orang lain yang tidak kita undang tidak turut serta mendengarkan pembicaraan kita.

Yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi sibuk berpikir serta menduga-duga. Demikian pula Mahesa Jenar dan kawan-kawannya yang dengan lamat-lamat dapat mendengarkan setiap pembicaraan mereka, menjadi sibuk berpikir pula, sampai Pasingsingan berkata lebih lanjut, Kalian ternyata terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara kalian untuk membinasakan kawan sendiri daripada berhati-hati menghadapi lawan.

Orang-orang golongan hitam itu menjadi bertambah bingung, sedang Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, jantungnya bertambah cepat bergetar. Apakah kehadiran mereka telah diketahui oleh Pasingsingan?

Melihat kebingungan orang-orang yang berkumpul di sisi-sisi lapangan itu, terdengar Sima Rodra tua tertawa pendek. Apakah yang akan kalian banggakan untuk dapat menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang tidak tentu di mana sekarang berada. Apakah benar-benar telah hilang dari Banyubiru atau hanya disembunyikan saja oleh si Gajah Sora atau si tua bangka Sora Dipayana, ayah Lembu Sora itu. Sedangkan apa yang ada di hadapan hidung kalian saja tidak kalian ketahui, katanya.

Perasaan mereka yang mendengarkan kata-kata itu menjadi semakin kisruh. Melihat keadaan itu agaknya Pasingsingan tidak sabar lagi. Berdirilah kalian dan berjalanlah kalian ke arah tenggara. Lihatlah setiap pohon yang tumbuh di sana, kalian akan menemukan orang yang telah kalian sangka mati terguling ke dalam jurang beserta empat orang kawannya, katanya keras-keras.

Tampaklah betapa terkejutnya tokoh-tokoh hitam yang sedang berkumpul itu. Tetapi tidak kurang pula terkejutnya Mahesa Jenar dengan kawan-kawannya. Ternyata kehadiran mereka telah diketahui oleh Pasingsingan dan Sima Rodra. Bagaimanapun mereka terpaksa mengakui betapa tinggi ilmu kedua orang dari angkatan tua itu.

Di samping itu, kata-kata Pasingsingan merupakan suatu peringatan bagi Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya, untuk tidak mempunyai pilihan selain berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidup masing-masing, meskipun mereka sadar bahwa seandainya Pasingsingan dan Sima Rodra ikut campur maka tak ada jalan untuk melepaskan diri dari maut. Meskipun demikian, kemungkinan-kemungkinan itu memang sudah terpikirkan sejak mereka berangkat. Karena itu, satu-satunya jalan adalah mencari korban sebanyak-banyaknya sebelum dirinya binasa.

Karena itu sebelum mereka terkunci di atas pohon, maka segera dengan cepat Mahesa Jenar turun diikuti oleh kawan-kawannya. Demikian mereka sampai di atas tanah, segera mereka menyiapkan senjata masing-masing. Gajah Alit segera menimbang-nimbang bola besinya yang bertangkai rantai, Paningron bersenjata sebuah tombak yang berkait kecil, sedang Mantingan dan Wiraraga tampak menggosok-gosok trisula masing-masing, seolah-olah sedang membesarkan hati senjata-senjata itu.

Hanya Mahesa Jenar sendirilah yang tidak bersenjata, tetapi di sisi telapak tangannya tersimpan senjata yang dahsyat, yaitu Aji Sasra Birawa.
Sementara itu, tokoh-tokoh hitam yang terdiri dari tujuh orang, Sima Rodra muda suami-istri, kakak-beradik Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan Lembu Sora segera berloncatan berlari-lari ke arah yang ditunjukkan oleh Pasingsingan.

Ketika tokoh-tokoh hitam itu sedang mendekati Mahesa Jenar dengan kawan-kawannya, terdengarlah Sima Rodra berteriak dengan suaranya yang gemetar, He, kalian laskar yang mengikuti pemimpin-pemimpin kalian kemarin. Janganlah kalian menjadi penonton saja. Kepunglah orang-orang yang telah memberanikan diri bertindak sombong dan merendahkan kita sekalian.

Mendengar perintah Sima Rodra tua, segera laskar-laskar golongan hitam itu bubar berlari-larian memencar ke segenap arah untuk mengepung Mahesa Jenar dan kawan-kawannya.

Gajah Alit yang merasa bahwa senjatanya kurang menguntungkan bila dipergunakan di tempat yang berpohon-pohon, segera berkata, Kakang Mahesa Jenar, aku kira lebih baik aku menyongsong mereka di tempat terbuka supaya rantaiku tidak melilit-lilit pepohonan.

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, Gajah Alit telah menghambur lari seperti sebuah batu yang menggelinding cepat sekali. Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya yang lain, agaknya tidak tega melepaskan Gajah Alit menyongsong seorang diri. Karena itu, ia segera menyusulnya, menyongsong lawan-lawan mereka di tempat yang terbuka.

Yang mula-mula sekali sampai adalah Lawa Ijo. Hatinya yang panas melebihi bara itu tidak dapat dikendalikan lagi. Dendamnya kepada Mahesa Jenar bertimbun-timbun sampai menyentuh langit. Tetapi di antara gerumbul di tepi lapangan itu yang muncul pertama-tama adalah Gajah Alit. Tanpa menanyakan apa-apa lagi, Gajah Alit langsung menyerangnya.

Lawa Ijo terpaksa membatalkan maksudnya untuk mencari Mahesa Jenar, karena ia harus melayani Gajah Alit yang menilik geraknya, ternyata sangat berbahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s