MAHESA JENAR seolah-olah berada di segala tempat dan dapat menggagalkan segala serangan Pasingsingan dan Sima Rodra, walaupun tidak diarahkan kepadanya. Sehingga baik kawan-kawan Mahesa Jenar sendiri maupun Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi terheran-heran. Mantingan, Gajah Alit, Wiraraga dan Paningron sampai-sampai terpaksa berhenti bertempur karena Mahesa Jenar selalu bergerak dan seolah-olah melayang-layang di hadapan mereka, pada setiap waktu nyawa mereka terancam, sehingga di dalam lingkaran pertempuran itu seakan-akan ada beribu-ribu Mahesa Jenar yang bertempur bersama-sama. Karena itu dada mereka sekarang tergoncang hebat, tidak karena Pasingsingan dan Sima Rodra, tetapi justru karena Mahesa Jenar yang berubah menjadi ribuan Mahesa Jenar dengan kesaktiannya yang dapat menandingi Pasingsingan dan Sima Rodra.

Sebaliknya Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi terheran-heran tak keruan. Menghadapi lima orang yang sebenarnya bagi mereka sama sekali tak berarti itu, tiba-tiba saja menjadi agak kerepotan.

Serangan-serangan mereka yang seharusnya sudah tidak mungkin dielakkan oleh orang-orang yang setingkat dengan Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu, tiba-tiba dapat dimusnahkan hanya oleh sepotong dahan kayu. Karena itu mereka menjadi semakin marah. Apalagi ketika mereka melihat kelima orang yang melawannya itu bergerak berputaran melingkar dan melibat satu sama lain dengan gerak yang tak terduga-duga dan membingungkan.

Sebenarnya kawan-kawan Mahesa Jenar itu sama sekali tidak mampu mengadakan gerakan-gerakan yang sedemikian rumitnya, tetapi Mahesa Jenar lah yang mendorong mendesak dan kadang-kadang menarik mereka untuk membuat gerakan-gerakan yang aneh-aneh.

Akhirnya Pasingsingan menjadi tidak sabar lagi, demikian juga Sima Rodra. Segera mereka melemparkan senjata-senjata rampasan itu, dan tiba-tiba di tangan Pasingsingan telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang berwarna kuning gemerlapan, sedang di jari-jari Sima Rodra seolah-olah tumbuhlah kuku-kukunya yang panjang dan bersalut logam. Agaknya kedua orang itu telah sedemikian marahnya sehingga mereka merasa perlu mempergunakan senjata-senjata simpanan mereka.

Dalam pada itu, segenap tokoh-tokoh hitam yang menyaksikan pertempuran itu menjadi cemas dan kebingungan. Berkali-kali mereka menggosok-gosok mata mereka, sebab di dalam keremangan cahaya bulan yang tidak seterang siang hari, mereka telah menyaksikan suatu pertempuran yang tak dapat diikuti oleh pikiran-pikiran mereka. Pasingsingan dan Sima Rodra adalah dua tokoh yang berada dalam tingkatan guru Mahesa Jenar, bahkan mungkin berada diatas guru-guru orang-orang lain kawan-kawan Mahesa Jenar.

Tetapi ternyata untuk melawan mereka berlima, kedua orang sakti itu telah terpaksa mempergunakan senjata-senjata mereka yang hampir sama sekali tak pernah mereka perlihatkan. Apalagi di dalam lingkaran pertempuran itu, mereka melihat bayangan Mahesa Jenar berubah, seakan-akan lebih dari satu Mahesa Jenar yang berdiri di sana sambil bergerak menyambar-nyambar tak terikuti oleh pandangan mereka.

Sementara itu pisau belati panjang Pasingsingan telah mulai bergerak menyambar-nyambar, sedang jari-jari Sima Rodra yang berkuku panjang-panjang mengembang mengerikan. Namun Mahesa Jenar dapat dengan tangkasnya melawan setiap serangan kedua tokoh itu. Malahan sekali-sekali potongan dahan kayu di tangannya berhasil mengenai tubuh Pasingsingan dan Sima Rodra. Dengan demikian sekarang bergantilah bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra yang menjadi kebingungan dan bertempur dengan gelisah.

Barulah teka-teki itu terpecahkan ketika Pasingsingan dan Sima Rodra yang sudah kebingungan meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak dengan kelima lawannya yang aneh itu.

Karena Pasingsingan dan Sima Rodra adalah dua orang yang sudah kenyang makan asin pahit kehidupan, maka mereka segera menaruh curiga bahwa pasti ada sesuatu yang tidak wajar.

Ketika mereka telah berdiri dengan jarak dua tiga langkah, tahulah mereka bahwa mata mereka telah terkelabui. Karena itu segera Pasingsingan berteriak nyaring dibarengi oleh suara auman dahsyat dari Sima Rodra untuk menyatakan kemarahan hati mereka.

Ternyata yang berdiri di hadapan mereka itu, yang semula adalah lima orang, tiba-tiba tanpa setahu orang setingkat Pasingsingan dan Sima Rodra telah berubah menjadi tujuh orang. Sedang kedua orang yang melibatkan diri kedalam pertempuran itu berpakaian kumal dan berwarna gelap mirip sekali dengan pakaian Mahesa Jenar.

Apalagi gerak mereka pun sedemikian dekat dengan gerak anak perguruan Pengging itu. Mereka berdualah yang memegang tongkat potongan dahan kayu. Sedang Mahesa Jenar yang sebenarnya tanpa diketahuinya sendiri telah memegang sepotong dahan kayu yang mirip dengan kedua dahan yang lain. Itulah sebabnya bahwa dalam keributan pertempuran itu Mahesa Jenar seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu Mahesa Jenar yang berada di segala tempat.

Mengalami peristiwa itu Pasingsingan dan Sima Rodra untuk sejenak tertegun heran. Ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. Meskipun Pasingsingan dan Sima Rodra sadar bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa, namun peristiwa itu adalah peristiwa yang hampir tak mungkin dapat dimengerti. Hal ini adalah suatu pertanda bahwa kedua orang yang memasuki arena itu adalah orang yang mumpuni.

Apalagi Mahesa Jenar sendiri beserta keempat kawannya. Mereka jadi ragu-ragu sendiri apakah otak mereka telah benar-benar tidak bekerja dengan baik.

Baru kemudian sadarlah mereka bahwa ada orang lain yang sengaja akan menolong jiwa mereka. Karena ternyata ketika mereka sempat memperhatikan setiap wajah diantara mereka, dapatlah mereka ketahui bahwa kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar, kumal dan gelap itu, sama sekali bukan Mahesa Jenar. Wajah-wajah mereka tampak merah kehitam-hitaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s