MAHESA Jenar dan kawan-kawannya terkejut mendengar suara Pasingsingan, yang seolah-olah mendapat suatu kemenangan yang gemilang. Tetapi sebenarnya suara itu adalah suatu pertanda kepada Lawa Ijo dan anak buahnya untuk segera menghindarkan diri. Karena itu, betapa kecut hati Lawa Ijo beserta anak buahnya melihat suatu kenyataan bahwa Pasingsingan yang diagung-agungkan itu tidak dapat mengatasi lawan-lawannya.

Maka, tidak perlu diulangi lagi, Lawa Ijo segera meloncat dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi lawan-lawan Pasingsingan, disusul oleh Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking dan kawan-kawannya.

Melihat Lawa Ijo dan para pengiringnya melarikan diri, tokoh-tokoh golongan hitam itu terkejut. Segera mereka sadar bahwa keadaan menjadi sangat genting. Apalagi ketika kemudian terdengar geram Sima Rodra seperti merintih-rintih, dan kemudian disusul dengan lenyapnya Suami Isteri Sima Rodra muda menyusup kedalam hutan, maka pemimpin-pemimpin gerombolan hitam itu tidak menunggu lebih lama lagi, segera mereka dengan pengiring-pengiring mereka berlari-lari menyelamatkan diri mereka masing-masing.

Melihat peristiwa itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi keheran-heranan. Mereka sama sekali tidak dapat mengetahui apakah yang terjadi. Sesaat kemudian terdengarlah orang-orang yang berpakaian seperti Mahesa Jenar itu tertawa nyaring. Sedang solah mereka menjadi semakin lincah dan berbahaya.

Akhirnya Sima Rodra merasa bahwa tidak ada gunanya ia bertahan lebih lama lagi. Mungkin ia masih dapat bertempur sampai sehari, namun kesudahannya akan sudah pasti, yaitu lawannya akan dapat membinasakannya. Karena itu, dengan mengaum hebat, ia meloncat undur dan setelah itu dengan kecepatan yang mungkin dicapainya, ia berusaha untuk menyelamatkan diri. Melihat Sima Rodra Rodra itu berlari seperti terbang meninggalkannya, lawan Sima Rodra itu tertawa kembali. Tetapi sama sekali ia tidak berusaha untuk mengejarnya.

Berbeda dengan lawan Pasingsingan. Ketika Pasingsingan tinggal seorang diri, iapun segera berusaha untuk melepaskan diri dari pertempuran itu, namun lawannya sama sekali tidak memberi kesempatan. Bahkan akhirnya dengan mengerahkan segenap tenaganya lahir dan batin, dilambari dengan ilmu Naga Angkasa, lawan Pasingsingan itu berhasil melibat tubuh Pasingsingan dengan gerak-geraknya yang mirip dengan gerak Ular, tetapi yang kadang-kadang seperti seekor burung Rajawali yang meniup menyambar-nyambar. Mengalami peristiwa itu Pasingsingan menjadi bingung.

Keringat dinginnya mengalir membasahi jubah abu-abunya.

Dengan segenap kekuatannya ia mencoba bertahan, dan melindungi dirinya dengan Belati Panjangnya yang bernama Kiai Suluh, serta akik Kelabang Sayuta dibarengi dengan ilmunya Alas Kobar dan Gelap Ngampar. Namun Naga Angkasa itu seperti hantu saja yang berada disegala tempat dan menyerang dari segala penjuru.

Pasingsingan mengeluh didalam hati. Karena itulah maka pemusatan pikirannya sedikit demi sedikit menjadi terurai, sehingga dengan demikian daya kekuatan Alas Kobar serta Gelap Ngampar pun menjadi berkurang. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba terasalah udara dingin sedingin air embun, membelit diseluruh bagian tubuhnya, dibarengi dengan suatu teriakan dahsyat seperti teriakan burung rajawali yang sedang marah, terasalah pundaknya dicengkam oleh tangan yang kuat seperti baja.

Dengan cepat ia menggerakkan pisau panjangnya, tetapi sama sekali tak mengenai sesuatu. Cepat ia mengulangi berkali-kali, tetapi yang ada dihadapannya bagaikan hantu yang dapat berkisar-kisar dengan cepatnya tanpa mengadakan gerakan sesuatu. Bahkan akhirnya tangan yang sekuat baja itu berhasil menangkap tangannya dan dipilinnya kebelakang. Pasingsingan merasakan suatu keanehan membersit didalam dadanya. Bahwa didunia ini ada kekuatan seperti itu, yang sama sekali tak diduganya semula. Sebenarnya ia sendiri merasakan bahwa ilmunya tidak usah terlalu jauh kalah dari ilmu lawannya. Hanya kekuatan orang itu agaknya yang luar biasa.

Dengan mengerahkan segenap kekuatannya yang terakhir Pasingsingan mencoba untuk melepaskan diri, namun orang itu agaknya mengerahkan segenap kesaktiannya pula untuk dapat tetap menguasai Pasingsingan.

Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat kejadian itu dengan jantung yang berdegupan hebat. Meskipun mereka agak terguncang perasaan, namun timbul pula kebanggaan serta ketenteraman diri. Mereka menyaksikan bahwa akhirnya Pasingsingan dapat dikalahkan.

Tiba-tiba dalam keremangan cahaya bulan mereka melihat tangan orang yang menangkap Pasingsingan itu bergerak cepat sekali sehingga dalam sekejap ditangan itu telah berkilat-kilat cahaya sebuah keris yang agaknya tidak kalah hebatnya dari pisau belati panjang Pasingsingan. Dengan penuh bernafsu orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu mengayunkan kerisnya untuk menembus dada Pasingsingan.

Tetapi kembali Mahesa Jenar dan kawan-kawannya dikejutkan oleh bayangan yang melontar kearah mereka yang sedang bertempur itu. Ia adalah orang yang satu lagi, yang berpakaian mirip Mahesa Jenar, yang tadi bertempur dengan Sima Rodra.

Dengan cekatan ia menangkap tangan kawannya yang memegang keris yang hampir saja memusnahkan orang yang memakai kedok jelek berjubah abu-abu dan menamakan diri Pasingsingan.

Orang itu agaknya terkejut, sehingga pegangannya mengendor. Kesempatan ini agaknya dapat dipergunakan Pasingsingan dengan baik. Cepat ia berusaha membebaskan diri, dan dalam sekejap tampaklah ia seperti terbang berlari menyusup kedalam hutan. Jubahnya yang abu-abu melambai-lambai ditiup angin malam, namun hanya sesaat, karena sesaat kemudian ia telah lenyap ditelan lebatnya hutan.

Orang yang memegang keris, yang hampir saja menyobek dada Pasingsingan itu memandang kawannya dengan mata yang bertanya-tanya. Rupa-rupanya ia menjadi sangat kecewa.

Katanya Kakang, kenapa kakang menahan aku pada saat Pasingsingan sudah diambang maut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s