KAWAN orang itu menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia melangkah menjauh. Matanya yang sayu dilemparkan ke arah purnama yang dengan tenangnya mengambang di langit yang bersih. Hanya kadang-kadang saja tampak beterbangan kelelawar-kelelawar yang sedang mencari mangsa.

Adi… terdengarlah orang itu berkata, Entahlah apa sebabnya, aku tidak dapat membiarkan Pasingsingan itu terbunuh. Mungkin masanya memang belum sampai.

Masihkah Kakang ingin melihat kejahatan-kejahatan berikutnya yang akan dilakukan oleh Pasingsingan? desak yang lain.

Tentu tidak, Adi, jawabnya. Tetapi apakah kata bapa guru nanti atas kematian Pasingsingan. Sebab bagaimanapun juga ia adalah muridnya pula. Apalagi sebenarnya letak kesalahan yang menyebabkan segala kejadian ini, adalah aku sendiri. Kalau terjadi kejahatan-kejahatan, maka sebenarnya semuanya itu bersumber pada diriku. Bersumber pada pemuasan nafsu yang tiada mengenal batas. Karena itulah maka hukuman yang sepantasnya adalah dibebankan kepadaku.

Kau terlalu perasa, Kakang. Kalau suatu kota tenggelam dilanda banjir, bukanlah mata air yang harus memikul beban kesalahannya? Sebab dari mata air itulah sawah-sawah mendapat air, serta kepentingan-kepentingan lain yang berguna. Meskipun karena mata air itu dapat timbul banjir. Tetapi perkembangannya telah melampaui beberapa tingkatan yang tidak ada hubungannya. Air yang mengalir ke lautan menjadi mendung dan kemudian hujan lebat. Barulah terjadi banjir.
Untuk mencegah banjir itu haruskah orang-orang menutup segenap mata air? Seperti Kakang merasa bersalah kalau Pasingsingan berbuat kejahatan-kejahatan?

Orang yang lain itu sama sekali tak menjawab. Perlahan-lahan tampak orang itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi pandangannya masih melekat pada bulan di langit.

Kakang… orang yang satu melanjutkan, Aku persilahkan Kakang melenyapkan perasaan itu. Perasaan yang menyalahkan diri tanpa batas. Suatu pengakuan yang demikian tidak akan menguntungkan. Bagi Kakang, bagi orang lain dan bagi bebrayan agung.

Sudahlah Adi, potong yang lain. Nada suaranya jauh dan dalam. Aku tahu akan perasaanmu. Suatu rasa kesetiaan dan kecintaanmu kepada saudara tua. Namun barangkali aku masih menunggu sampai guru memberikan ijinnya.

Mahesa Jenar mendengarkan percakapan itu dengan saksama. Kecuali dirinya tak seorang pun yang mengerti siapakah kedua orang itu. Tetapi bagi Mahesa Jenar, percakapan mereka cukup memberi penjelasan, siapakah mereka berdua. Karena itu segera ia berlari dan berjongkok di hadapan mereka. Keempat kawan-kawannya, meskipun tidak dapat mengerti siapakah mereka itu, namun sebagai ucapan terima kasih, mereka segera menirukan perbuatan Mahesa Jenar.

Paman…, kata Mahesa Jenar, Perkenankanlah aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas pertolongan Paman Paniling dan Paman Darba.

Kedua orang itu, yang memang sebenarnya adalah Paniling dan Darba, menjadi agak terkejut mendengar nama-nama mereka disebut oleh Mahesa Jenar. Maka terdengarlah Darba tertawa pendek.

Dari mana kau tahu tentang kami? Adakah warna-warna yang tersaput di wajah kami telah terhapus?

Aku telah mengenal paman berdua, baik suara Paman yang sebenarnya itu, maupun persoalan-persoalan yang Paman perbincangkan, jawab Mahesa Jenar.

Memang otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau, sahut Darba sambil tertawa kembali.

Bukankah begitu kakang? sambungnya kepada Paniling.

Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya.

Aku sudah mengira kalau kau akan berbuat itu. Mengintip musyawarah orang-orang dari golongan hitam. Sadar atau tidak sadar, kau telah bermain-main api kembali. Karena itulah kami datang kemari. Beberapa waktu yang lampau aku telah memperingatkan agar kau berhati-hati menghadapi orang-orang dari golongan hitam itu. Hampir saja kau binasa pada saat kau dikerubut oleh tokoh-tokoh hitam itu. Sekarang kau masuk ke dalam bahaya yang lebih besar lagi, dimana hadir Sima Rodra tua dan Pasingsingan.

Mahesa Jenar sama sekali tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Pamanmu Paniling terlalu hati-hati, Mahesa Jenar, sahut Darba.

Mungkin karena umurnya yang telah lanjut. Tetapi kira-kira pada saat mudanya melebihimu.

Mungkin, potong Paniling sambil tersenyum, Memang anak-anak muda senang menyerempet-menyerempet bahaya.

Dan karena itulah mereka mencapai kemajuan-kemajuan, sambung Darba,

Karena dengan pengalaman-pengalaman mereka, masa depan seakan-akan telah diratakan. Sedang bagi mereka yang tidak berani menempuh bahaya, tak sesuatu apapun yang akan bisa dicapainya.

Meskipun demikian… jawab Paniling,

Segala sesuatu wajib diperhitungkan. Kalau kita berani menempuh bahaya, bukan berarti kita harus bunuh diri. Mahesa Jenar, kami datang kemari karena kami mencemaskan kau. Tetapi Adi Darba mengusulkan supaya kami membuat permainan ini dengan berpakaian mirip pakaianmu. Sebab kami tahu bahwa kau tidak pernah berganti pakaian kecuali kalau pakaianmu satu-satunya itu sedang kau cuci.

Semua yang mendengar kata-kata Paniling itu tersenyum. Mahesa Jenar menjadi agak malu. Memang, ia sama sekali tidak mempunyai pakaian lain selain yang dipakainya. Kalau pakaian itu dicuci, terpaksa ia menunggu sampai kering.

Maksudku… sahut Darba, Salah seorang diantara kami yang mungkin dapat berbuat sesuatu mewakilimu. Dengan demikian tak seorang pun berani merendahkan kau lagi. Tetapi ternyata kau datang berlima, sehingga kami agak menemui kesulitan. Untunglah bahwa kami menemukan suatu cara untuk bermain-main dengan Pasingsingan. Sayang, Kakang Paniling menahan kerisku yang sudah melekat di dada Pasingsingan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s