UNTUNGLAH Mahesa Jenar telah mengalami masa penggemblengan baik jasmaniah maupun rohaniah, sehingga dengan memusatkan segala tenaganya tetap tegak. Ketika lawannya sekali lagi akan mengulangi serangannya, Mahesa Jenar berhasil mendahului dengan sebuah tendangan yang dahsyat mengenai wajah orang itu, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Namun demikian ia terjatuh, demikian ia berusaha untuk tegak kembali.

Dari sudut bibirnya melelehlah cairan berwarna merah. Darah. Ketika tangannya mengusap darah itu, serta dirasanya cairan yang hangat, maka orang itu menjadi marah sekali. Matanya segera menyala seperti api. Bibirnya tampak bergetar-getar namun tak sepatah kata yang terdengar.

Tiba-tiba dari wajahnya yang membara itu memancar perasaan dendam tiada taranya. Cepat orang itu menjulur lurus ke depan. Melihat sikap itu, Mahesa Jenar terkejut. Ia pernah mendengar dari gurunya tentang sikap yang demikian. Suatu sikap pemusatan pikiran dan perasaan untuk memancarkan suatu ilmu yang dahsyat.

Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tidak sempat untuk mengingat-ingat lebih lama lagi, sebab apabila ia terlambat menjaga diri, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan. Karena itu cepat-cepat ia memusatkan segala tenaga lahir dan batin, mengatur peredaran pernafasannya. Satu kakinya diangkat dan ditekuk ke depan, sedang sebelah tangan menyilang dada, dan yang satu lagi diangkatnya tinggi-tinggi.

Peristiwa seterusnya, hanya terjadi dalam sekejap. Lawan Mahesa Jenar itu meloncat maju, dan dengan telapak tangannya ia menghantam dahsyat sekali. Tetapi pada saat itu Mahesa Jenar telah mengayunkan tangannya pula, sehingga berbenturanlah sisi telapak tangannya dengan telapak tangan lawannya.

Terjadilah suatu benturan yang tidak terkira dahsyatnya. Suaranya berdentam seperti sebuah ledakan. Dan akibatnyapun hebat pula. Kedua-duanya terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian mereka jatuh terguling untuk kemudian beberapa saat pandangan mereka menjadi gelap, dan hilanglah kesadaran mereka.

Pada saat itu pecahlah fajar di langit. Warna yang kemerah-merahan membayang di ujung timur, diantar oleh kokok ayam hutan saling bersahutan. Angin pagi yang segar berhembus silir menggerakkan batang-batang ilalang yang seolah-olah menari kegirangan menyambut datangnya pagi yang segar.

Dalam kesegaran angin pagi itu, dari arah timur berlarilah seekor kuda tidak terlalu cepat. Penunggangnya yang berwajah tampan, beberapa kali selalu mengamat-amati jalan yang akan dilewati. Agaknya ia sedang menuruti jejak dari seekor kuda. Dalam cahaya fajar, rupa-rupanya penunggang kuda itu harus memperhatikan bekas-bekas itu dengan saksama. Tetapi arahnya adalah tepat kepada dua orang yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Ketika penunggang kuda itu telah semakin dekat, dan ketika tiba-tiba matanya yang bercahaya itu melihat kedua orang yang terbaring tak bergerak, maka ia menjadi sangat terkejut. Cepat ia meloncat turun mengamat-amati lawan Mahesa Jenar.

Dengan wajah yang cemas, ia meraba-raba dada orang itu, menggerak-gerakkan tangannya dan mengendorkan ikat pinggang kulit yang melilit di perutnya. Setelah itu perlahan-lahan ia mendekati Mahesa Jenar.

Alangkah terkejutnya ia, pada saat ia melihat siapakah yang terbaring pingsan itu, sehingga terloncatlah suaranya yang lunak halus, Kakang Mahesa Jenar….

Setelah itu ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi ketika ia sadar bahwa pasti telah terjadi pertempuran diantara mereka berdua.

Dalam kebingungannya, penunggang kuda itu melihat Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Tanpa disengaja ia meloncat selangkah maju. Tetapi pada saat itu pula ia melihat orang yang lain bergerak-gerak pula. Sehingga tanpa sadar ia mendekatinya pula. Sesaat kemudian tampaklah mereka berdua telah dapat mengangkat kepala masing-masing, meskipun pandangan mereka masih berputar-putar. Tetapi demikian mereka saling memandang, maka dengan sisa kekuatan mereka, segera mereka bangkit dan siap untuk bertempur kembali, meskipun mereka belum dapat berdiri tegak.

Untunglah bahwa orang ketiga itu sempat memisahnya.

Mendengar suara orang ketiga yang halus, Mahesa Jenar terkejut bercampur heran. Pandangannya bergerak-gerak berganti-ganti ke arah kedua orang yang berada di hadapannya.

Dalam cahaya matahari pagi yang sudah semakin jelas, Mahesa Jenar dapat melihat kedua-duanya dengan terang. Yang seorang adalah seorang laki-laki yang perkasa, bertubuh tegap kekar, berwajah cakap, serta berpakaian bagus. Beberapa macam perhiasan melekat pada pakaiannya yang sudah menjadi kotor.

Tetapi yang paling menggetarkan adalah orang yang satu lagi. Meskipun orang itu berpakaian sederhana, tetapi dari wajahnya memancar cahaya yang menyilaukan mata Mahesa Jenar.

Ketika orang itu menyapanya, darah Mahesa Jenar serasa berdesir lebih cepat. Kakang Mahesa Jenar, apakah yang telah menyebabkan Kakang bertengkar dengan Kakang Sarayuda?

Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepalanya. Melihat wajah orang yang disebut Sarayuda itu, tiba-tiba Mahesa Jenar meragukan tuduhannya, bahwa orang itu telah menjadi suruhan Lembu Sora untuk membunuh Arya.

Karena Mahesa Jenar beberapa lama tidak menjawab, maka terdengarlah suara Sarayuda, masih dengan nada kemarahan, Kau kenal dia, Pudak Wangi…?

Orang yang dipanggil Pudak Wangi itu menganggukkan kepalanya. Ya, aku kenal orang itu Kakang, seperti aku mengenal Kakang Sarayuda, jawabnya.

Mendengar jawaban Pudak Wangi, Sarayuda bertambah tidak senang. Di mana dan kapan kau kenal dia?

Pudak Wangi tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi kepada Mahesa Jenar ia berkata, Kakang, marilah Kakang Mahesa Jenar aku perkenalkan dengan Kakang Sarayuda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s