MENDENGAR ajakan Pudak Wangi, perasaan Mahesa Jenar menjadi bertanya-tanya. Apakah hubungan antara Pudak Wangi dengan Sarayuda…?

Sebaliknya Sarayuda yang masih dipengaruhi oleh kemarahannya, menjadi agak bingung.

Agaknya Pudak Wangi merasakan kekakuan suasana, maka ia menjelaskan, Kakang Mahesa Jenar.., Kakang Sarayuda adalah murid Eyang Pandan Alas.

Mendengar keterangan itu, hati Mahesa Jenar berdebar tak keruan. Kalau demikian ia telah berbuat suatu kesalahan. Mustahillah kalau murid Pandan Alas telah berbuat suatu kejahatan. Perlahan-lahan matanya beredar ke arah Arya terbaring, dan perlahan-lahan didekatinya anak itu. Anak tempat menumpahkan segala harapan masa depannya.

Karena ia sendiri sampai saat itu belum mempunyai gambaran sesuatu tentang kelanjutan dari perguruannya, maka ia telah berbuat suatu kesalahan. Sambil meraba-raba tubuh Arya, Mahesa Jenar mengangguk hormat kepada Sarayuda.

Barangkali aku telah berbuat kesalahan. Karena itu aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku adalah Mahesa Jenar, murid dari Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh, katanya.

Mendengar pengakuan Mahesa Jenar, Sarayuda menjadi terkejut pula, disamping pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya.

Kalau orang itu murid Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh seperti yang pernah didengar dari gurunya, lalu apakah sebabnya ia demikian saja menyerangnya tanpa sebab?

Belum lagi Sarayuda bertanya, terdengar Mahesa Jenar melanjutkan,

Tuan… sebenarnya aku tadi telah meraba-raba. Menilik sikap Tuan, pastilah Tuan ada hubungannya dengan salah seorang sahabat almarhum guruku. Tetapi aku sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengingat-ingat. Baru kemudian setelah Adi Pudak Wangi mengatakan bahwa Tuan adalah murid Ki Ageng Pandan Alas, aku jadi teringat kepada ceritera guruku, bahwa sikap yang demikian tadi adalah sikap khusus perguruan Ki Ageng Pandan Alas dengan sebutan Aji Cunda Manik.

Wajah Sarayuda kini telah mengendor, namun matanya masih mengandung bermacam-macam pertanyaan.

Aku pun kemudian tahu pula, bahwa Tuan telah melawan Aji Cunda Manik dengan aji yang terkenal, Sasra Birawa. Untunglah bahwa aku tidak lumat karenanya.

Ah, jangan merendahkan diri Tuan, sahut Mahesa Jenar. Cunda Manik adalah suatu kekuatan yang tiada taranya.

Tetapi, apakah sebabnya Tuan menyerang aku tanpa sebab, sedang aku lagi berusaha menyelamatkan jiwa anak itu? tanya Sarayuda kemudian.

Tiba-tiba wajah Mahesa Jenar jadi pucat. Maka dengan gugup ia bertanya, Tuan sedang berusaha menyelamatkan jiwa anak ini?

Demikianlah, jawab Sarayuda. Ketika aku sedang menikmati kesejukan malam di padang ilalang ini, aku mendengar jerit anak itu. Ketika aku mendekatinya, maka aku melihat seorang anak sedang diseret dan disiksa oleh tiga orang yang tak mengenal perikemanusiaan. Akhirnya aku terpaksa membunuh ketiga orang yang tidak mau mendengarkan peringatanku. Bahkan mereka telah mencoba untuk membunuh anak yang sudah pingsan itu.

Mendengar ceritera itu, Mahesa Jenar menjadi semakin pucat.

Kalau demikian, Tuanlah yang telah menyelamatkan jiwa anak itu? Kalau demikian maka dengan menyerang Tuan, aku telah berbuat kesalahan yang berlipat-lipat. Sebab aku mengira bahwa Tuan telah mengambil anakku itu dari rumahku.

Sarayuda mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang ia sedikit banyak telah dapat mengetahui duduk perkaranya, kenapa Mahesa Jenar langsung menyerangnya pada saat ia sedang mendukung anak yang pingsan itu.

Agaknya Tuan telah salah sangka, katanya.

Mahesa Jenar menjawab lirih,

Benar Tuan, aku terlalu tergesa-gesa, karena kecemasan akan nasib anakku.

Siapakah anak itu? tanya Pudak Wangi, yang memperhatikan percakapan kedua orang itu dengan saksama.

Arya Salaka, jawab Mahesa Jenar. Ia adalah putra Kakang Gajah Sora, kepala perdikan Banyubiru, yang juga cucu Paman Sora Dipayana.
Aku pernah mendengar nama itu dari Bapa Pandan Alas, sahut Sarayuda, dan untunglah bahwa aku telah menjumpai orang-orang yang mencoba mengganggunya.

Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan segala sesuatu yang telah terjadi atas Arya, dan suatu kebetulan yang tak disangka-sangka bahwa kemudian ia bertemu dengan murid Ki Ageng Pandan Alas, Sarayuda dan Pudak Wangi mendengarkan kata-kata Mahesa Jenar itu dengan seksama.

Sampai akhirnya Mahesa Jenar berkata, Aku minta maaf, Tuan, bahwa aku telah menyerang Tuan. Untunglah bahwa Tuan adalah seorang perkasa. Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Tuan maka aku akan menanggung dosa yang tiada taranya.

Sarayuda tersenyum hambar. Bagaimanapun juga ia masih agak jengkel kepada Mahesa Jenar. Tetapi mendengar keterangan Mahesa Jenar, ia dapat mengerti sepenuhnya, perasaan apakah yang mendorongnya sehingga ia berbuat demikian.

Kemudian atas persetujuan mereka bersama, Arya segera didukung oleh Pudak Wangi di atas kudanya, dan segera dilarikan ke tempat pemondokannya, untuk segera mendapat perawatan yang lebih baik. Sedang Sarayuda dan Mahesa Jenar segera berjalan menyusulnya, meskipun kemudian mereka terpaksa kembali dengan membawa alat-alat untuk mengubur orang-orang yang terbunuh oleh Sarayuda.

Mereka pergi ke sebuah bukit, dimana Ki Ageng Pandan Alas membangun sebuah gubug sebagai tempat peristirahatan. Di sebelahnya terbentang sebuah tanah pategalan yang luas, milik orang-orang padepokan di bukit itu pula.

Sebagai seorang yang sedang melakukan tugas yang diliputi oleh rahasia, maka Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri pula. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas diterima sebagai seorang penduduk yang baik hati beserta cucunya seorang pemuda pemalu yang tidak pernah keluar dari gubugnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s