KADANG-KADANG Ki Ageng Pandan Alas yang menamakan dirinya Ki Punjung, pergi beberapa hari untuk mendapatkan keterangan tentang keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Namun sampai beberapa minggu kedua keris itu masih diliputi oleh takbir kegelapan.

Sedang apabila Ki Ageng Pandan Alas berada di rumah, maka hampir setiap saat, siang dan malam, ia membentuk Pudak Wangi yang sebenarnya adalah Rara Wilis, untuk menjadi seorang yang berilmu. Ia ingin merebut kembali ayah Rara Wilis dari dunia kejahatan dengan mempergunakan keperwiraan Rara Wilis yang diharapkan dapat menandingi ibu tirinya, anak Sima Rodra tua dari Lodaya. Dalam pondok itulah Rara Wilis mengalami penggemblengan.

Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda dari Gunung Kidul. Sarayuda, yang pada masa kanak-kanaknya menjadi kawan bermain Rara Wilis. Pemuda itu adalah murid Ki Ageng Pandan Alas. Ketika masa berguru sudah cukup, maka beberapa lama Sarayuda diajaknya merantau untuk mendapat pengalaman. Setelah beberapa lama kemudian, disuruhnya Sarayuda kembali ke Gunung Kidul untuk menerima warisan orang tuanya, yaitu kedudukan sebagai Demang di Gunung Kidul.
Pada saat Rara Wilis menjadi dewasa, Sarayuda merasa bahwa persahabatannya dengan Rara Wilis telah mengalami perubahan. Perasaannya sebagai pemuda kadang-kadang tersentuh-sentuh dengan tajamnya. Tetapi belum lagi Sarayuda mengatakan sesuatu, terjadilah malapetaka yang menimpa Rara Wilis. Ibunya meninggal dunia. Terpaksa ia menyabarkan diri untuk beberapa saat, sehingga masa berkabung itu lampau.

Tetapi tanpa diduganya, pada suatu hari Rara Wilis pergi meninggalkan Gunung Kidul. Tak seorang pun yang mengetahui ke mana arah tujuannya. Meskipun Sarayuda telah memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya, namun selalu sia-sia saja.

Karena itu, untuk memenuhi tuntutan perasaannya yang tak dapat dibendung lagi, maka pada suatu hari Sarayuda sendirilah yang pergi untuk menemukan Rara Wilis. Karena Sarayuda memiliki pengalaman yang cukup, maka meskipun dengan susah payah, bertanya kesana-kemari, akhirnya ia mendapatkan beberapa keterangan yang meskipun samar-samar tentang seorang gadis yang berjalan seorang diri. Tetapi untuk beberapa lama ia kehilangan jejak.

Ia telah mencoba mencari Ki Ageng Pandan Alas ke Pliridan, Wanasaba, dan ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dahulu. Namun Ki Ageng Pandan Alas tidak dapat ditemuinya. Ia yakin bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak akan membiarkan cucunya itu merantau tanpa tujuan. Pada suatu saat pasti Rara Wilis akan berada bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas.

Pada suatu saat di lereng Gunung Sumbing, pada saat ia sedang beristirahat di sebuah goa yang pernah dikunjungi bersama dengan gurunya, datanglah seorang yang juga akan berteduh di tempat itu. Dan ternyata, orang itulah Ki Ageng Pandan Alas.

Betapa girang hati Sarayuda bertemu dengan gurunya tanpa disangka-sangka.

Seterusnya Sarayuda menyertai Ki Ageng Pandan Alas, kembali ke pondoknya, ke tempat ia meninggalkan Rara Wilis yang telah berubah menjadi Pudak Wangi. Namun bagaimanapun bagi Sarayuda, baik Rara Wilis maupun Pudak Wangi sama sekali tidak ada bedanya.

Maka untuk beberapa lama Sarayuda tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Pudak Wangi, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat melahirkan perasaannya kepada Rara Wilis.

Pada malam itu, ketika udara malam yang sejuk membelai gubug kecil tempat tinggal Ki Ageng Pandan Alas bersama muridnya, Sarayuda tiba-tiba ingin melihat-lihat keadaan sekeliling bukit kecil itu. Maka segera ia menyiapkan kudanya, dan perlahan-lahan dinaikinya kuda itu tanpa tujuan.

Tiba-tiba ketika kudanya sampai di padang terbuka, Sarayuda mendengar sayup-sayup jerit seseorang. Cepat-cepat ia memacu kudanya ke arah suara itu. Dan yang dilihatnya adalah seorang anak yang diseret oleh tiga orang yang agaknya sama sekali tidak berperikemanusiaan.

Sarayuda mencoba untuk mencegah serta bertanya tentang anak itu, apakah sebab-musababnya. Tetapi sama sekali ia tidak mendapat jawaban. Malahan ketiga orang itu menyerangnya bersama-sama. Maka tidak ada jalan lain, kecuali melawannya. Malahan akhirnya ketiga orang itu binasa.

Ketika kemudian ia mengangkat anak itu, dan akan dibawanya kembali, kudanya telah berlari mendahului. Kemudian tanpa diduga-duganya datanglah Mahesa Jenar menyerangnya, sehingga mereka harus bertempur hampir separoh malam.

Kuda yang telah beberapa hari tinggal di rumah Ki Ageng Pandan Alas itu ternyata dapat menemukan jalan. Agaknya ia ketakutan dan terkejut ketika Sarayuda bertempur melawan tiga orang lawannya.

Pudak Wangi yang mengetahui bahwa kuda itu pulang tanpa penumpang menjadi agak cemas. Karena itu ia berusaha untuk mencarinya dengan menuruti jejak kudanya. Sehingga akhirnya dijumpainya Sarayuda dan Mahesa Jenar bersama-sama pingsan. Untunglah bahwa Pudak Wangi tidak terlambat, sehingga tidak terlanjur terjadi sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s