Di rumah Ki Ageng Pandan Alas, Arya mendapat perawatan yang baik, sehingga dalam waktu yang singkat tampaklah bahwa tidak terlanjur terjadi sesuatu, baik Mahesa Jenar maupun Sarayuda. Ternyata bahwa Ki Ageng Pandan Alas mempunyai cukup pengetahuan pula dalam hal obat-obatan.

Meskipun tidak begitu sempurna, namun karena usianya yang telah lanjut serta pengalaman yang luas, maka banyak pula dedaunan dan akar-akar yang membuat kesehatannya telah hampir pulih kembali.

Atas permintaan Pandan Alas pula, maka Mahesa Jenar untuk beberapa lama tinggal di rumah itu sambil menunggu Arya Salaka sampai benar-benar sembuh.

Dalam waktu yang singkat itu, timbullah rasa persahabatan yang erat antara Mahesa Jenar dengan Sarayuda yang usianya hampir sebaya. Sarayuda mengagumi Mahesa Jenar sebagai seorang yang cerdas, bersikap dewasa serta banyak mempunyai ceritera-ceritera tentang kepahlawanan yang menarik. Sedang terhadap Sarayuda, Mahesa Jenar merasa berhutang budi yang tiada taranya. Juga karena sikap Sarayuda yang berterus terang, yang memancar dari lubuk hati tanpa pamrih.

Tetapi disamping itu, disamping perasaan yang bahagia, karena Arya telah terselamatkan, dan karena ia berkesempatan bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan bersahabat dengan muridnya, namun ada pula perasaan lain yang menusuk-nusuk dada Mahesa Jenar. Pertemuannya dengan Pudak Wangi pada kesempatan yang sama sekali tak diduganya itu, telah menimbulkan kenangan pada segenap peristiwa-peristiwa yang lalu, pada saat pertemuannya yang mula-mula sekali di hutan Tambak Baya. Suatu perasaan yang berbahagia pada saat ia dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan Jaka Soka. Tetapi juga suatu kenangan yang seram, pada saat gadis itu hilang. Hampir saja ia membunuh orang yang sama sekali tak bersalah.

Mengingat hal-hal itu Mahesa Jenar tersenyum sendiri.

Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Pandan Alas sengaja mempertemukannya dengan seorang pemuda baru yang bernama Pudak Wangi di Banyubiru.

Semuanya itu telah membuat Mahesa Jenar selalu diganggu oleh kenangan yang susul-menyusul, yang setiap kali terasa menggores jantungnya, serta meninggalkan bekas luka yang pedih.

Apalagi sekarang, pemuda yang bernama Pudak Wangi itu selalu berada di sekitarnya. Karena itu maka hatinya tidak pernah merasa tenteram. Bagaimanapun ia mencoba melupakan bayangan-bayangan yang selalu mengejarnya, serta bagaimanapun juga ia mencoba menasehati dirinya, bahwa yang berada di rumah itu adalah seorang pemuda, namun ia tidak dapat membohongi diri, tidak dapat mencabut kembali pengertiannya, bahwa Pudak Wangi itu adalah Rara Wilis.

Kadang-kadang Mahesa Jenar menjadi jengkel kepada dirinya sendiri. Kalau demikian maka untuk mengisi waktunya, supaya tidak selalu diganggu oleh perasaan-perasaan itu, Mahesa Jenar sering pergi berburu seorang diri, sebab Arya masih belum kuat benar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang agak berat.

Dengan busur yang dapat dipinjamnya dari Pudak Wangi, Mahesa Jenar sering berburu.

Demikianlah pada suatu malam yang gelap, Mahesa Jenar telah mempersiapkan busur serta anak-panahnya. Kali ini ia ingin mendapatkan harimau. Sengaja ia tidak mengajak Sarayuda, supaya ia dapat berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengganggunya.

Setelah ia minta diri kepada Arya, serta menyanggupinya untuk membawakan kulit harimau yang besar, maka berangkatlah Mahesa Jenar ke padang ilalang yang diseling-seling dengan semak-semak. Di tempat-tempat itulah biasanya berkeliaran harimau-harimau yang sedang mencari mangsa.

Angin malam yang bertiup lewat perbukitan, mengantarkan hawa yang segar. Di langit yang biru gelap, bintang-bintang bergantungan dengan riangnya. Beberapa kali lembaran-lembaran mega yang putih terapung-apung lewat, seperti rakit-rakit berkeliaran di danau yang luas.

Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit yang terbentang di atas kepalanya. Alangkah luasnya. Dengan memandang ke arah langit serta benda-benda angkasa yang tiada taranya itu, terasa betapa kecilnya manusia ini. Tidak lebih dari satu titik pada sebuah bidang seluas kerajaan Demak. Apalagi kalau kita hadapkan hati kita kepada Sang Pencipta. Maka manusia itu benar-benar sama sekali tak berarti.

Ketika Mahesa Jenar sedang mengagumi keperkasaan alam, tiba-tiba terdengarlah oleh telinganya yang sangat tajam itu, langkah orang mengikutinya. Dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar memperhatikan langkah itu dengan saksama. Sampai akhirnya dengan gerakan yang cepat sekali Mahesa Jenar menghentikan langkahnya serta membalikkan diri. Tetapi demikian ia menghadap orang yang mengikutinya itu, debar dadanya berubah menjadi suatu perasaan heran. Sebab yang berdiri di hadapannya adalah Pudak Wangi.

Untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Pudak Wangi menundukkan wajahnya, sedang jari-jarinya bermain-main pada ujung bajunya. Baru beberapa lama kemudian Mahesa Jenar dengan agak tergagap bertanya, Akan ke manakah Adi Pudak Wangi malam-malam begini?

Pudak Wangi tidak segera menyahut.

Kemudian ia bertanya, Bukankah Kakang Mahesa Jenar hendak berburu?

Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.

Kalau demikian aku akan pergi berburu pula, lanjut Pudak Wangi.

Maka terloncatlah jawaban Mahesa Jenar tanpa sadar, Adi… aku kira tidaklah pantas kalau kau berjalan-jalan di malam hari, serta berburu pula bersama aku.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, kembali Pudak Wangi menundukkan wajahnya malu. Tetapi sesaat kemudian ia menjawab, Kakang Mahesa Jenar…, kalau Kakang boleh berburu pada malam hari, apa sebabnya aku tidak…? Adakah bedanya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s