MAHESA JENAR terdiam. Barulah ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, bukan dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Karena itu, segera ia menjawab, Tidak … Adi, sama sekali tak ada bedanya.

Kalau demikian berarti aku diperkenankan untuk pergi berburu pula, Desak Pudak Wangi.

Karena jawaban itu Mahesa Jenar semakin terdesak. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mencegah Pudak Wangi ikut serta. Tetapi banyak halangannya berjalan di malam hari, meskipun Adi pada dasarnya diperkenankan berburu pula.

Dengan tersenyum Pudak Wangi menjawab, Kenapa Kakang Mahesa Jenar cemas akan bahaya. Aku sudah lebih lama tinggal di tempat ini, sehingga aku lebih banyak mengenalnya. Kecuali itu, andaikata bahaya datang, biarlah aku coba untuk mengatasinya. Bukankah aku murid Ki Ageng Pandan Alas?

Sekali lagi Mahesa Jenar terdesak, sehingga ia tidak dapat berkata-kata lagi. Pudak Wangi memandang Mahesa Jenar dengan tersenyum kecil. Melihat senyum Pudak Wangi, bagaimanapun Mahesa Jenar tergetar hatinya. Kemudian terdengar kembali Pudak Wangi berkata, Jadi, masih tetapkah Kakang Mahesa Jenar menolak aku ikut serta?

Dengan tergagap Mahesa Jenar cepat-cepat menjawab, Silahkan Adi… silahkan.

Kembali Pudak Wangi tersenyum. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Maka kemudian berjalanlah mereka berdua dengan busur di tangan masing-masing. Tetapi di sepanjang jalan hampir tak terdengar kata-kata. Suasana kekakuan masih tetap ada, membatasi pergaulan mereka.

Bintang-bintang yang gemerlapan masih bergayutan di langit. Di selatan, bintang Gubug Penceng tepat berdiri di atas kutub. Dan angin malam dengan segarnya membelai hati mereka yang sedang berjalan di kegelapan malam.

Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di kejauhan terdengar bunyi telapak kuda semakin lama semakin mendekat, dan tidak lama kemudian mereka melihat bayangan dua orang berkuda melintas di padang ilalang itu.

Ketika orang-orang itu melintas dekat Mahesa Jenar dan Pudak Wangi berdiri, mendadak salah seorang membelokkan kudanya mengarah kepadanya. Untuk tidak menimbulkan kesan-kesan yang kurang baik, segera Mahesa Jenar dan Pudak Wangi meletakkan busur-busur mereka.

Beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar, kuda itu berhenti, disusul dengan orang yang satu lagi, yang agaknya mengikutinya pula.

Dengan kasar dan masih tetap di punggung kudanya, orang itu bertanya, He, siapakah kalian yang pada malam-malam begini berkeliaran di sini?

Kami adalah petani-petani di bukit ini, jawab Mahesa Jenar.

Hem… desis yang lain. Lalu apa kerja kalian di sini?
Kami sedang berburu ayam hutan, jawab Mahesa Jenar pula.

Mendengar jawaban itu agaknya mereka percaya. Maka bertanyalah salah seorang diantaranya lebih lanjut, Adakah kau lihat di sekitar bukit ini kemarin atau lusa atau beberapa hari yang lalu tiga orang asing lewat?

Tiga orang? ulang Mahesa Jenar sambil meng- ingat-ingat. Tiba-tiba ia teringat kepada keterangan Sarayuda, bahwa Arya telah diseret oleh tiga orang yang tak dikenalnya. Sedang menilik pakaian mereka, maka mereka tak ubahnya dengan orang yang telah menyerang Banyubiru untuk membunuh Arya. Karena itu segera Mahesa Jenar menghubungkan kedua orang itu dengan ketiga orang yang telah mencoba membunuh anak itu. Maka timbullah keinginannya untuk meyakinkan pendapatnya itu.

Maka katanya, Aku memang telah melihat tiga orang lewat di sini, Tuan. Tetapi tidak hanya tiga orang saja, mereka telah membawa serta seorang anak laki-laki bersama dengan mereka.
Seorang anak laki-laki? potong salah seorang diantaranya.
Ya, aku tidak tahu apakah anak itu anak salah seorang dari ketiga orang itu, lanjut Mahesa Jenar.
Bukan, sama sekali bukan, jawab yang lain.
Pasti demikian, sela Mahesa Jenar, Sebab anak itu didukungnya dengan penuh kasih, sebagai seorang bapak terhadap anaknya.

Maka terdengarlah kedua orang itu tertawa riuh, dan terdengarlah salah seorang berkata, Umur anak itu tidak akan lebih dari panjangnya malam pada saat kau lihat. Kapan kau lihat mereka lewat di sini?

Mendengar kata-kata itu, Mahesa Jenar menjadi yakin bahwa dua orang itu adalah kawan-kawan yang sedang mencari ketiga orang yang ternyata telah dibunuh oleh Sarayuda. Karena itu, segera terungkaplah kemarahan Mahesa Jenar. Karena orang-orang ini adalah pasti orang-orang Lembu Sora. Maka, karena gelora kemarahannya, timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menghajar kedua orang itu. Segera Mahesa Jenar memancing mereka ke dalam suatu perselisihan.

Tuan salah terka. Anak itu sampai sekarang masih segar bugar. Oleh ketiga orang itu, ia mereka titipkan kepada kami, sementara mereka pulang untuk mengambil jemputan dan kendaraan, kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, wajah kedua orang itu segera berubah hebat. Dengan gugup salah seorang bertanya, Ketiga orang itu berasal dari mana?
Dari Banyubiru, jawab Mahesa Jenar cepat-cepat. Mereka adalah utusan Nyi Ageng Gajah Sora.

Wajah kedua orang itu menjadi bertambah tegang, apalagi ketika Mahesa Jenar melanjutkan, Nama anak itu adalah Arya Salaka.
Berikan anak itu kepadaku! Tiba-tiba yang seorang berteriak.

Dengan tenang Mahesa Jenar memandang wajah orang itu. Hidungnya yang besar hampir melengkung, terletak diantara kedua matanya yang mirip dengan mata burung hantu. Sedang yang lain adalah gambaran dari wajah seorang yang tidak mempunyai pikiran. Sudut-sudut bibirnya tertarik agak ke bawah, dan matanya tidaklah bedanya dengan mata sebuah patung. Mati dan tak bersinar sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s