SIAPAKAH sebenarnya kalian? tanya Mahesa Jenar.
Aku juga suruhan Nyi Ageng Gajah Sora dari Banyubiru, jawab mereka.
Sayang, bahwa aku tidak berani menyerahkan anak itu kecuali kepada yang telah menitipkan, sahut Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, agaknya kedua orang itu menjadi marah sekali. Kau berikan anak itu, atau kau aku seret di belakang kudaku? teriak orang itu.

Melihat muka-muka yang kasar dari kedua orang itu Mahesa Jenar menjadi muak.

Tetapi masih juga ia menjawab dengan tenang, Aku tidak akan memberikan anak itu. Ketahuilah bahwa ketiga orang Banyubiru yang akan menyelamatkan Arya Salaka itu sudah aku bunuh, dan sekarang anak itu pun akan aku bunuh pula. Aku adalah orang Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, kedua orang berkuda itu tubuhnya menjadi bergetar karena marah. Mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan serta telah dikenal pula sebagai orang-orang Lembu Sora yang diperintahkan membunuh Arya.

Karena itu tidak ada jalan lain kecuali membinasakan kedua orang yang tidak dikenalnya itu. Dengan gigi yang gemeretak mereka mencabut pedang-pedang mereka.

Bersamaan dengan itu, Mahesa Jenar pun menjadi semakin muak pula melihat mata yang mirip dengan mata burung hantu, serta mata yang sama sekali padam di atas bibir yang melengkung ke bawah. Karena itu segera ia akan bertindak melenyapkan pemandangan yang sama sekali tidak menarik hati itu.

Tetapi baru saja Mahesa Jenar akan melangkah, terasalah Pudak Wangi menggamit pundaknya sambil berbisik, Kakang Mahesa Jenar, berilah aku kesempatan untuk berlatih. Tetapi jangan lepaskan aku dari pengawasan.

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar bisik Pudak Wangi, tetapi kemudian ia tersenyum. Dengan berbisik pula ia menjawab, Silahkan murid Ki Ageng Pandan Alas.

Oleh jawaban itu, Pudak Wangi menjadi agak malu. Namun sesaat kemudian Mahesa Jenar telah meloncat ke samping pada saat serangan kedua orang berkuda itu datang.
Pudak Wangi pun lincah pula. Sambil memungut busurnya ia meloncat ke samping, serta dengan tangkasnya ia berjongkok, untuk sesaat yang sangat pendek siap melontarkan anak panahnya.

Sengaja Pudak Wangi tidak segera mengarahkan anak panahnya kepada orang-orang yang mengendarai kuda-kuda itu, karena ia ingin mengetahui sampai di mana tingkat ilmu yang pernah diterima dari kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas.

Mengalami kejadian itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakin marah. Meskipun demikian mereka tidak berani tergesa-gesa menyerang, sebab mereka sadar bahwa busur di tangan Pudak Wangi itu tak dapat diperingan akibatnya.

Karena itu mereka segera meloncat turun dan lari-lari berputaran sambil mendekati bersama-sama dari arah yang berlawanan.

Pudak Wangi, yang memang sama sekali tak ingin membunuh mereka dengan panahnya, segera meletakkan busurnya serta kemudian mencabut pedangnya pula.

Kedua orang lawannya menjadi keheranan kenapa orang itu tidak mempergunakan panahnya.

Tetapi mereka sama sekali tidak mau membuang-buang waktu lagi. Segera mereka bersama-sama mendesak maju. Karena Mahesa Jenar kemudian menyingkir saja, maka perhatian mereka tercurah kepada Pudak Wangi.

Ternyata Pudak Wangi yang meskipun baru menerima pelajaran beberapa bulan saja, namun ia telah dapat menunjukkan kelincahan serta ketangkasan bergerak. Dengan melingkar dan kemudian meloncat mundur, ia berhasil menghindari kedua serangan yang datang dari arah yang berbeda itu sekaligus. Bahkan demikian kakinya menyentuh tanah, ia segera meloncat maju menyerang dengan pedangnya yang tipis namun tajamnya tiada terkira.

Pedang itu dibuat oleh Ki Ageng Pandan Alas, khusus untuk Pudak Wangi. Meskipun bentuknya tidak ubahnya pedang biasa, namun pedang itu agak lebih ringan.

Kedua orang lawan Pudak Wangi itu terkejut melihat lawannya dapat menghindarkan diri, bahkan kemudian dengan cepatnya telah menyerang kembali. Segera mereka berloncatan mundur. Meskipun kedua orang itu adalah dua orang yang telah berpuluh tahun menjadi laskar Pamingit, namun mereka belum pernah menerima latihan yang teratur dan bersungguh-sungguh, sehingga apa yang mereka lakukan adalah cara-cara yang kasar namun sederhana.

Mereka lebih senang mempergunakan tenaga dari pada otak mereka. Karena itu, meskipun melawan dua orang sekaligus, Pudak Wangi dapat melayani mereka dengan baiknya. Meskipun setelah beberapa lama, ternyata bahwa kedua orang Pamingit itu, bagaimanapun juga telah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada Pudak Wangi, sehingga akhirnya Pudak Wangi perlahan-lahan menjadi agak terdesak.

Tetapi bagaimanapun juga Mahesa Jenar menjadi keheranan. Agaknya darah Ki Ageng Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya telah memberinya bekal yang cukup untuk menjadikannya seorang yang perkasa. Baru beberapa bulan yang lalu di hutan Tambak Baya, seorang gadis hampir membunuh dirinya karena ia dikejar-kejar oleh Jaka Soka, dan kemudian setelah gadis itu ditolongnya, telah menjadikan Mahesa Jenar hampir gila karena gadis yang ditolongnya itu lenyap. Semuanya itu baru terjadi beberapa bulan, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah baru kemarin sore.

Sekarang, Mahesa Jenar menyaksikan gadis yang mengubah dirinya menjadi seorang pemuda bernama Pudak Wangi, telah dapat melawan dua orang laki-laki yang tubuhnya kuat seperti orang hutan, dengan otot-otot menjorok di permukaan kulit. Bagaimanapun tekunnya Pudak Wangi belajar, serta bagaimanapun sakti guru yang memberinya pelajaran, kalau di dalam tubuh Pudak Wangi tidak tersimpan bakat yang kuat, pasti dalam waktu yang pendek itu pelajaran yang diterimanya belumlah berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s