MAHESA JENAR membayangkan bahwa persoalannya kemudian akan menjadi bertambah melilit lagi. Persoalan antara mereka yang sedang memperebutkan Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, ditambah dengan persoalan Rara Wilis dengan ibu tirinya, yang pasti akan sangkut-menyangkut pula dengan usaha Arya untuk menemukan kembali kedudukan ayahnya yang telah dirampas oleh pamannya, Lembu Sora.

Sampai di rumah, mereka temui Arya masih tidur nyenyak. Maka tanpa dibangunkannya, rusa hasil buruan itu langsung dibaringkan di samping Arya, untuk mengejutkan anak itu besok pagi.

Kemudian Pudak Wangi segera pergi ke pembaringannya untuk beristirahat, sedang Mahesa Jenar seperti biasanya tidur dengan alas anyaman daun kelapa yang direntangkan di atas tumpukan jerami disamping gubug Ki Ageng Pandan Alas. Karena kelelahan serta kantuknya yang sangat maka segera Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya suara orang bercakap-cakap di halaman belakang rumah itu. Tanpa disengaja ia mendengar bahwa mereka yang bercakap-cakap itu adalah Pudak Wangi dengan Sarayuda, sebagai seorang gadis dengan seorang pemuda.

Tiba-tiba saja dengan tidak diketahuinya sendiri, darah Mahesa Jenar bergetar membentur dinding-dinding jantung. Maka timbullah keinginannya untuk mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut. Dengan masih berpura-pura tidur, ia memasang telinganya untuk mencoba menangkap setiap kata-kata mereka. Dan apa yang didengarnya telah menambah cepat gelora hatinya.

Wilis… terdengar suara Sarayuda jauh di dalam dadanya, Sejak kecil aku telah mengenalmu. Mengenal sebagai cucu guruku. Sejak itu aku telah merasakan suatu perbedaan antara pergaulanku denganmu dibanding dengan pergaulanku dengan kawan-kawan lain. Perasaan itulah yang agaknya kemudian berkembang menjadi perasaan seperti yang aku alami kini, dan yang pasti sudah aku ketahui pula. Karena itu Wilis, aku telah berusaha untuk menemukan kau kembali setelah kau melenyapkan diri beberapa saat yang lalu dari Gunung Kidul setelah ibumu meninggal dunia. Dengan menyimpan harapan di dalam hati, bahwa kau akan memiliki perasaan yang demikian pula.
Kemudian untuk beberapa lama, sama sekali tak terdengar suara. Namun bagi Mahesa Jenar, suara detak jantungnya seolah-olah sedemikian kerasnya sehingga jauh melampaui bunyi bedug.

Tetapi sesaat kemudian terdengar Sarayuda melanjutkan, Wilis, kalau beberapa waktu yang lalu aku pulang dari perantauanku, dan untuk beberapa lama aku tak pernah mengatakan perasaan itu kepadamu dan kepada siapapun, itu karena aku merasa bahwa aku masih belum mempunyai syarat-syarat yang cukup. Sekarang aku telah memiliki pekerjaan yang pantas. Yang dilintirkan dari ayahku kepadaku, yaitu jabatan Demang, yang aku kira akan dapat mencukupi bagi jaminan masa depan.

Kembali Sarayuda diam. Tetapi kali ini juga Rara Wilis sama sekali tidak menjawab. Bahkan akhirnya terdengar isak tangisnya diantara desah angin menjelang fajar, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah merupakan desir suara meluncurnya anak-anak panah yang langsung menembus jantungnya, serta menimbulkan luka yang pedih.

Wilis… Sarayuda melanjutkan, Aku tidak tahu kenapa kau menangis. Apakah kau terharu, marah, gembira atau kata-kataku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi apa yang aku lakukan adalah benar-benar terdorong oleh perasaanku yang bersih.

Masih belum terdengar Rara Wilis menjawab.

Bukan maksudku untuk memancingmu dengan janji Wilis, desak Sarayuda kemudian, Tetapi meskipun hanya setapak aku telah memliki tanah, dan walaupun hanya seekor kerbau kurus, aku telah berternak pula.

Meskipun kata-kata itu terluncur dari mulut Sarayuda tanpa maksud apapun terhadap orang lain, namun bagi Mahesa Jenar, kata-kata itu merupakan sebuah cermin suryakantha yang dapat menimbulkan bayangan seratus kali lipat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat dirinya dalam kaca itu sebagai seorang pengembara tak berarti. Seorang yang tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal, tidak mempunyai tanah yang subur untuk jaminan hidupnya, tanpa ternak dan tanpa kedudukan. Serta dilihatnya pula bayangan Sarayuda sebagai seorang yang memiliki syarat-syarat yang penuh. Tanah hampir seluas tanah yang terbentang di daerah Gunung Kidul yang ditaburi oleh 1000 puncak-puncak pegunungan yang asri. Ternak yang setiap hari memenuhi padang-padang rumput di tebing-tebing pegunungan dan di dataran-dataran, sawah yang subur di lembah-lembah yang luas dipagari oleh lereng-lereng hijau.

Mahesa Jenar… tiba-tiba terdengar hatinya berkata, Apakah kau akan berusaha untuk menyaingi Demang Sarayuda yang kaya raya serta gagah perkasa itu…? Mungkin kau akan dapat berhasil merebut hati Rara Wilis, tetapi dengan demikian kau akan menyiksanya sepanjang umurnya. Wilis akan mengalami hidup yang sulit, penuh dengan kekurangan dan penderitaan. Kalau kau melanjutkan usahamu untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, lalu apakah yang dapat kau lakukan terhadap Rara Wilis? Kau bawa serta untuk kau binasakan di bawah kekejaman-kekejaman lawan-lawanmu, atau kau umpankan kepada orang-orang golongan hitam sebagai barang permainan? Atau barangkali kau bermaksud meninggalkannya di suatu tempat? Dengan demikian Rara Wilis akan kesepian. Tiap malam ia akan menghitung setiap desir angin yang menyentuh wajahnya dengan mata yang mengaca, dengan penuh harapan pada setiap tarikan nafasnya, menantimu pulang. Tetapi adakah kau akan pulang kembali kepadanya?

Kata-kata hatinya itu mendengung sedemikian kerasnya di dalam kepala Mahesa Jenar. Ditambah dengan berbagai kenangan yang susul-menyusul. Apalagi kalau diingatnya bahwa Sarayuda adalah seorang yang telah menyelamatkan Arya, yang telah melepaskannya dari kemarahan Gajah Sora. Dan tiba-tiba karena semuanya itu, terasa bahwa kepalanya seolah-olah berputar, semakin lama semakin cepat semakin cepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s