MAHESA JENAR memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menguasai perasaannya. Namun betapa sulitnya. Malahan kenangan-kenangan masa lalu, yang seolah susul-menyusul, nampak semakin jelas. Bagaimana ia telah berusaha menyelamatkan Rara Wilis dari tangan Jaka Soka, sehingga akibatnya, hampir saja ia dibinasakan oleh Pasingsingan.

Tetapi karena tiba-tiba sekarang dirinya merasa tidak berhak lagi untuk mencoba mengambil hatinya, kenapa sekarang tiba-tiba ada orang lain yang menarik garis pemisah? Mengingat hal itu semua, darah Mahesa Jenar bergelora. Bukankah ia seorang laki-laki? Kalau demikian maka untuk mencapai idaman hati, taruhannya adalah nyawa. Ia tahu bahwa Sarayuda termasuk orang yang sakti, yang memiliki ilmu keturunan dari Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Cunda Manik. Namun ia yakin bahwa Sasra Birawa tidak pula kalah dahsyatnya. Penyelesaian dari pertempuran itu tidaklah penting. Kalau ia menang, maka ia pasti dapat memiliki Rara Wilis, tetapi kalau ia kalah, adalah kebinasaan. Ini akan lebih baik daripada hidup dengan hati yang kosong.

Karena pikiran itu, tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak. Apalagi ketika timbul dugaannya, bahwa Sarayuda sengaja menyatakan perasaannya terhadap Rara Wilis untuk dapat didengarnya. Kalau demikian, maka berarti bahwa Sarayuda dengan terang-terangan menantangnya. Maka hampir saja Mahesa Jenar meloncat berdiri, kalau tidak tiba-tiba saja timbul pula pikirannya yang lain. Sehingga terjadilah desak-mendesak antara perasaan yang satu dengan yang lain, pikiran yang satu dengan yang lain.

Rara Wilis bukanlah semacam barang yang dapat diperebutkan. Ia adalah seorang manusia yang berhak menjatuhkan pilihan. Meskipun seandainya ia menang dalam perang tanding dengan Sarayuda, tetapi ternyata Rara Wilis sebenarnya tidak memilihnya. Maka yang akan dimilikinya hanya Rara Wilis dalam bentuk wadagnya, bukan keseluruhannya. Apakah artinya bagi Mahesa Jenar, memiliki Rara Wilis tanpa hatinya. Karena itu maka kemauan Mahesa Jenar jadi mengendor lagi.

Malahan kembali timbul di dalam dadanya, suatu perasaan yang pedih, ketika ia tiba-tiba teringat kata-kata Rara Wilis di padang ilalang pada saat mereka berburu tadi.

Bukankah pertanyaan itu jelas. Rara Wilis akan berkata kepadanya, bahwa kenapa ia adalah seorang perantau, seorang yang tidak mempunyai tempat tinggal? Kenapa ia hidup sebagai seorang yang selalu berkeliaran di hutan-hutan, bukit-bukit dan lembah-lembah…?

Kalau demikian maka Rara Wilis pasti sedang memperbandingkan dirinya yang tidak hidup seperti lazimnya orang yang berkeluarga. Kenapa ia tidak menjadi Demang seperti Sarayuda yang menguasai tanah dengan seribu bukit, ternak di padang dan sawah yang subur di lembah-lembah…?

Kenapa ia tidak berkata kepada Rara Wilis tentang rumah yang besar serta halaman yang ditumbuhi pohon buah-buahan serta dipagari oleh tanam-tanaman berbunga…?
O…, semuanya itu pasti akan selalu menggugahnya kelak, apabila Rara Wilis kelak benar-benar menjadi istri Mahesa Jenar. Ataupun kalau tak terucapkan, perlahan-lahan pasti akan membakar hati gadis itu. Karena itu sebelum semuanya itu terjadi maka lebih baik Mahesa Jenar menarik diri. Kalau ia ingin melihat Rara Wilis berbahagia, maka ia harus melepaskan kepentingannya sendiri yang dikendalikan oleh nafsu. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Wilis menderita dan terlalu banyak berkorban untuknya.

Aku tidak akan mengganggunya, desis Mahesa Jenar.

Kemudian dengan diam-diam dan hati-hati sekali Mahesa Jenar bangkit dari pembaringannya, anyaman daun kelapa di atas jerami. Perlahan-lahan ia memasuki gubug Pandan Alas dari pintu depan, dan tanpa bersuara didukungnya Arya Salaka dari pembaringannya. Kemudian dengan hati-hati ia meninggalkan gubug yang telah menimbulkan peristiwa pahit itu.

Arya yang kemudian terbangun, sama sekali tak mengetahui duduk perkaranya. Ia merasa bahwa pamannya berlari kencang sekali, karena itu ia bertanya, Paman…, ke mana Paman akan pergi?

Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu, malahan ia berlari semakin kencang dan kencang, menuju ke gubug yang telah dibangunnya bersama Arya Salaka.

Perjalanan mereka menyusup melewati hutan-hutan kecil yang tidak begitu lebat.
Ketika fajar menyingsing, Mahesa Jenar mencoba untuk menguasai dirinya. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan yang asing bagi orang-orang yang dijumpainya di jalanan. Karena itu Arya segera diturunkannya dari dukungan.

Orang-orang yang sedang ke sawah serta orang-orang yang pergi mencari kayu di hutan, hanya memandang Mahesa Jenar sepintas saja, meskipun kadang-kadang ada yang heran pula, Dari manakah sepagi itu, ayah-beranak sudah berada di perjalanan?

Tetapi Mahesa Jenar sudah sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Ia berjalan terus dengan kecepatan yang penuh, tanpa beristirahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s