AKHIRNYA Arya menjadi kelelahan.

Maka bertanyalah ia, Paman…, kemanakah kita pergi?

Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu. Ia masih saja berjalan cepat-cepat. Karena itu Arya kadang-kadang terpaksa berlari-lari untuk mengikuti langkah Mahesa Jenar.

Paman…, tunggulah! teriak Arya.

Mahesa Jenar yang sedang diliputi oleh berpuluh ribu masalah itu hampir tak mendengar suara Arya. Ia masih saja berjalan cepat tanpa menoleh.

Mendengar Arya berteriak-teriak, Mahesa Jenar berhenti menoleh. Tetapi, Arya yang biasanya mendapat perhatian sepenuhnya dari Mahesa Jenar, kini rasa-rasanya sangat menjengkelkan sekali. Dengan keras pula Mahesa Jenar berteriak, Arya…, tidakkah kau dapat berjalan lebih cepat?
Aku lelah sekali Paman, jawab Arya.

Baru beberapa langkah kau berjalan. Ayo belajarlah menjadi seorang laki-laki. Apakah kau, yang sudah sebesar itu masih harus selalu dimanjakan…? Didukung sampai punggungku patah? teriak Mahesa Jenar dengan kasarnya.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya terkejut bercampur heran. Ia belum pernah melihat Mahesa Jenar bertindak sekasar itu terhadapnya. Padahal ia sama sekali tidak merasa berbuat suatu kesalahan. Ia ingat jelas bahwa pamannya kemarin berkata kepadanya agar ia tidur saja, pamannya akan pergi berburu. Kemudian ketika ia terbangun, ia sedang didukung oleh pamannya sambil berlari-lari. Dan sekarang tiba-tiba saja pamannya marah kepadanya.

Sedang Arya kebingungan, terdengar kembali suara Mahesa Jenar, Arya…, tidakkah kau mau berjalan?

Arya tersentak, cepat ia melangkah menyusul. Namun di hatinya terasa ada sesuatu yang mengeram. Dan tiba-tiba saja terasa tenggorokannya tersumbat. Alangkah asingnya sikap pamannya. Sikap yang belum pernah dirasakannya selama ia bertemu dengannya. Apalagi sejak ayahnya meninggalkan Banyubiru, dan sejak beberapa orang selalu mengejar-ngejarnya dan akan membunuhnya. Pamannya selama itu selalu melindunginya dengan saksama. Tetapi sekarang sikap Paman Mahesa Jenar itu tiba-tiba berubah. Maka tanpa dirasanya matanya jadi membasah.

Dengan susah payah Arya berusaha untuk mencegah air mata yang hampir pecah. Namun akhirnya Arya Salaka tidak tahan lagi. Apalagi ketika didengarnya Mahesa Jenar membentaknya, Arya, kau anak laki-laki yang sudah sebesar itu masih juga menangis? Ayo, berlarilah kalau kau masih mau beserta aku. Kalau tidak, terserahlah kepadamu.

Setelah berkata demikian, Mahes Jenar melangkah melanjutkan perjalanannya. Meskipun kemudian terdengar suara Arya memanggil-manggilnya, Paman…, Paman…!

Tiba-tiba saja langkah Mahesa Jenar terhenti. Dilihatnya di pinggir jalan sempit di tepi hutan itu seseorang berdiri seperti menantinya. Ketika Mahesa Jenar berhenti, tampaklah orang itu melambaikan tangannya memanggil. Hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar, apalagi kemudian ketika dikenalnya orang itu adalah Ki Ageng Pandan Alas. Kakek dan guru Rara Wilis, yang telah memecahkan hatinya.

Tetapi ketika Mahesa Jenar sadar bahwa ia tidak dapat bermain-main dengan orang tua itu, maka dengan langkah yang berat ia pergi mendekatinya.

Mahesa Jenar… kata orang tua itu setelah Mahesa Jenar berdiri di hadapannya, Aku menangkap suatu sikap yang aneh padamu.

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya tanpa menjawab.

Kenapa kau pergi tanpa pamit kepadaku? lanjut Ki Ageng Pandan Alas.

Juga kali ini Mahesa Jenar tidak menjawab.

Terdengarlah orang tua itu tertawa lirih, namun wajahnya tidak secerah biasanya.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Tetapi ketika pandangannya membentur mata orang tua itu, kembali ia menundukkan mukanya. Dengan suara yang berat ia menjawab, Ki Ageng…, aku adalah orang yang tak berarti, yang tidak sepantasnya tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng, Adi Pudak Wangi dan Demang Sarayuda yang kaya raya.

Sekali lagi Ki Ageng Pandan Alas tersenyum.

Mahesa Jenar…, aku telah mendengar seluruhnya percakapanmu dengan Rara Wilis di padang perburuan.
Aku juga melihat bagaimana kau menyaksikan Rara Wilis berkelahi melawan dua orang yang kemudian kau bunuh dengan lemparan batu. Tetapi seterusnya, menurut gagapanku, kau menjadi tersinggung karenanya. Maka segera aku menyusulmu untuk mendapat penjelasan. Tetapi mendengar kata-katamu tadi, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau merasa disisihkan, karena kau bukan seorang yang kaya seperti Sarayuda, kata Ki Pandan Alas.

Mahesa Jenar mengangguk perlahan-lahan. Ki Ageng…, bukankah Ki Ageng mendengar sendiri, bagaimana Rara Wilis menanyakan kepadaku? Kenapa aku tidak menjabat kedudukanku kembali? Bukankah itu sudah jelas, bahwa Rara Wilis sama sekali tidak senang melihat seseorang yang merantau memperjuangkan keyakinannya?

Bukan tidak senang, Mahesa Jenar… jawab Ki Ageng Pandan Alas, Tetapi sebagai seorang gadis, pastilah ia berangan-angan. Angan-angan itu akan dapat dipenuhi oleh Ki Demang Sarayuda, yang memiliki tanah, ternak dan pangkat. Apalagi ia adalah seorang yang sakti pula, yang akan dapat melindungi keselamatan Rara Wilis, sela Mahesa Jenar.

Mendengar kata Mahesa Jenar itu, wajah Ki Ageng Pandan Alas nampak berkerut. Alisnya bergerak-gerak, sedang matanya memancarkan perasaannya yang kecewa.

Mahesa Jenar…, meskipun Sarayuda itu muridku, namun aku melihat beberapa kelebihan ada padamu.
Tetapi ternyata bahwa kau juga mempunyai kekurangan yang besar. Hatimu keras seperti baja, tetapi getas seperti baja pula. Kalau demikian… baiklah, aku akan berusaha untuk membentuk Sarayuda lebih lanjut, untuk melenyapkan kekurangan-kekurangannya agar dapat menyamaimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s