SETELAH mengucapkan kata-kata itu, dalam sekejap saja Ki Ageng Pandan Alas telah melangkah jauh. Ketika Mahesa Jenar akan menjawab, orang tua itu telah hilang masuk ke dalam hutan.

Maka, tiba-tiba timbullah penyesalan di hati Mahesa Jenar. Mungkin ia sudah menyakitkan hati orang tua itu. Sehingga dengan demikian kemungkinan untuk dapat kembali kepada Rara Wilis menjadi semakin tipis. Karena itu tiba-tiba menggeloralah kembali kejengkelan di dalam dadanya. Dunia ini menjadi seolah-olah gelap dan tanpa masa depan. Hidupnya menjadi tak berarti sama sekali. Kalau demikian buat apa ia mesti berjuang untuk masa depan. Masa yang akan dipenuhi oleh kepahitan hidup…?

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Ki Paniling yang sebenarnya bernama Radite, yang menjauhkan diri dari pergaulan ramai. Yang kemudian lebih senang hidup diantara para petani miskin tanpa berpikir tentang masa depan. Tentang negara, tentang bangsa.

O…, adakah demikian balas jasa yang diterimanya atas perjuangan yang dilakukan selama ini? Kalau demikian maka alangkah tenteramnya hidup Paniling.

Paman… tiba-tiba terdengar suara Arya dekat di belakang Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar suara itu. Tetapi ketika ia menoleh dan nampak wajah Arya yang kuyu, kembali terungkitlah kejengkelannya. Anak itu adalah isi dari masa depan yang gelap, yang pahit, yang akan menyiksanya. Buat apa ia harus ikut serta membinanya. Anak itu bukanlah anaknya. Biarlah Gajah Sora sendiri bertanggung jawab atasnya. Kalau kelak ia marah kepadanya, biarlah Gajah Sora mencoba mengukur lebar dadanya.

Karena pengaruh pikirannya yang kelam itu berteriaklah Mahesa Jenar membentak, Pergi…, pergi kau kelinci cengeng. Buat apa kau ikuti aku?

Mendengar suara kasar itu, dada Arya Salaka rasa-rasanya seperti tersambar petir, sehingga tubuhnya menggigil ketakutan. Belum lagi ia dapat bersuara, Mahesa Jenar telah melompat berlari. Berlari kencang-kencang seperti orang yang kehilangan ingatan. Meskipun kemudian terdengar jerit Arya Salaka, Paman…, Paman… namun suara itu semakin lama semakin jauh semakin jauh di belakangnya.

Suara Arya Salaka itu akhirnya lenyap menghantam batas-batas hutan. Sedang Mahesa Jenar masih saja berlari menyusup semak-semak seperti orang gila. Dengan napas yang terengah-engah, ia mendaki bukit kecil sambil masih terus berlari, menjauhi manusia. Ia akan pergi ke suatu tempat dimana hidupnya tak tersentuh oleh apapun.

Di puncak sebuah bukit, atau di pusat hutan yang lebat, ia akan bertapa. Menghadapkan hidupnya melulu buat masa langgeng. Akan ditinggalkannya dunia yang penuh dengan bayangan dan angan-angan seperti mimpi yang nikmat, tetapi kemudian yang membantingnya ke dalam jurang kekecewaan yang maha dalam.

Tetapi, tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat sebuah bayangan menghadang perjalanannya di tempat yang temaram oleh bayangan pepohonan. Karena itu segera ia memperlambat langkahnya. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika dari kejauhan dilihatnya bayangan itu mengenakan jubah abu-abu.

Pasingsingan… desisnya. Hatinya kemudian agak gelisah. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum sendiri.

Bagus, desisnya. Kalau Pasingsingan mau membunuh aku pula, aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya.

Mendapat pikiran itu, kembali Mahesa Jenar berlari, ke arah orang yang berjubah abu-abu yang disangkanya Pasingsingan itu. Tetapi kembali ia terkejut bukan kepalang, ketika ternyata orang yang berjubah abu-abu itu tidak mengenakan topeng kasar seperti yang biasa dipergunakan oleh Pasingsingan.

Apalagi ketika Mahesa Jenar sempat memandang wajah orang itu. Kurus dan janggutnya yang sudah putih tumbuh lebat pepat, menutup sebagian dari mukanya, sedang rambutnya yang sudah putih dibiarkannya terurai menjuntai dari bawah ikat kepalanya. Menilik garis-garis umur yang tergores di keningnya, nyatalah bahwa umur orang itu sudah sangat tua, namun tubuhnya masih nampak segar dan kuat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang telah mengambil keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten di Banyubiru. Orang itu berpakaian mirip dengan jubah Pasingsingan, namun bukan Pasingsingan. Sedang rambutnya yang putih itu, dapat saja pada waktu ia mengambil keris di Banyubiru digelungnya di bawah ikat kepalanya. Adapun wajahnya, tak seorangpun yang mengetahuinya. Karena itu tiba-tiba timbul dugaannya bahwa orang inilah yang telah mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Maka dengan tiba-tiba pula Mahesa Jenar berteriak, He Kyai…, adakah kau yang mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten?

Orang itu sama sekali tidak menjawab dan tidak bergerak. Hanya matanya saja yang tajam bersinar memandang ke arah Mahesa Jenar tanpa berkedip.

Karena pandangan mata itu, hati Mahesa Jenar jadi gelisah. Seolah-olah ada suatu pengaruh yang aneh pada dirinya. Maka untuk mengatasi kegelisahannya, kembali ia berteriak, He, siapakah kau, yang telah berani mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyu Biru…?

Orang itu masih belum menjawab. Tetapi pandangan matanya semakin dalam menembus dada Mahesa Jenar yang menjadi semakin gelisah. Dan seperti orang yang bingung, Mahesa Jenar membentak-bentak, Kau yang mengambil, he..? Ayo bilang, tak usah kau ingkari. Kalau demikian, kembalikan keris itu kepadaku. Kembalikan…!

Karena orang itu masih saja tidak menjawab, perasaan Mahesa Jenar menjadi semakin melonjak-lonjak. Timbullah suatu perasaan kecut dan ngeri di dalam dirinya. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya itu memancarkan suatu perbawa yang aneh. Sehingga kemudian Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan kecemasannya, bercampur-baur dengan perasaan bingung dan pepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s