ORANGTUA itu tersenyum, lalu jawabnya, Aku tahu. Kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu.

Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua itu.

Mahesa Jenar… lanjut orang itu, hati-hatilah kelak akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi. Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan itu.

Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar, Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?

Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil-manggilnya, Paman…, Paman Mahesa Jenar…, di manakah kau Paman…?

Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.

Apa salah anak itu kepadamu Mahesa Jenar? tanya orang tua itu sambil tersenyum.

Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan dan kekalutan pikiran.

Mahesa Jenar… terdengarlah kembali kata-kata orang tua itu, Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu.

Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya, Siapakah sebenarnya Tuan?

Orang tua itu tersenyum.

Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat itu melangkah pergi.

Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan, Paman…, Paman Mahesa Jenar…. Kenapa aku kau tinggalkan sendiri, Paman…?

Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu ia berteriak pula, Arya…, tunggulah Paman segera datang.

Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar, berteriak lebih keras lagi, Paman…, Paman….

Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab, dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.

Arya…. bisik Mahesa Jenar.

Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu. Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.

Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.

Arya… kata Mahesa Jenar, Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis. Diamlah.
Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.

Sudahlah Arya… sambung Mahesa Jenar, Kalau kau terlalu lama menangis kau dapat kemasukan angin.
“Aku takut” kata Arya.
Takut…? tanya Mahesa Jenar. Apa yang kau takutkan?
Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri, jawab Arya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s