TETAPI kemudian, mereka, tetangga-tetangga yang baik itu menjadi tercengang-cengang ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar mohon diri kepada mereka untuk pergi meneruskan perantauannya seperti ketika belum menetap di pedukuhan itu. Para tetangga yang menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang petani yang banyak memberikan sesuluh kepada mereka, menjadi agak kecewa. Kata salah seorang dari mereka, Adakah kami berbuat kesalahan terhadap Angger?

Tidak, Bapak, sahut Mahesa Jenar cepat. Sama sekali tidak.
Atau barangkali Anda marah kepada kami? sambung yang lain, Karena kami tidak dapat melindungi anak Adi?
Juga tidak, jawab Mahesa Jenar. Tidak ada kesalahan saudara-saudara kepada kami.
Lalu kenapa Adi mau pergi? tanya seseorang pula.

Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata, Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari nasibku sendiri.

Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.

Pada suatu saat kami akan datang kembali, kata Mahesa Jenar kepada mereka yang mengantar sampai ke ujung desa.

Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.

Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.

Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata. Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan. Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah perdikan Banyubiru.

Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya. Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di rerumputan yang hijau segar.

Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.

Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.

Arya… kata Mahesa Jenar setelah mereka berjalan bersama-sama. Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh-jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya. Apakah kalau aku berganti nama, orang tak mengenal aku lagi? katanya.

Bukan begitu Arya, jawab Mahesa Jenar. Tetapi setidak-tidaknya orang tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang dapat menemukanmu?

Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, Paman, meskipun namaku sudah diganti, tetapi apabila seseorang berkata tentang seorang anak yang berjalan bersama-sama dengan Mahesa Jenar, bukankah segera orang mengenal aku? Sebab yang selalu berjalan bersama-sama dengan Arya Salaka adalah Mahesa Jenar.

Kau benar-benar cerdas Arya, jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama.

Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.

Nah, Arya… siapakah nama yang pantas buat mengganti namamu? tanya Mahesa Jenar kemudian.

Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, Terserahlah kepada paman.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka.

Arya, kau tahu bahwa namaku adalah Mahesa Jenar.
Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu benar-benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu nama Handaka.

Handaka… ulang Arya, Apakah Handaka itu?

Handaka adalah nama binatang bertanduk pula, jawab Mahesa Jenar. Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s