MENDENGAR uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka dengan bangga ia berkata, Aku pernah mendengar ayah berceritera tentang seekor banteng.
Apa kata ayahmu? tanya Mahesa Jenar.
Banteng adalah binatang yang hebat sekali, jawab Arya.
Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka, kata Mahesa Jenar meneruskan.

Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?
Handaka Sora, seperti nama ayah, usul Arya.

Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu, jawab Mahesa Jenar.

Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar.
Lalu apakah yang baik menurut Paman? tanya Arya Salaka.

Begini Arya… aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah…. Nama lengkapmu adalah Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?

Mata Arya menjadi berkilat-kilat. Bagus… Paman. Bagus sekali. Nah, sejak saat ini aku bernama Bagus Handaka.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, Dan sekarang siapakah namaku?

Terserahlah kepada Paman, jawab Bagus Handaka.

Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk seterusnya.
Baiklah Bapak.

Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan.

Baiklah Bapak Manahan.

Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan.

Tentu Paman… eh… Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus tanah tercinta.

Manahan dengan menepuk pundak Bagus Handaka berkata pula, Bagus Handaka, karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu Lembu Sora.

Adi Sawung Sariti? potong Bagus Handaka.

Manahan mengangguk. Katanya meneruskan, Anak itu pun sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat pula. Karena itu kau jangan sampai kalah.
Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora, jawab Bagus Handaka.

Bagus Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan diri, desis Bagus Handaka.

Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.

Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi gunung serta lembah-lembah.

Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian bernama Bagus Handaka.

Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas. Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan Bagus Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota, mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.

Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam dada mereka.

Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorangpun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Bagus Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Bagus

Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu, sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan-gerakan pembelaan diri dengan segala unsur-unsurnya.

Bagus Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya dapat dikuasainya dengan baik.

Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat. Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Bagus Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s