ORANG yang berkumis dan berjanggut lebat itu agaknya terkejut sekali. Ia tidak mengira bahwa Bagus Handaka akan memulai lebih dahulu. Cepat ia meloncat ke samping. Tetapi Bagus Handaka tidak membiarkannya. Disusullah serangan itu dengan serangan berikutnya. Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga orang asing itu tidak sempat mengelakkan dirinya. Karena itu cepat-cepat ia berusaha menahan serangan Bagus Handaka dengan kedua tangan yang disilangkan di muka dadanya.

Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Bagus Handaka terdorong beberapa langkah surut, tetapi orang itu pun tak dapat bertahan pada tempatnya dan terlempar beberapa langkah pula. Dengan demikian masing-masing mengetahui bahwa kekuatan mereka berimbang. Maka untuk memenangkan pertempuran selanjutnya adalah terletak pada keprigelan dan ketinggian ilmu masing-masing.

Karena itu segera Bagus Handaka mempersiapkan dirinya. Ia merasa bahwa apabila orang itu dapat mengalahkannya, maka taruhannya adalah nyawanya. Ia tidak mau mati bergantungan di tengah-tengah Alas Roban, dan bangkainya nanti akan menjadi makanan burung gagak.

Sesaat berikutnya terjadilah pertempuran yang dahsyat. Masing-masing mempergunakan segenap tenaganya serta segenap ilmunya. Meskipun Bagus Handaka masih terlalu muda untuk melawan orang yang berjanggut dan berkumis lebat itu, namun karena latihan-latihan berat yang pernah dilakukan selama ini, maka ia pun tidak mengecewakan. Sebaliknya orang asing itu pun ternyata bukan pula seperti dua orang yang menyerangnya malam-malam sebelumnya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu berlangsung dengan serunya.

Hanya kadang-kadang saja Bagus Handaka dikejutkan oleh gerakan-gerakan yang aneh-aneh yang dilakukan oleh lawannya. Tetapi karena lawannya itu pun agaknya belum menguasai benar-benar ilmunya itu, sehingga pelaksanaannya masih belum seperti yang diharapkan. Bagus Handaka yang lincah dan kuat itu dapat untuk beberapa kali menyelamatkan diri dari serangan-serangan yang demikian.
Setelah mereka bertempur beberapa lama maka terasalah oleh Handaka bahwa meskipun kekuatan orang itu dapat menyamainya tetapi ia masih dapat membanggakan kelincahannya.

Orang itu agaknya terlalu memberatkan serangan-serangannya pada kekuatan tenaga serta beberapa unsur geraknya yang meskipun berbahaya tetapi belum dapat dilakukannya dengan lancar. Karena itu lambat laun ia merasa bahwa ia akan dapat berhasil mengatasinya.

Sebaliknya orang asing itu akhirnya kehabisan akal. Semua ilmu serta tenaganya sudah dicurahkannya, namun ia sama sekali tidak berhasil menangkap anak yang dicarinya itu. Meskipun beberapa kali ia berhasil mengenai tubuh Bagus Handaka, namun ia sendiri dapat dikenai oleh anak itu dua kali lipat.

Dengan demikian maka sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk memenangkan pertempuran itu. Maka akhirnya orang itu putus asa, dan menyerang membabi buta dengan ilmu andalannya. Dengan demikian bagi Bagus Handaka, malahan menguntungkan sekali. Sebab dengan membabi buta, lawannya telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri serta kewaspadaan. Karena itulah agaknya Bagus Handaka semakin lama semakin berada dalam keadaan yang menguntungkan.

Tetapi hampir seperti kejadian-kejadian pada malam-malam sebelumnya, orang itu pun kemudian meloncat melarikan diri. Juga kali ini Bagus Handaka sama sekali tak berhasil mengejarnya. Apalagi orang aneh yang muncul dari dalam air itu berlari terjun ke dalam air pula.

Ketika orang itu lenyap, Bagus Handaka berdiri bertolak pinggang di batas air. Dadanya melonjak-lonjak dipenuhi oleh kemarahan, keheranan dan kengerian yang bercampur aduk. Tiga malam ia mengalami peristiwa yang disaput oleh kabut rahasia. Apakah kejadian ini akan berlangsung berlarut-larut…?

Tetapi jiwa keingintahuan Bagus Handaka tiba-tiba menguasai perasaannya kembali. Bagaimana dengan malam keempat? Kalau hal ini disampaikan kepada gurunya, mungkin kejadiannya akan berubah. Ia ingin melihat para penyerang itu datang berturut-turut sampai orang yang terakhir. Lalu apakah yang terjadi sesudah itu…?
Demikianlah kembali pada malam keempat. Bagus Handaka mencari-cari alasan untuk tidak terjun ke laut. Kawan-kawannya yang mengajaknya sama sekali tidak curiga bahwa Bagus Handaka sedang melakukan suatu perbuatan yang aneh namun sebenarnya penuh dengan bahaya.

Dan apa yang diharapkan kali inipun benar-benar datang pula.

Dengan penuh pertanyaan di dalam hati Bagus Handaka berjuang dengan sekuat tenaga untuk menangkap penyerangnya. Namun kali inipun ia tidak berhasil. Malahan orang keempat ini berhasil menghantam pergelangan tangan kirinya sehingga terasa sangat sakit. Untunglah bahwa akhirnya ia masih dapat mengalahkan orang itu, meskipun ia tidak pula berhasil menangkapnya.

Demikian pula pada malam kelima. Otak bagus Handaka rasa-rasanya hampir meledak memikirkan hal itu. Apalagi ketika orang kelima ini ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s