TIBA-TIBA tanpa sadar Bagus Handaka telah mempergunakan unsur-unsur gerak yang pernah ditiru-tirukannya dari lawan-lawannya sebelumnya. Cepat ia sedikit merendahkan diri, menangkap tangan orang itu sambil memutar tubuhnya, dan dengan bantuan tenaga berat lawannya. Bagus Handaka menarik orang itu melampau pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terlempar keatas lewat diatas pundaknya dan terbanting di pasir pantai.

Tetapi sekali lagi Bagus Handaka keheran-heranan. Demikian orang itu terbanting, demikian ia bergulung-gulung dan dengan cepatnya bangkit kembali. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa. Karena itu demikian orang itu berdiri, demikian kaki Bagus Handaka terlontar mengenai perutnya.

Sekali lagi orang itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Tetapi seterusnya ketika Bagus Handaka menyusul menyerang dagu orang itu, maka orang itu pun menghantamnya.

Kali ini Bagus Handaka mengalami kembali hal yang sangat merugikannya. Tangannya agak lebih pendek dari tangan lawannya. Dengan demikian sebelum tangannya menyentuh dagu orang itu, terasa wajahnya seperti tersentuh bara. Dengan kerasnya wajahnya terangkat dan ia terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terlentang. Serangan itu disusul dengan suatu serangan yang garang sekali.

Seperti seekor harimau, lawannya menerkam selagi Handaka belum sempat bangun. Maka tidak ada suatu cara yang mungkin untuk membebaskan dirinya kecuali dengan kedua kakinya Bagus Handaka menghantam tubuh orang yang seperti melayang ke arahnya. Akibatnya adalah bebat sekali. Orang itu terlempar ke udara.

Kali ini Bagus Handaka juga menjadi keheran-heranan. Dengan gerak yang bagus orang itu melingkar di udara dan jatuh pada punggungnya untuk kemudian berguling dua kali. Setelah itu dengan cepatnya ia meloncat berdiri.

Pada saat itu Bagus Handaka pun telah berdiri. Keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, yang hampir seluruhnya terbalut oleh debu-debu pasir pantai.
Sebenarnya Bagus Handaka pada saat itu telah menjadi gelisah sekali. Lawannya ternyata benar-benar licin seperti belut.

Tetapi kemudian terjadilah suatu hal di luar dugaan. Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah dan liar. Nafasnya mengalir dengan derasnya. Bagus Handaka melihat keadaan itu, sehingga kelegaan membersit di hatinya.

Ia tahu bahwa lawannya telah kehabisan tenaga. Karena itu ia tidak mau memberi kesempatan lagi. Cepat ia melangkah maju dan menyerangnya dengan hebat.
Ternyata orang itu telah hampir tidak mampu melawannya. Beberapa kali Bagus Handaka berhasil menghantamnya sampai orang itu terhuyung-huyung dan roboh. Sekali lagi kegembiraan membayang di wajah Bagus Handaka. Orang yang hebat ini pasti akan dapat ditangkapnya.

Tetapi ketika sekali lagi ia maju menyerang, tiba-tiba orang itu melemparkan segenggam pasir ke arah matanya. Cepat-cepat Handaka memalingkan mukanya, namun beberapa butir pasir telah menyebabkan matanya terasa nyeri sekali. Ketika ia sedang sibuk membersihkan mata itu, terasa sebuah hantaman mengenai punggungnya.

Untunglah bahwa tenaga orang itu, telah hampir separo lenyap, sehingga dengan demikian hantamannya telah tidak lebih dari sebuah dorongan saja. Meskipun demikian, karena Bagus Handaka sama sekali tidak menduga bahwa lawannya akan berbuat curang, menjadi sangat terkejut dan jatuh tertelungkup.

Dengan marahnya Handaka cepat memutar tubuhnya, untuk menanti serangan berikutnya, yang dapat saja dilakukan dengan curang oleh lawannya itu.
Tetapi Bagus Handaka menjadi terkejut sekali sehingga tubuhnya menjadi gemetar.

Orang yang sudah kehabisan tenaga dan hampir saja dapat ditangkapnya itu lenyap seperti debu dibawa angin. Beberapa kali Bagus Handaka mengusap-usap matanya yang masih terasa agak nyeri, tetapi orang itu benar-benar telah lenyap.

Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di atas pasir. Dilayangkannya pandangannya ke segenap malam, tetapi di pantai yang luas itu, pastilah ia tak dapat melihat seseorang. Bulu tengkuknya tiba-tiba terasa meremang. Meskipun ia selama ini mendapat didikan untuk tidak takut kepada hantu, namun mengalami peristiwa ini, hatinya bergetar juga.
Kecuali itu, terasa pula kengerian merayapi perasaannya. Untunglah kali ini ia masih dapat membebaskan diri, meskipun hampir saja ia kehilangan akal.
Lalu bagaimana dengan malam besok?

Sekarang Bagus Handaka tidak berani main-main lagi. Kalau besok datang seseorang menyerangnya, dan memiliki sedikit saja kelebihan dari orang ini, maka pasti ia tidak dapat melawannya. Sedangkan kalau para penyerang itu dapat menangkapnya, hampir pasti bahwa dirinya benar-benar akan digantung di tengah-tengah Alas Roban.
Karena itu akhirnya Bagus Handaka memutuskan untuk menyampaikan segala peristiwa yang pernah dialami itu kepada gurunya, serta menyerahkan segala penyelesaiannya kepadanya.

Pada saat Bagus Handaka melangkah pulang ke pondoknya, terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Di langit sebelah timur sudah mulai tampak membayang warna fajar, diantar oleh angin pagi yang sejuk.

Namun tubuh Bagus Handaka justru mulai merasa nyeri dan sakit-sakit. Empat malam sebelumnya ia bertempur terus-menerus, tetapi tidak pernah ia merasakan lelah, letih dan sakit-sakit seperti saat itu.

Sampai di pondok, ia melihat Manahan telah bangun dan menunggui api. Agaknya ia sedang merebus air. Cepat-cepat Bagus Handaka mendekatinya dan berkata, Bapak, biarlah aku yang merebus air dan jagung.
Manahan tersenyum melihat kedatangan Bagus Handaka. Apakah kau turun ke laut Handaka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s