DENGAN otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus Handaka mencoba sedapat-dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di atas pasir pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya kembali…?

Ternyata Manahan tidak berbuat demikian. Juga ternyata gurunya itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian gurunya itu duduk pula di sampingnya dan dengan wajah yang jernih berkata, Sudahkah kau ingat keenam orang yang menyerangmu?

Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja, Sudah, Bapak.
Baik… sahut Manahan, Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari kelima orang itu, sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi kau belum pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang yang menyerangmu itu.

Untuk sesaat Bagus Handaka jadi termenung. Memang selama itu ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu. Maka dicobanya sekali lagi untuk membayangkan kembali kelima orang itu berturut-turut.

Bagaimanakah dengan orang yang pertama? tanya Manahan.

Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka menjawab, Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.

Orang kedua? desak Manahan.

Dengan mengingat-ingat mengerti sepenuhnya maksud pertanyaan gurunya, karena itu setelah merenung beberapa lama ia menjawab hampir berteriak, Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.

Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu? tanya Manahan pula.

Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia berkata, Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.

Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda? desak Manahan.

Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba Handaka menjadi ragu. Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya malam, wajah-wajah mereka tampak berbeda-beda.

Sayang, aku tak dapat menangkapnya, gumam Bagus Handaka.

Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya, Inginkah kau menangkapnya?

Ya, jawab Handaka. Aku ingin tahu kenapa mereka menyerang aku.

Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh? tanya Manahan pula.

Bagus Handaka menatap Manahan dengan pandangan yang aneh. Apa yang terjadi lima malam berturut-turut telah cukup memusingkan kepalanya. Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya menjadi semakin kabur dan penuh teka-teki.

Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan, Handaka…. Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai persamaan bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi untuk dapat menangkapnya.

Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Tetapi orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang yang belum memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan yang besar untuk dapat menangkapnya.

Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum. Meskipun demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?

Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.

Jangankan kau Handaka, sambung Manahan, Sedang aku pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.

Mendengar perkataan itu Handaka terkejut bukan main, sampai ia tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan kebingungan yang memenuhi hatinya.
Handaka… kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, Sudah sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.

Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama, meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula.

Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa yang aku lakukan, tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan. Otakku masih cukup sehat untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sedang apa yang aku lakukan, adalah untuk meyakinkan dugaanku terhadap keenam orang yang telah menyerangmu enam malam berturut-turut. Dengan caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang yang datang berturut-turut itu.

Guru… potong Handaka dengan penuh haru, Jadi Bapak tidak benar-benar mau membunuhku?

Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu. Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, Kenapa aku akan membunuhmu?
Bukankah Bapak sendiri berkata demikian? jawab Handaka.
Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu? tanya Manahan pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s